Helmi Hidayat, M.SI*
Jurnalis Senior dan Dosen Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatulllah Jakarta (Foto: Dok. Helmi Hidayat)
Ketika di grup Whatsapp seseorang mengirim gambar satu mobil dikuasai segerombolan kunyuk, saya langsung teringat tulisan Plato “The Ship of State” — Kapal Negara. Dalam tulisan itu, sang filsuf memberi peringatan keras jika satu negara diserahkan pada orang-orang tolol yang cuma bisa pidato, negara tidak ubahnya Republik Tepung – megah dari luar, rapuh ditekan!
Dalam sindirannya itu, Plato mengibaratkan negara tidak ubahnya kapal laut. Di kapal itu para pelaut berebut kemudi, pandai berkelahi untuk mendapatkan kemudi, tetapi tidak satu pun dari mereka pernah belajar navigasi, membaca bintang, atau memahami angin. Begitu mereka berkuasa, kapal itu hanya berputar-putar di pelabuhan.
Dalam artikel yang disisipkan dalam bukunya yang berjudul ‘’Politeia’’ itu– Plato tidak menggunakan kata ‘’monyet’’ atau ‘’kunyuk’’ untuk melukiskan orang-orang yang berebut kemudi kapal itu seperti yang diilustrasikan foto yang disertakan dalam tulisan ini, tetapi menggunakan kata yang lebih kasar: demagog!
Kata ‘’demagog’’ awalnya netral, tetapi kemudian mengandung makna pejoratif yang berarti para pemimpin yang cuma pandai pidato dengan nada menghasut rakyat, tetapi tidak pandai mengurus negara setelah memenangkan konstestasi!
Athena setelah ditinggal wafat Pericles (495 – 429 SM) adalah negara tepung yang digambarkan Plato sambil menangis itu. Sejarawan Thucydides mencatat, ketika Athena dilanda perang Peloponnesos berkepanjangan, Pericles sang jenderal sekaligus orator ulung di saat yang sama wafat akibat wabah, Athena benar-benar defisit pemimpin.
Benar, di zaman itu filsuf Anaxagoras hidup, tetapi dia lebih tampil sebagai akdemisi ketimbang politisi. Akibatnya ruang politik kenegaraan kosong. Kekosongan politik ini kemudian diisi oleh Cleon–tetapi dia hanya pedagang kulit yang lantang di mimbar mengobarkan peperangan. Thucydides dan Aristophanes menggambarkannya sebagai tokoh yang keras tapi tidak punya strategi.
Kebalikan dari Cleon adalah Nicias– dia kaya-raya, tetapi sangat hati-hati dan peragu– karena takut disalahkan, dia sering menunda keputusan penting. Tentu ada akademisi cerdas dan karismatik, murid langsung Socrates pula, namanya Alcibiades–tetapi sayang dia sangat opportunis. Hari ini dia membela Athena, besok membela Sparta, lusa membela Persia. Tokoh keempat paling populer di Athena saat itu adalah Cleophon–tetapi dia hanya pembuat alat musik Lyre yang berkampanye melanjutkan perang hanya karena pabriknya untung dari peperangan itu.
Keempat tokoh itu punya satu kesamaan– jago memenangkan voting di Majelis Rakyat (Ekklesia), tetapi gagal total mengelola logistik, keuangan, dan aliansi. Maka, zaman keemasan Athena di bawah Pericles yang membangun Parthenon pun sirna pelan-pelan, untuk kemudian melahirkan ‘’monyet-monyet’’ yang menguasai ‘’kendaraan’’ tetapi tidak mampu menjalankan kendaraan itu.
Akibatnya, selama 25 tahun sejak Pericles wafat tahun 429 SM sampai 404 SM– ketika Athena menyerah kepada Sparta, negeri besar itu hancur bukan akibat digempur militer Sparta, melainkan akibat bunuh diri pelan-pelan. Selama 25 tahun itu, Athena sebenarnya masih terlihat seperti imperium besar: punya armada, punya tembok, punya upeti– tetapi dari dalam negeri ini menyulap diri sendiri menjadi negeri tepung: kas kosong, pemimpin gonta-ganti karena fitnah, keputusan perang diambil karena siapa yang teriak paling keras di Agora, bukan karena data!
Puncaknya terjadi ketika Ekspedisi Sisilia (415-413 SM) diputuskan – satu keputusan paling bodoh dalam sejarah Athena, tidak ubahnya orang punya mobil tetapi memaksakan mobil itu untuk menyeberangi lautan. Seluruh armada Athena saat itu hancur. Padahal, secara ekonomi, budaya, dan angkatan laut, Athena jauh lebih kuat dari Sparta.
Sparta menang perang melawan Athena, tetapi bukan karena Sparta lebih kuat, melainkan karena Athena pelan-pelan menghancurkan dirinya sendiri dari dalam. Sparta menerapkan strategi perang ‘’Lysander’’: tidak menyerang Athena saat negeri itu kuat, tetapi menunggu sampai para demagognya saling menjatuhkan, sampai rakyatnya lelah dengan janji-janji manis, sampai kapal itu dikemudikan oleh ‘’kunyuk-kunyuk’’ yang tidak tahu cara berlayar.
Jangan salah duga– saat ini saya tidak sedang membicarakan Republik Indonesia. Sekali lagi, tidak. Indonesia adalah negeri moderen yang sangat luas dan kaya-raya, yang lahir dari darah dan pengorbanan para pahlawan dan syuhada jauh setelah Athena bubar. Profil Indonesia jauh berbeda dibanding profil Republik Athena di tahun 415 SM di bawah Cleon dan Alcibiades.
Saya akan membantah jika ada yang mengatakan cerita tentang ‘’kapal mandeg’’ sindiran Plato itu terarah kepada Indonesia saat ini. Tidak, sama sekali tidak ada kemiripan antara Athena kuno dan Indonesia. Di Indonesia saat ini tidak ada para pemimpin yang berebut kemudi kapal padahal mereka tidak paham navigasi. Ini negeri hebat, meski tidak ada sosok seperti Anaxagoras– filsuf besar asal Clazomenae yang memperkenalkan konsep Nous (Akal/Pikiran) — sebagai kekuatan penggerak alam semesta.
Sekali lagi, Indonesia adalah negeri besar. Kalaupun ada kekurangan, itu cuma satu: mayoritas rakyatnya (58 persen) bangga memilih wakil presiden yang bukan hanya tidak pandai berorasi seperti Cleon atau Alcibiades, tetapi juga ketahuan tidak punya ijazah SMA.
*Jurnalis Senior dan Dosen Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatulllah Jakarta
Editor: Jufri Alkatiri
