Oleh: Jufri Alkatiri*
Jurnalis Senior dan Dosen Ilmu Komunikasi (Foto: Kumparan.com)
Jika Marshall McLuhan hidup hari ini —dia mungkin akan merevisi diktumnya. Bukan lagi medium is the message– melainkan algoritma adalah redakturnya. Ada ironi di ruang redaksi hari ini. Di satu layar, seorang wartawan merenung mencari lead terbaik untuk investigasi korupsi. Di layar lain, dasbor Chartbeat berkedip merah– topik ini tidak laku, ganti dengan berita artis selingkuh, trafik naik 300 persen. Wartawan itu kalah, bukan oleh editornya, melainkan oleh algoritma.
Inilah wajah profesi jurnalis di era media digital dan media sosial. Kita tidak kekurangan informasi, kita kelebihan informasi sampai kehilangan makna. Kita tidak kekurangan wartawan, kita kelebihan konten sampai kehilangan jurnalisme. Dulu, definisi jurnalis jelas: kuli tinta. Legitimasinya datang dari akses ke peristiwa dan keahlian menulis. Dua legitimasi itu kini runtuh. Pertama, akses didemokratisasi. Siapa pun dengan ponsel bisa menjadi saksi pertama banjir atau demo.
Jurnalis bukan lagi satu-satunya gatekeeper– gerbang itu sudah jebol. Kedua, keahlian menulis didevaluasi. Kecerdasan buatan bisa menulis berita 5W+1H dalam 10 detik. Jika keahlian jurnalis hanya menulis straight news, dia sudah digantikan mesin– yang tersisa kemudian adalah jebakan: jurnalis berubah menjadi kuli algoritma.
Tugasnya bukan lagi mencari kebenaran, melainkan mencari cara agar tulisannya disukai algoritma Google, dan TikTok. Judul dibuat clickbait, isi dipotong 30 detik. Nick Couldry dan Andreas Hepp dalam buku The Mediated Construction of Reality (2017) menyebut fase ini deep mediatization. Media tidak lagi sekadar memengaruhi profesi– media telah menjadi infrastruktur yang tanpanya profesi itu tidak bisa berfungsi.
Wartawan hari ini tidak bisa bekerja tanpa grup WhatsApp, tanpa Google Docs, tanpa Instagram untuk distribusi. Dia hidup di dalam media. Profesi ini mengalami tiga kematian sekaligus. Kematian pertama adalah matinya ruang dan waktu. Jurnalisme klasik hidup dalam ruang redaksi yang sakral dan waktu deadline yang jelas. Jurnalisme digital hidup dalam ruang yang cair dan waktu yang abadi (always-on). Jurnalis media sosial tidak pernah pulang kerja– harus siaga 24 jam di kolom komentar. Burnout menjadi penyakit profesi. Kematian kedua adalah matinya otoritas.
Dulu—jurnalis dipercaya karena institusinya dipercaya. Kini, kepercayaan bergeser dari institusi ke personal, dari rasional ke afektif. Orang lebih percaya pada akun TikTok anonim yang dianggap jujur daripada media besar yang dianggap berkepentingan. Zizi Papacharissi menyebutnya Affective Publics– publik tidak mencari informasi yang benar, mereka mencari cerita yang membuat mereka merasa benar. Kematian ketiga adalah matinya ekonomi.
Model bisnis jurnalisme hancur. Iklan lari ke Google dan Meta. Media bertahan dengan mengejar klik, yang berarti mengejar selera algoritma, bukan kebutuhan publik. Jurnalis dipaksa menulis 10 berita sehari. Investigasi yang butuh tiga bulan kalah oleh berita viral yang butuh tiga menit. Apakah profesi ini akan punah? Tidak– tetapi definisinya harus dilahirkan kembali.
Jika tugas jurnalis dulu adalah menjawab 5W+1H, tugas jurnalis hari ini adalah menjawab pertanyaan yang lebih sulit– bagaimana kita tetap menjadi manusia di tengah lautan data yang memediasi realitas kita? Meminjam konsep Couldry dan Hepp–jurnalis masa depan bukanlah reporter, melainkan arsitek figurasi. Tugasnya bukan melaporkan peristiwa, melainkan merancang formasi sosial baru yang sehat. Ada tiga peran baru. Pertama, dari gatekeeper menjadi gate-opener. Jurnalis tidak lagi menjaga gerbang, tetapi membuka gerbang. Dia tidak berkata saya yang tahu kebenaran, melainkan mari kita konstruksi kebenaran bersama.
Jurnalisme menjadi kolaboratif. Kedua, dari pencari fakta menjadi kurator makna. Di era kelebihan fakta, fakta itu murah– yang mahal adalah makna. Tugas jurnalis adalah mengkurasi kebisingan menjadi kejelasan.
Jurnais tidak hanya bilang ini yang terjadi, tetapi ini artinya apa bagi kita sebagai warga. Ketiga, dari penjual perhatian menjadi penjaga perhatian. Jika media sosial adalah ekonomi perhatian, maka jurnalis adalah penjaganya– dia harus berani tidak viral. Dia harus berani berkata: topik ini tidak penting meski trending, topik ini penting meski sepi. Ini adalah perlawanan etis terhadap logika algoritma.
Profesi jurnalis berada di persimpangan paling kritis sejak Gutenberg menemukan mesin cetak. Pilihan pertama adalah menjadi kuli algoritma– menulis apa yang laku, hidup dari klik, mati pelan-pelan karena kehilangan kepercayaan. Pilihan kedua– yang lebih sulit, adalah menjadi arsitek figurasi: berani tidak laku hari ini demi dipercaya selamanya. Seperti kata Atmakusumah Astraatmadja– Pendiri Lembaga Pers Dokter Soetomo (LPDS)– Jurnalisme adalah upaya untuk tetap waras. Di era ketika algoritma adalah redakturnya– upaya untuk tetap waras itu adalah upaya yang paling jurnalistik.
*Jurnalis Senior dan Dosen Ilmu Komunikasi
Editor: Dikara Maitri Pradipta Alkarisya
