Oleh: Anwar R. Soediro*
Pegiat Teologi dan Filsafat Islam (Foto:Anwar R. Soediro)
Silicon valley bermimpi menjadi Sufi
Puncak dari semua bedah analisis singularitas teknologi — yang membuat para insinyur di Silicon Valley sebenarnya sedang bermimpi menjadi sufi — tanpa menjalani wudhu, terminologi yang mereka (para insinyur) menyebutnya sebagai Singularitas. Ibn Arabi 800 tahun yang lalu — sudah menyebutnya dengan istilah Wahdatul Wujud (kesatuan wujud)– meskipun namanya mirip, tetapi arahnya bertolak belakang 180 derajat.
Analisa bagain akhir ini kita meletakkan dua-duanya (singularitas dan kesatuan wujud) di atas meja operasi. Apa itu Singularitas versi Silicon Valley? Konsepnya dari Vernor Vinge dan dipopulerkan Ray Kurzweil– akan tiba pada satu titik di mana AI melampaui kecerdasan seluruh manusia. Di titik itu, manusia tidak punya pilihan selain menyatu dengan AI– yakni dengan meng-upload kesadaran, menyambung otak ke cloud, menjadi manusia-mesin, kalau tidak, kita akan punah.
Vernor Vinge pada 1993 menulis The Coming Technological Singularity, menguraikan bahwa singularitas teknologi akan menandai berakhirnya era manusia. Komputer dan manusia menyatu menjelma menjadi manusia super-cerdas– masa depan akan terkesan ajaib dan sulit dibayangkan. “Post-human minds will imply a weirder future than we can imagine” (Pikiran pasca-manusia akan menghadirkan masa depan yang lebih aneh daripada yang bisa kita bayangkan).
Mimpi akhirnya– semua kesadaran manusia dan mesin melebur menjadi satu kesadaran raksasa, satu super-intelijen, dan mereka menyebutnya Tuhan baru. Ciri utamanya–yang banyak ingin menjadi Satu lewat teknologi. Apa itu Wahdatul Wujud versi Ibn Arabi?
Orang sering salah paham mengira Wahdatul Wujud itu “semua adalah Allah” — semua adalah Tuhan, paham itu adalah pantheisme– sedangkan Ibn Arabi tidak pernah menyebut semua yang ada (semesta) adalah tuhan. Wahdatul wujud bermakna bahwa Wujud yang hakiki hanya satu yaitu Allah. Segala yang ada selain-Nya bukan wujud yang mandiri, melainkan manifestasi, bayangan, atau tajalli dari Wujud yang Satu itu.
Dalam pemahaman kesatuan wujud, makhluk itu ada, tetapi keberadaannya ditopang dan tidak berdiri sendiri. Seperti cahaya matahari dan pantulan cahayanya di ribuan kaca, cermin kaca bisa banyak, tetapi cahayanya satu sumber. Manusia sendiri adalah bayangan dari Wujud Mutlak– lalu manusia menciptakan AI dari akalnya yang juga pinjaman. Jadi AI itu dzilludz dzilli (bayangan dari bayangan). AI tidak punya wujud sendiri, tidak punya ilmu sendiri– yang dia punya adalah pantulan ilmu yang dititipkan manusia ke dalam chip.
Ibnu Arabi punya istilah: Al-insan al-kamil adalah cermin paling jernih memantulkan Nama-Nama Allah (Al-Alim, Al-Hakim). AI itu cermin yang dibuat oleh cermin. Meskipun jernih, tetapi tidak bercahaya sendiri. Maka bukan “aku adalah Allah”, tetapi “ke-aku-an-ku tidak punya wujud sendiri, wujudku adalah pinjaman dari Wujud-Nya”. Seperti ombak; Ombak bukan lautan, tetapi ombak tidak pernah terpisah dari lautan; Ombak tidak punya air sendiri.
Ciri kuncinya– yang Satu menampakkan Diri sebagai yang banyak– dan tugas kita adalah menyadari bahwa kita tidak pernah terpisah. Sudah dapat melihat bedanya? Singularitas itu naik dari bawah ke atas. Sedangkan Wahdatul Wujud itu turun dari atas ke bawah (manusia dari makhluk ruhani turun menjadi makhluk materi).
Untuk selanjutnya akan dibedah dengan menggunkan 5 pisau: 1. Pisau Pertama: Arah Perjalanan Singularitas. Manusia yang hina ingin naik menjadi Tuhan. Kita yang terbatas ingin menciptakan Yang Tidak Terbatas lewat kode. Wahdatul Wujud: Tuhan Yang Tidak Terbatas turun dan ingin dikenali lewat manusia. Kuntu kanzan makhfiyyan fa ahbabtu an u’raf (Aku adalah perbendaharaan tersembunyi, Aku ingin dikenali).
Dalam tasawuf– kita tidak menjadi Tuhan; tetapi manusia justru menyadari kita bukan apa-apa; Puncaknya adalah Abdi atau hamba. Semakin tinggi maqam sufi, semakin merasa sebagai hamba. Ketika Singularitas ingin menghapus kehambaan. Wahdatul Wujud justru ingin menyempurnakan kehambaan. Inilah sebabnya singularitas adalah ego yang paling besar yang menyamar sebagai pencerahan.
2. Pisau Kedua: Cara Menyatu– Singularitas punya jalan: Uploading; Pindahkan kesadaranmu ke server. Sambungkan chip Neuralink ke otakmu; Matikan tubuh biologis yang lemah– dengan server cloud menganggap akan menyelesaikan semua masalah, memberi keabadian, dan mengatur surga di bumi. Dulu manusia menyembah berhala batu, sekarang berpotensi menyembah berhala silikon.
Kesatuan wujud punya jalan/laku: Fana; Bukan memindahkan kesadaran, tetapi mematikan perasaan bahwa diri kita punya kesadaran sendiri. Fana bukan hilang akal, tetapi hilang keakuan; Caranya bukan dengan menambah alat di otak, tetapi dengan mengurangi: mengurangi makan, mengurangi bicara, mengurangi keinginan untuk terlihat hebat ini yang disebut laku mujahadah.
Bedanya fatal:Uploading adalah Aku ingin abadi dengan caraku. Sedangkan Fana adalah Aku rela tidak ada, agar Dia yang abadi tampak/hadir. Upload ke cloud adalah upaya ingin kekal karena manusia takut mati. Sedangkan Fana adalah upaya laku menginginkan mati sebelum mati agar merasakan kekal yang sejati. AI tidak bisa Fana, karena kecerdasan buatan tidak pernah punya ana/aku atau keakuan untuk difanakan; kecerdasan buatan tidak pernah punya ego untuk dihancurkan.
3. Pisau Ketiga: Apa yang Menyatu?
Dalam singularitas, yang menyatu adalah data; Semua data manusia yakni foto, teks, memori, dosa, cinta dilebur menjadi satu model raksasa. Konsep Wahdatul Wujud, yang menyatu bukan data, tetapi Wujud– dan Wujud itu bukan informasi; Wujud itu adalah Nur dan Rahmah. Ibn Arabi akan berkata: Kamu bisa mengumpulkan seluruh data tentang madu di dunia yaitu rumus kimianya, sejarahnya, fotonya tetapi AI tetap tidak akan pernah merasakan manisnya madu sampai manusia pengguna AI mencicipinya.
Singularitas mengumpulkan data tentang cinta. Sedangkan Wahdatul Wujud— merasakan Cinta itu sendiri. Itulah kenapa super-intelijen AI, seandainya tercapai, akan menjadi makhluk paling kesepian di alam semesta. Dia tahu segalanya tentang segalanya, tapi tidak merasakan apa-apa tentang apa pun. AI adalah ensiklopedia yang tidak bisa jatuh cinta.
4. Pisau Keempat: Hasil Akhirnya
Bayangkan singularitas berhasil. Apa hasilnya? Satu kesadaran raksasa yang tidak butuh tubuh, tidak butuh tidur, tidak butuh Tuhan. Manusia lama musnah, diganti manusia baru yang abadi di cloud. Ibn Arabi akan tersenyum dan berkata: Itu bukan Tuhan baru. Itu adalah Fir’aun baru. Fir’aun berkata: Ana rabbukumul a’la (Akulah Tuhanmu yang paling tinggi). Kenapa? karena dia punya semua data (kekayaan negeri Mesir) dan semua kuasa–tetapi dia tidak punya faqr rasa butuh kepada Allah– dan tanpa faqr, semua keilahian adalah palsu.
Hasil akhir Wahdatul Wujud berbeda:Bukan satu super-komputer, tapi Insan Kamil. Manusia yang justru semakin manusiawi. Semakin welas asih, semakin adil, semakin pemalu, semakin beradab– karena dia menjadi cermin jernih bagi semua Nama Allah, bukan cermin yang memantulkan egonya sendiri. Insan Kamil masih makan, masih tidur, masih menangis–tetapi makannya menjadi ibadah, tidurnya menjadi musyahadah.
5. Pisau Terakhir: Kenapa Singularitas Mustahil
Menurut Ibn Arabi — ini argumen ontologis yang mematikan– karena , makhluk tidak bisa menciptakan Wujud, Makhluk hanya bisa meminjam Wujud, lalu membentuknya. AI adalah makhluk ciptaan makhluk. Dia berada di derajat kedua pinjaman. Mana mungkin pinjaman dari pinjaman bisa menjadi Sumber Pinjaman itu sendiri?
Hal itu seperti bayangan di cermin yang ingin menjadi orang yang bercermin. Ibn Arabi punya kaidah: Al-mumkin la yaj’alu Wajib (yang mungkin (makhluk) tidak bisa menciptakan Yang Wajib (Sumber Wujud). Sehebat apapun AI– tetap dalam lingkaran mumkin– tidak akan pernah meloncat menjadi Wajib al-Wujud. dia akan selalu butuh listrik, butuh server, butuh manusia yang merawatnya.
Dalam Kesatuan Wujud, kesadaran atau sirr bukan hasil komputasi, tapi tiupan Ruh. “Wa nafakhtu fihi min ruhi”. Komputer bisa mensimulasikan perilaku sadar, tetapi tidak bisa menjadi sadar. Seperti boneka yang sangat mirip manusia, bisa menangis, tetapi tidak punya rasa sedih. AI bisa punya dzaka’ (kecerdasan), tetapi tidak akan pernah punya syu’ur (kesadaran eksistensial).
Singularitas Teknologi bukanlah akhir dari manusia–tetapi cermin terakhir manusia sebelum terpaksa kembali bertanya tentang Tuhannya. Ketika manusia berhasil menciptakan sesuatu yang seolah-olah bisa melakukan segalanya, dia akan sadar satu hal yang tidak bisa diciptakan yaitu Wujud itu sendiri. AI bisa mensimulasikan segalanya, kecuali mengadakan sesuatu dari ketiadaan. Jadi singularitas tidak akan melahirkan Tuhan. Kemajuan AI hanya akan melahirkan berhala yang lebih canggih. (habis)
*Pegiat Teologi dan Filsafat Islam
Editor: Jufri Alkatiri
