Politisi yang Bertemu Malaikat di Tengah Kebakaran Hutan

Sebuah Cerpen oleh:  Satrio Arismunandar*

Penulis Cerpen Remaja dan Ketua Dewan Pengawas Perkumpulan Penulis Indonesia SATUPENA (Foto: Satrio. A)

Sepuluh Detik

Dari ketinggian seribu kaki– Kalimantan tampak seperti kain batik yang dibakar pelan-pelan dari pinggir. Asap naik dalam tiang-tiang kelabu, bertemu di langit, lalu menutup matahari hingga tinggal piringan jingga yang tak punya tenaga. “Sedikit lagi ke kiri, Pak,” kata Raka, staf humas yang tak ikut naik. Suaranya terdengar dari radio, tipis dan gugup. “Helikopter kameranya sudah di posisi. Bapak menghadap jendela, ekspresi prihatin, tangan menunjuk ke bawah. Kita ambil sepuluh detik saja.”

Khalid Karomah, Ketua Umum Partai Progresif Bersatu sekaligus Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup, menoleh ke jendela. Dia sudah hafal wajah ini. Alis sedikit turun, rahang mengeras, mata menerawang jauh, wajah seorang pemimpin yang “menanggung beban rakyat di pundaknya”.  Dia pernah memakai wajah yang sama di depan banjir, di depan gempa, dan di depan jenazah buruh tambang. Tiga tahun lalu, seorang fotografer pernah memujinya: Bapak ini kalau menunjuk, kelihatan betul-betul sedih. “Pak Salim,” katanya pada pilot, tanpa menurunkan telunjuk. “Turunkan sedikit. Biar kelihatan apinya.”

Pilot helikopter itu– lelaki kurus berusia empat puluhan dengan topi lusuh dan jam tangan murah, melirik indikator, lalu menggeleng halus. “Asapnya tebal, Pak. Visibilitas jelek. Panas dari bawah bikin angin tidak stabil.” “Sebentar saja.” Salim diam sebentar. Dia memikirkan sesuatu yang tidak diucapkannya, mungkin soal cicilan, mungkin soal siapa yang membayar sewa helikopter ini. Lalu dia menurunkan tuas. Mereka masuk ke dalam asap.

Gambut

Pertama terdengar adalah suara mesin yang berubah nada, dari dengung menjadi batuk, lalu menjadi sesuatu yang mirip orang tersedak. Lampu merah menyala di panel. Salim mengumpat pendek dan memutar kemudi dengan seluruh tubuhnya. “Pegangan, Pak!” Khalid tidak ingat apa yang dia pegang. Dia hanya ingat dunia berputar, kelabu dan jingga bergantian, lalu bunyi logam yang dipaksa robek, lalu gelap.

Ketika matanya terbuka, dia sedang tertelungkup di atas tanah gambut yang hangat. Hangat yang salah. Udara berbau karet terbakar dan daging hangus, dan dia sadar sebagian bau itu berasal dari lengan jasnya sendiri.  Dia merangkak menjauhi bangkai helikopter yang miring di antara batang-batang pohon hitam. Di kokpit, Salim terkulai dengan kepala bersandar di kaca yang retak, kakinya terjepit rangka.

Api mengepung dari tiga arah. Tidak seperti api di film, api gambut tidak berlari– dia merayap dari bawah, membuat tanah berasap, mendesak pelan-pelan. Radio di sakunya hancur. Tidak ada sinyal. Di kejauhan, entah sejauh apa, suara baling-baling helikopter kamera terdengar, lalu menjauh, mungkin mencari-cari lokasi yang salah. Khalid duduk bersandar pada sebatang pohon yang sudah mati. Dia tahu apa yang akan datang. Dia hanya heran betapa tenangnya dia saat memikirkannya. “Jadi begini,” bisiknya pada diri sendiri, “tidak ada kamera.”

Pria Berbaju Putih

Ada hujan yang tidak jatuh– begitulah Khalid kemudian akan berusaha menjelaskan, seandainya dia ingat. Di tengah panas yang membuat udara bergetar, dia mencium bau tanah basah, bau pertama hujan di tanah kering– dan di bau itu, tepat di antara dirinya dan dinding api, udara membuka diri seperti kain yang dilipat.

Tidak ada cahaya yang menyilaukan, tidak ada sayap seperti dalam lukisan di dinding gereja atau buku-buku pelajaran agama– yang berdiri di sana adalah seorang pria. Dia tampan dengan cara yang membuat Khalid, yang seumur hidup dikelilingi wajah-wajah yang dipoles untuk kamera, merasa malu pada kata tampan itu sendiri. Usianya sulit ditebak, tidak muda dan tak tua. Kulitnya bersih, rahangnya tenang, matanya teduh dan jernih, dan raut wajahnya sejuk seperti telaga di pagi hari, yang tidak sedang menunggu untuk dipandang.

Dia mengenakan baju putih, putih yang bersih tanpa setitik noda, tanpa abu gambut di ujung lengan, tanpa jelaga di kerah, tanpa selembar kerut. Di tengah hutan yang terbakar, di atas tanah yang masih mengepulkan asap, pakaian seputih itu mustahil ada. Justru kemustahilan itulah yang meyakinkan Khalid bahwa ia tidak sedang berhalusinasi, sebab halusinasi, pikirnya, tidak akan serapi ini.

Lalu dia merasakan hal berikutnya: panas itu surut. Hawa sekitar yang tadi membakar paru-parunya mendadak sejuk, sejuk seperti udara subuh di kaki gunung, seolah api di sekeliling mereka hanya lukisan yang digantung jauh di belakang. Dia menarik napas, dan untuk pertama kalinya sejak helikopter jatuh, dadanya tidak perih– dan sunyi. Tidak ada derak batang terbakar, tidak ada desis gambut, tak ada dengung baling-baling dari kejauhan. Seakan momen pertemuan ini dipotong dari dunia dan dilipat ke dalam gelembung tersendiri, terisolasi dari kebakaran yang masih berlangsung tanpa suara di luar tepinya.

Di balik bahu pria itu, Khalid masih bisa melihat bangkai helikopter dan Salim yang tergeletak pingsan di kokpit, dadanya naik turun lemah, seperti seseorang yang menunggu di ruangan lain. “Khalid Karomah,” kata pria berbaju putih itu. Suaranya tenang dan dekat, tanpa gema, seolah diucapkan oleh seseorang yang duduk di sebelahnya.

Khalid ingin berdiri, tapi tubuhnya menolak– dia hanya bisa bertanya, dengan suara serak, “Apakah kau malaikat? Saya sudah mati?” “Kau boleh menyebutku begitu, jika mau — tetapi sederhananya, tugasku hanyalah sebagai penyampai pesan. Kau belum mati, Khalid–tetapi sebentar lagi kau akan harus memilih.” “Memilih apa?” “Aku diperintahkan menyelamatkan satu nyawa dari tempat ini. Hanya satu.” Pria itu menoleh sedikit, dan Khalid, mengikuti arah pandangnya, kembali melihat bangkai helikopter tempat Salim terkulai tidak sadarkan diri. “Dia, atau kau. Kau yang memilih.”

Khalid terdiam lama. Di balik punggung pria itu, dinding api terus bergerak tanpa suara, seperti api kebakaran dalam film bisu. “Kenapa saya yang memilih?” “Karena seumur hidupmu, kau hanya memilih untuk dilihat. Untuk tampil–tetapi hari ini tidak ada yang melihat. Pilihlah.” Kalimat itu masuk seperti paku. Khalid tertawa kecil, dan tawa itu berubah menjadi batuk panjang. “Saya tidak tahu apakah saya masih tahu caranya,” katanya. “Maka mulailah dengan menjawab pertanyaan yang kau takuti.” Pria itu tak mengubah sikap. “Apa yang ada di bawah semua tampilan itu?”

Sekotak Lauk

Khalid– yang selama dua puluh tahun menjadi orang yang paling lancar berbicara di ruang mana pun, mendapati bahwa tidak ada satu pun kalimat siap pakai di mulutnya. Ada wajah di bawah wajah, pikirnya. Ada senyum yang dilatih di depan cermin sebelum pelantikan pertama. Ada tangis di pemakaman seorang buruh, yang dia sadar baru keluar setelah dia ingat betapa bagusnya foto itu kelak.

Ada pidato-pidato tentang pemerintahan yang bersih, diucapkan dengan telunjuk teracung dan suara bergetar, sementara di laci yang lain tersimpan komisi dari para pemegang konsesi, yang ia sebut “uang terima kasih”, “ongkos koordinasi”, apa saja kecuali namanya.  Ada tanda tangan di atas selembar izin konsesi untuk lahan yang kini sedang terbakar di sekelilingnya, tanda tangan yang dibubuhkan setelah makan malam yang dibayar orang lain. Ada doa-doanya yang selalu fasih, selalu dibacakan dengan jeda yang tepat, selalu menghadap ke arah kamera sebelum menghadap ke arah Tuhan.

Ada foto keluarga. Istrinya digandeng di karpet merah acara partai, ketiga anaknya berbaris dengan busana senada setiap Lebaran, dan kartu ucapan tahunannya selalu bertuliskan bahwa keluarga adalah fondasi bangsa. Rumah tangga harmonis itu produk yang dikerjakan tim humas dan dipajang tiap musim kampanye.

Di balik foto-foto itu ada makan malam yang tidak lagi bicara, ada kamar yang lama dingin, dan ada seorang perempuan lain di sebuah apartemen yang kuncinya hanya dia yang pegang. Perempuan yang dalam hatinya dia sebut pacar simpanan, tetapi tidak pernah dia sebut dengan kata apa pun di depan siapa pun. Ibadahnya pun begitu. Puasa Senin-Kamis yang selalu terkabar di media sosial, salat Jumat di saf paling depan dengan wartawan berdiri tiga langkah di belakang, sujud yang dia tahu berapa detik idealnya agar tertangkap lensa. Pernah dia menyuruh ajudan memberi tahu fotografer sebelum dia berangkat ke masjid.

Ibadah yang seharusnya paling sunyi baginya adalah acara yang paling ramai, dan dia tidak pernah sekali pun menangis di atas sajadah ketika tak ada saksi. Dan ada ayat. Dia hafal puluhan ayat tentang amanah, tentang larangan memakan harta yang bukan hak, tentang kewajiban menjaga bumi dan tidak berbuat kerusakan di atasnya. Dia mengutipnya di mimbar, di pembukaan rapat kerja, di penutup sambutan, begitu fasih hingga orang menjulukinya “menteri yang berhati ulama”–tetetapi tidak satu pun ayat itu pernah menyentuh tangannya ketika tangan itu menandatangani sesuatu. Dia memakai kitab suci seperti memakai kartu identitas: untuk lewat, bukan untuk sampai.

“Semua itu bohong,” katanya akhirnya. Dia terkejut karena suaranya sendiri tidak bergetar. “Bukan bohong yang besar. Justru karena kecil-kecil dan banyak, saya tidak pernah merasa sedang berbohong. Saya hanya  mengatur tampilan.” “Dan yang di bawahnya? Di bawah semua tampilan itu?”

“Tidak tahu.” Khalid menunduk. “Mungkin tidak ada apa pun. Mungkin saya hanya kumpulan tampilan, kumpulan pencitraan.” Pria itu diam, tidak membantahnya, dan justru itulah yang membuat dada Khalid sakit, lebih sakit daripada luka bakar di lengannya. Tidak ada penghiburan. Tidak ada vonis. Hanya kesediaan untuk menunggu jawaban. “Kalau begitu,” kata Khalid pelan, “izinkan saya sekali saja melakukan sesuatu yang tidak untuk dilihat siapa-siapa.” “Itulah yang sejak tadi kutawarkan padamu.”

Khalid mengangkat wajah. “Tetapi kenapa saya? Setelah semua kepalsuan selama bertahun-tahun itu, kenapa saya masih diberi kesempatan?” Pria itu diam sebentar, dan kesejukan di sekeliling mereka terasa makin dalam. “Karena dalam catatan kami, ada satu hal dalam hidupmu yang tidak pernah kau ceritakan kepada siapa pun. Kau sendiri bahkan sudah lupa.” “Satu hal?”

“Umurmu waktu itu empat belas tahun, kelas dua SMP. Pagi itu kau berjalan ke sekolah melewati kampung kumuh yang baru semalam terbakar. Abu masih turun seperti hujan kecil. Di pinggir jalan, seorang anak yang lebih kecil darimu duduk memeluk lutut, bajunya hangus di satu sisi, rumahnya habis terbakar menjadi arang di belakangnya, perutnya sudah sehari semalam kosong.” Suaranya tidak naik dan tidak turun. “Kau membawa kotak bekal dari ibumu: telur balado, ayam goreng, tempe orek. Kau membukanya di tempat itu juga dan memberikan semua bekalmu. Tidak ada yang kau sisakan untuk dirimu sendiri.”

Di kepala Khalid, sesuatu yang terkubur puluhan tahun mendadak terbuka di ingatannya: bau abu basah, tangan kecil yang gemetar menerima kotak bekal, mata anak itu yang tidak berkata apa-apa karena terlalu lapar untuk berterima kasih. Dia ingat dirinya berjalan ke sekolah dengan perut yang berbunyi, dan ingat betapa ringannya langkahnya pagi itu.

“Tidak ada yang melihat,” lanjut pria itu. “Kau tidak berharap diingat. Kau bahkan tidak merasa sedang berbuat baik. Kau hanya tidak tahan melihat anak itu lapar. Itulah pertama dan terakhir kalinya hidupmu seluruhnya milik-Nya, tanpa tampilan, tanpa sisa untuk dirimu sendiri.” “Hanya itu?” Suara Khalid pecah. “Setelah semua yang saya lakukan?”

“Hitunganmu tidak pernah seimbang, dan Dia tahu itu–tetapi dia tidak pernah melupakan sesuatu yang dilakukan tanpa saksi–untuk sekotak lauk itulah pintumu masih ditahan terbuka.” Khalid tidak sanggup menjawab. Dia menoleh ke arah Salim. Lelaki kurus itu masih bernapas, dadanya naik turun lemah. Di saku bajunya yang sobek menyembul sebuah dompet kecil, dan dari dompet itu mencuat sebuah foto: tiga anak kecil berseragam sekolah dan seorang perempuan berjilbab yang tersenyum letih.

Khalid tidak pernah menanyakan pilot itu punya anak atau tidak. Selama setengah jam di udara tadi– dia bahkan tidak tahu pilot itu bernama Salim sebelum diperkenalkan oleh Raka. Di seberang pikirannya, Khalid melihat rumahnya sendiri: istri yang akan menangis dengan benar, anak-anak yang akan menerima warisan, rekening yang tidak akan habis hingga cucu-cucunya tua, dan karangan bunga setinggi pagar dari seluruh partai jika dia meninggal.

Perhitungannya sederhana. Salim lebih butuh hidup daripada dirinya– dan justru karena sederhana, Khalid curiga pada dirinya sendiri. “Bahkan sekarang,” katanya lirih, “saya tidak tahu apakah dorongan ini tulus, atau hanya cara terakhir saya mencari muka di depan Tuhan.”

Pria itu tidak menjawab, dan diamnya terasa seperti ruang yang disediakan, bukan tembok. Khalid menelan ludah yang terasa asing di tenggorokan yang sejuk. “Boleh saya bertanya satu hal? Kalau saya berkorban untuk Salim, kalau saya yang mati dan dia yang hidup, apakah saya akan masuk surga?”

Sudut bibir pria itu terangkat sedikit, bukan karena mengejek. “Itu bukan kewenanganku. Aku tidak diberi hak menjanjikan surga atau bukan surga kepada siapa pun, apa pun yang kau bayangkan tentang surga itu.” “Jadi bisa saja semuanya sia-sia?” “Dengarlah dirimu bertanya.” Nada pria itu tetap lembut. “Bahkan di tepi api, kau masih menanyakan harganya. Kau memperlakukan pilihan ini seperti setoran: nyawa ditukar tiket.”

Khalid menunduk. Wajahnya panas, dan dia sadar panas itu bukan lagi berasal dari api. “Namun akan kukatakan apa yang aku ketahui,” lanjut pria itu. “Seperti pada pagi ketika kau masih kecil dan memberikan lauk itu, satu perbuatan yang ikhlas, tulus, dan otentik jauh lebih berarti daripada seribu perbuatan yang penuh kepalsuan.” “Tapi saya juga pernah berbuat baik,” Khalid membela diri, dan dia benci betapa cepat pembelaan itu keluar. “Saya membangun sekolah di pedalaman. Saya membagikan sembako setiap Ramadan. Saya meresmikan program tanam sejuta pohon.”

“Aku tidak mengatakan kau tidak pernah punya niat baik. Kau punya, dan niat itu tidak pernah mati sepenuhnya.” Pria itu menatapnya tanpa penghakiman. “Tetapi hampir tidak ada yang berdiri sendiri. Niat baikmu tercampur begitu rupa dengan kepentingan egomu, ingin dipuji, ingin dipilih, ingin disebut, dan dengan hawa nafsumu, ingin menang, ingin memiliki, ingin dikenang. Seperti air jernih yang dituang ke dalam kubangan: ia masih air, tapi tak seorang pun bisa meminumnya.”

Khalid terdiam lama—Dia  teringat sekolah di pedalaman itu, dan sadar bahwa yang paling dia hafal bukan wajah murid-muridnya, melainkan sudut kamera saat dia memotong pita. “Kalau begitu,” katanya akhirnya, hampir seperti anak kecil yang menawar, “tidak bisakah kami berdua selamat?” “Perintahnya hanya satu nyawa.” “Dan tidak ada jaminan apa pun untuk saya?” “Tidak ada.”

Khalid memejamkan mata. Dia menunggu rasa takut datang menghantam, sebab begitulah yang dia kira akan terjadi bila tidak ada jaminan apa pun– tetapi yang datang justru kesunyian yang aneh.  Dalam kesunyian itu dia melihat bahwa seluruh hidupnya adalah rangkaian transaksi, dan baru kali ini dia dihadapkan pada pilihan yang tidak menawarkan imbalan apa pun, bahkan imbalan di akhirat. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia berhadapan dengan sebuah pilihan yang tidak membutuhkan penonton. “Selamatkan dia,” kata Khalid. “Kau yakin? Dia bukan siapa-siapa bagimu.”

“Dia bapak dari tiga anak yang belum selesai sekolah.” Khalid menarik napas, dan asap membakar tenggorokannya. “Keluarga saya akan sedih. Tetapi mereka akan baik-baik saja. Keluarganya tidak. Dan… dan saya ingin satu kali saja memilih sesuatu yang tidak bisa saya pamerkan.” Dia menyandarkan kepala pada batang pohon mati itu. Aneh, pikirnya, ketakutan yang sejak tadi menahan dadanya mulai mengendur. Bukan karena api menjauh, melainkan karena dia tidak lagi sedang bernegosiasi dengan siapa pun. “Saya ikhlas,” katanya. Dan kata itu, kata yang selama ini dia pakai sebagai penutup pidato, untuk pertama kali terasa berat dan benar di lidahnya.

Kau Lulus

Hujan yang tidak jatuh itu menjadi lebih pekat. “Kau lulus,” kata pria itu, dan kali ini ia tersenyum sungguh-sungguh. “Yang diminta darimu bukan kematian, Khalid. Yang diminta hanya satu tindakan yang tidak kau ambil gambarnya.” “Tetapi katamu hanya satu nyawa…” “Itu yang diperintahkan untuk kutawarkan. Bukan yang diperintahkan untuk kuputuskan.”

Pria itu mendekat, dan Khalid merasakan sesuatu yang sejak lama tidak dia rasakan: dipeluk tanpa diminta apa pun sebagai balasan. “Kau akan lupa semua ini. Lupa tentang pertemuan kita dan semua percakapan ini. Itu bagian dari perjanjiannya– kKarena kalau kau ingat, kau akan menjadikannya cerita, dan cerita itu akan menjadi tampilan lagi.” “Lalu bagaimana saya…” “Bukan ingatan yang akan mengubahmu. Yang akan mengubahmu adalah hal yang sudah terjadi di dalam dirimu barusan.”

Langit di atas gambut terbuka. Hujan yang tadinya hanya bau, kini jatuh sungguhan, deras dan dingin, memadamkan api dalam radius yang tak masuk akal. Khalid memejamkan mata, dan tepat sebelum gelap datang, ia mendengar baling-baling dari kejauhan, kali ini mendekat.

Mukjizat

Tiga hari kemudian, Khalid terbangun di ruang rawat sebuah rumah sakit di Palangkaraya, dengan lengan terbalut dan seorang dokter muda yang berkali-kali mengucapkan kata mukjizat. Helikopter jatuh di zona tertutup hutan gambut, jelas dokter itu. Tim SAR menemukan mereka berdua, tergeletak berdekatan di tanah yang basah, di tengah lingkaran hutan yang masih membara. Hujan turun hanya di area itu, nyaris seperti ada yang menuangkannya dari ember. Banyak orang di media sosial menyebutnya keajaiban.

Khalid mendengarkan semua itu dengan perasaan aneh. Dia merasa seperti baru pulang dari tempat yang jauh sekali, tetapi tidak bisa mengingat tempat itu. Hanya ada satu hal yang tertinggal: kelegaan yang sangat asing, seperti sebuah beban yang telah diangkat tanpa dia sempat melihat bentuknya. Raka datang dengan tiga ponsel dan satu proposal. “Pak, tim kami sudah siapkan. Konferensi pers dari rumah sakit, Bapak di kursi roda, perban kelihatan, narasi pemimpin yang selamat dari api untuk rakyat. Elektabilitas bisa naik sepuluh poin.”

Khalid memandangnya lama. Lalu dia berkata, hal yang tak pernah dia katakan dalam dua puluh tahun karier politiknya: “Tidak usah.” “Tidak usah… apanya, Pak?” “Konferensi persnya. Fotonya. Semuanya.” Dia menatap perban di lengannya. “Tolong ambilkan saya berkas izin konsesi yang tahun lalu saya tanda tangani di Kalimantan Tengah. Semua. Dan carikan alamat keluarga Pak Salim.” Raka, yang sepuluh tahun ikut ke mana pun Khalid pergi, tampak seperti seseorang yang tiba-tiba mendengar bahasa asing keluar dari mulut ibunya sendiri.

Tidak Ada Siapa-Siapa

Minggu-minggu berikutnya, kabar demi kabar merambat dari kementerian. Sebelas izin konsesi dicabut. Dua perusahaan besar diperiksa. Seorang dirjen mengundurkan diri sebelum diminta. Di partai, orang-orang berbisik bahwa sang ketua umum terbentur kepalanya di kecelakaan itu. Para sekutunya gelisah; para wartawannya bingung mencari pola yang tidak ada. Khalid sendiri tidak punya penjelasan. Dia tidak bisa menceritakan alasannya, sebab dia memang tak ingat apa-apa. Dia hanya tahu bahwa setiap kali jarinya hendak membubuhkan tanda tangan pada sesuatu yang dia tahu tidak benar, ada hujan kecil yang menetes di dalam dadanya, dan tangannya berhenti.

Suatu sore, dia datang sendirian, tanpa ajudan, tanpa kamera, ke sebuah rumah kontrakan sempit di pinggiran Banjarmasin, dengan dua kotak donat dan sekantong bolu gulung di tangan. Dia membelinya sendiri di toko roti dekat gang, mengantre di belakang seorang ibu yang tak menoleh sedikit pun.  Salim membukakan pintu dengan kaki masih berbalut gips, tiga anaknya mengintip dari balik gorden. Kotak-kotak donat itu akhirnya berpindah ke tangan si bungsu yang lebih dulu memberanikan diri keluar, dan sebentar kemudian ketiganya sudah duduk bersila di lantai teras dengan gula halus di ujung hidung.

“Sekadar silaturahmi,” kata Khalid, canggung, dan baru sadar betapa lamanya dia tidak membawa buah tangan untuk siapa pun tanpa memikirkan siapa yang akan melihatnya. Mereka berbicara lama di teras, dua lelaki yang tidak punya urusan lagi selain keduanya masih hidup. Tidak ada janji uang atau jabatan. Khalid hanya bertanya apakah sekolah anak-anaknya aman, dan mengangguk saat Salim bercerita.

Menjelang magrib, saat Khalid hendak pamit, Salim menahannya dengan satu pertanyaan, dengan nada orang yang sudah berminggu-minggu menyimpan teka-teki kecil. “Pak,” katanya ragu, “waktu di hutan itu, saya setengah sadar– tetapi saya ingat Bapak bicara dengan seseorang. Lama sekali. Bapak bicara dengan siapa?”

Khalid mengerutkan dahi. Dia mencari-cari di kepalanya, dan yang dia temukan hanyalah ruang lapang yang berbau tanah basah. “Dengan siapa?” ulangnya pelan. “Tidak ada siapa-siapa, Pak Salim. Saya sendirian.” Salim mengangguk, tidak membantah– dari kejauhan, awan mendung menggantung di atas atap-atap seng, dan angin membawa bau yang aneh untuk musim kemarau– bau hujan yang belum jatuh. Khalid menengadah. Dia tidak tahu kenapa matanya basah. Dia hanya tahu bahwa untuk pertama kalinya dalam hidupnya, tidak ada seorang pun yang memotret momen itu, dan dia sama sekali tidak keberatan.

Catatan: Cerpen ini ditulis dengan bantuan Claude AI–namun ide cerita, karakter tokoh, plot, dan penentuan ending adalah dari penulis sendiri.

*Penulis Cerpen Remaja dan Ketua Dewan Pengawas Perkumpulan Penulis Indonesia SATUPENA

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Banner Website