Menunggu Imam Mahdi: Kerinduan yang Tumbuh di Masa Sulit

Oleh: Toto Izul Fatah*

Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA (Foto: Toto Izul Fatah)

Entah sudah berapa kali dunia disebut sedang menuju akhir zaman. Ketika perang pecah di mana-mana, ketika manusia semakin mudah saling membunuh, ketika korupsi dan keserakahan menjadi seperti penyakit yang sulit disembuhkan, pada saat itulah sebutan akhir zaman ramai disuarakan.  Begitu juga pada saat alam semakin rusak oleh tangan manusia sendiri, pertanyaan seputar akhir zaman selalu muncul sebagaimana pernah diperingatkan agama-agama ribuan tahun lalu? Dari situ muncul juga kerinduan hadirnya Imam mahdi.

Pertanyaan soal kapan zaman akan berakhir– memang, tidak pernah ada yang tahu, karena kita tak punya kalender Tuhan. Tidak ada seorang pun mengetahui secara pasti kapan dunia berakhir– karena itu, setiap usaha menetapkan tanggal kiamat, memastikan siapa Imam Mahdi, atau menunjuk seseorang sebagai penyelamat akhir zaman harus disikapi dengan sangat hati-hati– yang pasti, semakin sulit kehidupan manusia, semakin kuat pula kerinduan kepada hadirnya seorang penyelamat.

Dalam tradisi Islam–  figur itu dikenal sebagai Imam Mahdi. Pembicaraan tentangnya terutama terdapat dalam sejumlah hadis dan berkembang sangat luas dalam tradisi eskatologi Islam.  Detail mengenai Mahdi juga tidak seluruhnya dipahami secara sama oleh berbagai mazhab dan ulama–tetapi, terdapat sebuah gagasan yang sangat kuat dalam sejumlah riwayat, bahwa Mahdi dikaitkan dengan pemulihan keadilan setelah bumi dipenuhi kezaliman.

Satu  buku menarik berjudul AlQaul al Mukhtashar fi alamat al Mahdi al Muntazhar  karangan Ibnu Hajar al Haitami juga membahas soal Imam Mahdi. Buku yang ditulis ulama hadist terkemuka abad ke -16 itu mengupas banyak hal seutar Imam Mahdi, mulai dari tanda-tanda dan karakteristik Imam Mahdi menurut Rasulullah, para sahabat dan para tabiin– namun, sejauh yang saya tahu dan saya pahami, tidak ada satu ayat pun dalam al Quran yang secara tegas dan terang menyebut Imam Mahdi. Kecuali, dalam hadis tentang turunnya Nabi Isa AS di akhir zaman.

Lalu, kenapa nama Imam Mahdi begitu kuat hidup di sebagian kalangan umat Islam? Dan sejumlah artikel terkenal yang membahas soal Imam Mahdi ini justru banyak datang bukan saja dari Timur Tengah, tetapi juga dari Eropa dan Amerika Serikat. Sebut saja, Kaveh Al-Frasiabi (Mahdiisme dan Globalisasi Teologi), Oliver Leaman (Mahdi, Materialisme dan Akhir Dunia), Hamid Hadji Haidar (Mahdiisme: sebuah Perspektif Teologi Globalis), Sayid Sadegh Haghighat (Globalisme Imam Mahdi) dan seterusnya.  Salah satu benang merah yang menjadi ciri umum kedatangan Imam Mahdi itu adalah keadaan zaman yang mulai kacau balau.

Kerinduan terhadap Imam Mahdi juga muncul ketika kejujuran menjadi barang mahal. Ketika orang baik dianggap aneh. Ketika kekuasaan digunakan bukan untuk melayani, tetapi memperkaya diri. Ketika korupsi dilakukan berjamaah– termasuk, ketika perang berlangsung tanpa rasa bersalah. Ketika nyawa manusia seolah hanya menjadi angka statistic– dan ketika bumi dieksploitasi tanpa memikirkan generasi yang akan datang.

Dalam keadaan seperti itulah manusia gampang menyebutkan, bahwa inilah tanda dari akhir zaman dan menyongsong lahirnya sang penyelamat. Menariknya, kerinduan terhadap figur atau zaman penyelamatan bukan hanya terdapat dalam tradisi Islam– meskipun dengan sebutan yang berbeda. Dalam Kekristenan, yang menjadi pusat harapan eskatologis itu adalah kedatangan kembali Yesus Kristus.

Tradisi Yudaisme juga mengenal harapan akan Messiah atau Moshiach, figur yang dalam tradisi rabinik dikaitkan dengan datangnya masa penebusan dan pemulihan. Dalam literatur rabinik digambarkan datangnya satu masa terjadinya kemerosotan moral dan sosial.  Dalam Hindu terdapat konsep Kalki, avatar terakhir Wisnu yang dalam tradisi tertentu diyakini akan muncul pada penghujung Kali Yuga, zaman kemerosotan moral, sebelum dimulainya siklus kehidupan yang lebih baik.

Sementara dalam tradisi Buddhisme terdapat Maitreya atau Metteyya, Buddha masa depan yang dipercaya akan hadir pada zaman mendatang setelah ajaran Buddha mengalami kemunduran– meski sebutan itu berbeda pada setiap agama tadi, dalam perspektif antropologis dan sosiologis terdapat benang merah yang menarik. Manusia hampir selalu melahirkan harapan akan restorasi ketika keadaan yang dihadapinya terasa semakin buruk.

Termasuk, ketika kehidupan normal tidak lagi mampu menghadirkan keadilan, manusia membayangkan hadirnya suatu kekuatan luar biasa yang akan memulihkan keadaan. Di situlah agama bertemu dengan psikologi harapan. Fenomena serupa sangat akrab dalam kebudayaan Nusantara, terutama Jawa dan sebagian masyarakat Sunda. Sebut saja, muncul istilah Ratu Adil. Ada juga menyebutnya Satrio Piningit.

Dalam tradisi populer yang kemudian sering dikaitkan dengan ramalan Jayabaya, sejarah bergerak melalui masa-masa sulit sebelum lahir suatu tatanan baru melalui kemunculan figur yang diyakini mampu mengembalikan keseimbangan dan keadilan.  Dalam sejarah sosial-politik Jawa, kepercayaan terhadap Ratu Adil kerap menguat ketika masyarakat mengalami penindasan, diskriminasi atau tekanan sosial-politik– karena itu Ratu Adil sebenarnya bukan sekadar cerita tentang seseorang–  adalah simbol kerinduan masyarakat terhadap keadilan.

Dalam konteks itulah mitos politik dan mesianisme sering memperoleh energi– semakin besar kekecewaan terhadap keadaan, semakin besar pula pasar psikologis bagi munculnya figur penyelamat– karena itu saya melihat kerinduan terhadap Imam Mahdi, Ratu Adil ataupun Satrio Piningit bukan hanya masalah teologi. Ia juga merupakan cermin suasana batin masyarakat.

Di sinilah menurut saya pemahaman tentang akhir zaman harus ditempatkan secara sehat. Eskatologi seharusnya melahirkan introspeksi, bukan spekulasi dengan selalu menunggu. Jika kita rindu keadilan, mulailah hadirkan keadilan itu dari sekarang– dan bukan soal mengetahui siapa Ratu Adil, Satrio Piningit dan Imam Mahdi yang akan datang– tetapi soal memastikan siapa kita ketika zaman itu datang.

*Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Banner Website