Lembaga Pers Dokter Soetomo (LPDS): Ketika Sekolah Jurnalistik Kehilangan Modal Simboliknya

Oleh: Jufri Alkatiri*

Alumni  LPDS, Angkatan Pendidikan Jurnalis Harian Umum Pelita (Foto: Jufri Alkatiri)

Jika Anda masuk ke ruang kelas Lembaga Pers Dokter  Soetomo (LPDS)  hari ini di Lantai 3 Gedung Dewan Pers Jalan Kebon Sirih Jakarta Pusat — Anda akan mencium aroma yang familiar– aroma idealisme jurnalisme tahun 1980-an. Di dinding tergantung foto Atmakusumah Astraatmadja, Jacob Oetama, dan Djafar Assegaff — pendiri LPDS. Di papan tulis tertulis 9 Elemen Jurnalisme Bill Kovach– para perserta kursus jurnalis diajarkan cara menulis lead 5W+1H yang bersih, cara memegang prinsip cover both sides, dan cara menjaga jarak dengan nara sumber.

Semua itu mulia. Semua itu benar–tetapi semua itu juga berpotensi menjadi cara tercepat untuk membuat LPDS cendrung semakin mundur. Mengapa? karena LPDS sedang mengajarkan cara bertarung di medan perang yang sudah tidak ada.. Untuk membedah jerih payah  LPDS mendidik calon wartawan—penulis meminjam pisau analisis Sosiolog  Perancis paling rasional dan sistematis — Pierre Bourdieu. Bourdieu punya tiga konsep kunci: Field (Arena), Habitus (Kebiasaan Mental), dan Capital (Modal).

Menurut Bourdieu– masyarakat bukan ruang hampa—melainkan arena pertarungan (field) tempat berbagai aktor berebut modal. Di dalam arena jurnalisme, yang diperebutkan bukan hanya uang, tetapi Modal Simbolik: kepercayaan, legitimasi, dan hak untuk dianggap sebagai pembawa kebenaran. Dulu, Field  Jurnalisme itu jelas– arenanya adalah koran, majalah, radio, dan televisi.

Aturannya jelas, pemainnya jelas: wartawan vs wartawan. LPDS adalah raja di field itu. LPDS adalah pabrik yang memproduksi  Habitus jurnalistik paling murni: wartawan yang berhati-hati, terverifikasi, dan berjarak–tetapi hari ini– field itu semakin memudar. Bourdieu menyebutnya perubahan field yang radikal. Field jurnalisme hari ini bukan lagi koran vs koran. Fieldnya adalah ekosistem media sosial.

Aturan mainnya bukan lagi 5W+1H, tetapi algoritma TikTok. Pemainnya bukan lagi wartawan vs wartawan, tetapi wartawan vs buzzer vs influencer vs AI vs admin akun gosip. Di dalam Field baru ini, Habitus yang diajarkan LPDS menjadi tidak relevan. Bahkan menjadi beban. Ini kritik pertama saya untuk LPDS: LPDS menderita Habitus Histeresis. Histeresis adalah istilah Bourdieu untuk kondisi di mana habitus seseorang tertinggal jauh dari perubahan Field– seperti orang yang masih membawa peta tahun 1990 untuk menjelajahi Jakarta tahun 2026. Petanya tidak salah, tetapi jalannya sudah banyak yang berubah menjadi jalan tol.

LPDS masih mengajarkan Habitus dalam bentuk – seperti Uji Kompetensi Wartawan (UKW)  dan pelatihan jurnalis praktis– wartawan sebagai Penjaga Gerbang” (Gatekeeper). Padahal gerbang itu sudah mulai sirna. Siapa saja bisa menjadi penerbit. Seorang peserta  LPDS diajarkan untuk memverifikasi 3 sumber sebelum menerbitkan berita. Sementara seorang admin akun Instagram gosip dengan 3 juta follower hanya butuh  satu screenshot anonim untuk membuat berita yang viral.

Ketika peserta LPDS itu akhirnya menerbitkan berita yang terverifikasi– publik sudah terlanjur percaya pada screenshot itu. LPDS masih mengajarkan Habitus “Netralitas dan Jarak”. Padahal di Field media sosial, yang menang adalah Habitus “Keberpihakan dan Kedekatan”. Publik di media sosial tidak mencari wartawan yang netral. Publik mencari Opinion Leader yang berpihak pada mereka. Publik tidak percaya pada wartawan yang berjarak, publik percaya pada influencer yang mau live bareng mereka setiap malam. Jika LPDS terus memproduksi lulusan dengan Habitus lama untuk Field baru– maka LPDS sedang memproduksi dinosaurus yang sangat etis, tetapi akan punah.

Kritik kedua: LPDS Kehilangan Modal Simboliknya. Dalam teori Bourdieu, ada 4 modal: Ekonomi (uang), Sosial (jaringan), Kultural (keahlian), dan Simbolik (legitimasi/kepercayaan). Dulu, LPDS adalah gudang Modal Simbolik.  Lulusan LPDS adalah kasta tertinggi wartawan Indonesia. Jika Anda lulusan LPDS, Anda otomatis dipercaya. Media besar berebut Anda. Modal Simbolik itu begitu besar karena LPDS memiliki monopoli atas definisi “wartawan profesional”. Hari ini, monopoli itu pecah. Siapa yang memiliki Modal Simbolik jurnalistik hari ini? Bukan lagi lulusan LPDS– tetapi Jerome Polin ketika membahas politik, atau Najwa Shihab dengan Narasi-nya, atau bahkan akun Twitter @mazzini yang anonim — tetapi dianggap lebih kredibel dalam membongkar kasus korupsi daripada 10 media besar. Modal Simbolik telah berpindah dari institusi ke individu, dari sertifikat ke followers, dari etika ke engagement.

LPDS tidak bisa melawan arus ini dengan cara lama: menambah kurikulum etika. Itu seperti menambah pelajaran moral untuk memenangkan perang drone. LPDS harus merebut kembali Modal Simbolik dengan cara merebut kembali Field. Apa yang harus dilakukan LPDS untuk melawan media sosial? Saya tawarkan tiga operasi bedah ala Bourdieu.

Rekonstruksi Habitus– dari Habitus Verifikasi menjadi Habitus Kurasi dan Deliberasi. LPDS harus berhenti mengajarkan peserta hanya untuk menjadi produsen berita tercepat. Itu pertarungan yang sudah kalah. Media sosial akan selalu lebih cepat. LPDS harus mengajarkan Habitus baru– wartawan sebagai Kurator dan Fasilitator Deliberatif.

Di tengah banjir informasi sampah– yang dibutuhkan publik bukan tambahan informasi, tetapi kurasi. Wartawan LPDS masa depan bukan orang yang paling cepat di lapangan, tetapi orang yang paling dipercaya untuk menjelaskan: “Dari 100 informasi yang viral hari ini, hanya 3 yang penting untuk hidup Anda, dan ini artinya.”Kurikulum LPDS harus menambahkan: Data Forensic, Open Source Intelligence (OSINT), Debunking Hoaks — dengan metodologi, dan yang paling penting– Community Organizing.

Seorang wartawan tidak cukup hanya bisa menulis– dia harus bisa membangun komunitas deliberatif di sekitar liputannya– seperti yang kami coba di Komunitas Pijar– wartawan harus bisa membuat warga berdiskusi, bukan hanya membuat warga membaca. Habitus baru adalah habitus yang tidak alergi dengan media sosial, tetapi mampu menggunakan logika media sosial untuk tujuan jurnalistik—misalnya– bagaimana cara membuat video TikTok 60 detik yang tetap memenuhi 9 Elemen Jurnalisme? Itu yang harus diajarkan, bukan malah mengharamkan media sosial.

Perebutan Kembali Field– LPDS harus keluar dari Ruang Kelas dan Masuk ke Arena media sosial. Selama ini Field  LPDS adalah ruang kelas di Jalan Kebon Sirih,  Jakarta Pusat. Itu Field yang aman dan steril. LPDS harus berani memindahkan Field-nya ke tempat yang kotor dan berisik: TikTok, Instagram,  dan WhatsApp Group.

Bourdieu mengatakan, untuk menguasai Field— harus bertarung di dalam Field itu. LPDS tidak boleh hanya menjadi sekolah atau kursus pelatihan atau uji komepetensi wartawan– LPDS harus menjadi pemain. LPDS harus memiliki akun TikTok investigasi dengan 5 juta follower — yang menjadi rujukan anak muda. LPDS harus memiliki jaringan WhatsApp Channel di 100 desa yang melawan hoaks.

LPDS harus menjadi produsen Modal Kultural baru yang relevan– jika LPDS tetap di menara gading, menganggap media sosial sebagai musuh yang harus dilawan dengan idealisme, maka LPDS akan bernasib seperti sekolah mengetik di era komputer: sangat mahir, tetapi tidak ada yang butuh.

Konversi Modal– ubah Modal Kultural menjadi Modal Simbolik Baru– LPDS masih punya Modal Kultural yang sangat kuat: sejarah, jaringan alumni di mana-mana, dan legitimasi sejarah dari Atmakusumah, Djafar Assegaff,  dan Jacob Oetama.  Ini modal mati jika tidak dikonversi. Caranya? LPDS harus melakukan konversi modal secara radikal. Jual Modal Kultural itu untuk membeli Modal Simbolik baru di Field media sosial. Contoh konkret: Buat “Sertifikasi Conten Creator atau yang lain seperti Anti-Hoaks LPDS” — yang diberikan bukan kepada wartawan, tetapi kepada 1000 influencer Indonesia.

Jika LPDS memiliki ribuan alumni  dan tersebar di seluruh Indonesia yang dipercaya komunitasnya–  maka Modal Sosial LPDS akan tidak terkalahkan oleh buzzer manapun. Pada akhirnya, pertarungan LPDS melawan media sosial bukanlah pertarungan antara kebaikan melawan kejahatan– itu adalah pertarungan antar- field. dan dalam pertarungan antar field, yang menang bukanlah yang paling benar, tetapi yang paling adaptif mengubah Habitus dan Modalnya. LPDS didirikan oleh Atmakusumah  dan kawan-kawan dengan semangat melawan otoritarianisme Orde Baru — yang membungkam pers dengan cara membredel. Hari ini, otoritarianisme itu bernama algoritma — tidak membredel tetapi menenggelamkan. Tidak melarang wartawan menulis– membuat tulisan wartawan tidak terlihat.

Melawan pembredelan butuh keberanian– melawan algoritma butuh kecerdikan– jika LPDS gagal bertransformasi, maka 10 tahun lagi LPDS akan menjadi museum yang indah. Orang akan datang ke sana untuk mengenang betapa mulianya jurnalisme zaman dulu– sambil di luar museum, para influencer sedang menentukan masa depan demokrasi Indonesia melalui video 15 detik– dan itu akan menjadi ironi paling menyedihkan bagi seorang dokter bernama Soetomo yang mendirikan pers untuk menyadarkan bangsa.

Analisis kritis dan radikal Bourdieu ini–  secara logis dan terbuka  ditanggapi Direktur Eksekutif  LPDS yang baru Anthonius Jimmy Silalahi  pada saat pelatikannya 21 Oktober lalu. Dia  mengatakan disrupsi teknologi kecerdasan  buatan (AI-akal imitasi) menjadi tantangan tersendiri bagi pers. Realitas ini membuat LPDS menegaskan kembali peran strategisnya sebagai garda depan pendidikan pers di Indonesia  untuk mencetak insan pers berkualitas mampu mengedukasi publik.

*Alumni  LPDS– Angkatan Pendidikan Jurnalis Harian Umum Pelita

Editor: Ries Mariana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Banner Website