Oleh: Satrio Arismunandar*
Jurnalis Senior dan Penulis SATUPENA (Foto: Satrio.A)
Rambutnya sudah seperti salju pertama. Lututnya berbunyi tiap kali berdiri– seperti engsel pintu yang lama tidak diminyaki. Pinggangnya pegal, dan kacamatanya dia lupa entah di mana, padahal sedang bertengger manis di atas kepala– tetapi coba ajak dia jalan-jalan. Jawabannya: “Ayo!” Ajak ngopi, dia menjawab: “Kapan?” Ajak traveling, dia balik bertanya: “Ke mana?”
Kalau ada yang iseng bertanya, “Bukankah kita sudah tua?”, dia akan mengangkat bahu dan menjawab santai, “Tua itu soal angka. Yang penting mental masih remaja.” Makhluk langka berusia mendekati 70 tahun ini belakangan punya nama: Septolescent.
Apa itu Septolescent?
Kata ini lahir dari kawin silang dua istilah, septuagenarian (orang yang berada di usia tujuh puluhan) dan adolescent (remaja). Jadi Septolescent adalah lansia yang secara kalender sudah senior, tetapi secara semangat masih sibuk bertumbuh. Ia tetap penasaran, tetap bergerak, dan tetap punya alasan untuk bangun besok pagi.
Satu catatan jujur: istilah ini baru dan belum masuk kamus mana pun. Ia beredar dari tulisan ke tulisan di media sosial dan blog, dengan dalih bahwa usia boleh bertambah asal semangat tidak ikut menua. Ilmu psikologi sebenarnya sudah punya padanan yang lebih serius, yaitu active aging atau successful aging— tetapi harus diakui, “Septolescent” jauh lebih enak diucapkan, apalagi sambil menyeruput kopi.
Bedanya dengan remaja biasa
Jangan keliru– Septolescent tetap berbeda dari remaja sungguhan. Remaja biasa pusing mencari pasangan. Septolescent pusing mencari kacamata yang tadi diletakkan di atas kepala. Remaja biasa takut kehabisan uang jajan. Septolescent takut kartu ATM tertinggal di rumah. Remaja biasa nongkrong sampai tengah malam, sedangkan Septolescent sudah bersiap tidur supaya bisa bangun untuk salat tahajud dan tidak terlambat subuh.
Rahasia pertama: punya teman
Septolescent sejati wajib punya sahabat karib, setidaknya tiga orang– yaitu teman yang bisa diajak bertukar pikiran soal ibadah, ngopi, ngeteh, makan, jalan sehat, ngobrol ngalor-ngidul, sampai mengenang masa lalu dan merancang masa depan. Percakapan mereka kadang sangat ilmiah. “Tekanan darahmu bagaimana?” “Kemarin agak tinggi.” “Aku juga.” “Gula?” Inilah yang disebut Seminar Kesehatan ala Septolescent, lengkap dengan data primer dari tubuh masing-masing.
Rahasia kedua: suka pergi, tidak harus mewah
Septolescent senang bepergian– tetapi bukan untuk mengejar kemewahan. Mereka ingin melihat tempat baru, mengenal budaya baru, mencicipi makanan lokal, bertemu orang baru, dan pulang membawa cerita. Masalahnya cuma satu: koper mereka kini lebih ringan daripada tas obatnya. Ada obat pagi, obat siang, obat malam, dan obat kalau lupa minum obat– namun semua itu tidak menghalangi mereka berkata, “Besok kita jalan ke mana lagi, ya?”
Rahasia ketiga: harta termahal bernama hubungan baik
Menjelang usia senja– Septolescent paham bahwa harta paling mahal bukan mobil, rumah, atau isi rekening– yang paling berharga adalah hubungan baik dengan keluarga, anak, menantu, cucu, saudara, kerabat, dan siapa pun yang masih mau bersahabat dengan mereka. Mereka sadar, rumah sebesar apa pun tak ada artinya kalau penghuninya saling diam. Maka mereka mengurangi gengsi, memperbanyak maaf, memperbanyak silaturahmi, dan kalau terjadi perdebatan keluarga, mereka lebih sering mengalah. Di titik ini, remaja sungguhan mungkin perlu belajar dari mereka.
Rahasia keempat: daftar rencana yang tak habis-habis
Usia boleh senja– tetapi daftar rencananya masih panjang. Mau traveling, mau reuni, mau berkebun, olahraga, wisata kuliner, bahkan mau belajar kecerdasan buatan– dan tentu saja, mau membuat jadwal pertemuan berikutnya. Kalau ada yang nyinyir, “Untuk apa bikin rencana sebanyak itu? Kan sudah tua?”, jawabannya sederhana: kita belum tahu kapan Allah memanggil, dan selama belum dipanggil, agenda jalan terus. Itulah optimisme mereka.
Rahasia kelima: merawat tubuh, tanpa memaksa kembali muda
Septolescent rajin berjalan kaki, kira-kira dua puluh menit sehari. Teorinya sederhana. Praktiknya begini: di awal jalan, “Ayo, semangat.” Di tengah jalan, “Masih kuat.” Mendekati akhir, “Kayaknya cukup.” Dan begitu waktunya habis, “Besok lagi, ah.”
Sesampai di rumah, dia duduk– lalu berdiri lagi karena lupa membawa ponsel. Duduk lagi– berdiri lagi karena kacamata tertinggal. Duduk lagi. Berdiri lagi karena belum mengunci pintu–tetapi tetap sehat, tetap bergerak, tetap berusaha. Sebab Septolescent tidak menuntut tubuhnya kembali seperti masa muda. Doanya lebih realistis: “Ya Allah, beri kami tubuh yang masih mau diajak kompromi.”
Rahasia keenam: menghitung yang dipunya, bukan yang kurang
Septolescent tidak sibuk menghitung kekurangan– mereka mengabsen nikmat. Masih punya keluarga. Masih bisa beribadah. Masih punya teman. Masih bisa berjalan, makan, tertawa, bepergian, dan membantu orang lain. Lalu mereka tiba pada kesimpulan sederhana: kalau semua ini masih bisa dinikmati, berarti saya kaya– dan memang benar. Kekayaan tidak melulu soal uang. Kadang kekayaan adalah tidur nyenyak, bangun dengan badan segar, hati yang bersih dari iri dan dengki, dan kebiasaan menelepon teman hanya untuk menanyakan kabar.
Rahasia ketujuh: tersenyum setiap hari
Bukan karena hidup mereka sempurna. Justru karena mereka sudah tahu hidup memang tidak pernah sempurna. Ada penyakit, kehilangan, kegagalan, kesepian, masalah keluarga, sakit lutut, sakit pinggang, kolesterol, dan gula darah. Tetapi mereka tetap tersenyum, karena umur boleh bertambah, asal rasa syukur ikut bertambah. Septolescenttidak berusaha mengalahkan usia dan tidak pura-pura kembali muda. Mereka tidak menyangkal penyakit dan tidak melawan kenyataan. Mereka hanya berkata: “Ya, saya sudah tua. Rambut boleh putih, kulit boleh keriput, langkah boleh melambat, mata boleh butuh kacamata, pendengaran boleh berkurang. Tetapi semangat tidak boleh ikut pensiun.”
Jadi, siapa mau jadi Septolescent?
Penuaan tidak bisa dihentikan– tetapi cara menjalaninya bisa kita pilih. Maka lain kali jangan bilang, “Saya sudah tua.” Katakan saja dengan dada tegak, “Saya seorang Septolescent.” Kalau ditanya apa artinya, jawab penuh percaya diri: remaja usia senja yang masih punya jadwal piknik, jajan bareng, teman bercanda, keluarga yang dicintai, dan alasan untuk bangun besok pagi– dan kalau ada yang bertanya, “Kapan kalian akan berhenti?”, jawab serempak– “nanti saja, kalau Allah sudah memanggil.”
Catatan: Digabung dari sejumlah sumber oleh Satrio Arismunandar.
*Jurnalis Senior dan Penulis SATUPENA
Editor Jufri Alkatiri
