Membaca Geopolitik Amerika dari Pesantren

Oleh: Dr. Drs. KH. Mudrik Qori, MA*

Mudir ‘Am Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah Indralaya, Pendiri dan Ketua Umum Forum Pondok Pesantren se-Sumatera Selatan 2002-2005 (Foto: Pesantren Al-Ittifaqiah Indralaya)

Hasil Pemilu Paruh Waktu Amerika Serikat pada 3 November 2026 — memperlihatkan pelajaran penting bagi kita tentang hubungan antara kekuasaan, teknologi, ekonomi, dan kepercayaan publik. Partai Demokrat berhasil merebut mayoritas di Dewan Perwakilan Rakyat dan Senat, sekaligus memperluas pengaruhnya dalam pemilihan gubernur. Kekalahan Partai Republik menjadi pukulan politik bagi Presiden Donald Trump yang selama dua tahun pemerintahannya mendapat dukungan mayoritas di Kongres.

Sejumlah media internasional melaporkan — kekecewaan masyarakat terhadap mahalnya biaya hidup, tekanan ekonomi, dan perang Iran menjadi faktor utama yang melatarbelakangi perubahan pilihan politik masyarakat. Associated Press (2026) mencatat bahwa persoalan ekonomi dan ketidakpuasan terhadap kebijakan perang turut mendorong kemenangan

Demokrat. Dengan demikian, kita menyaksikan bahwa hasil pemilu tersebut bukan sekadar pergantian kekuatan politik, melainkan juga ekspresi masif ketidakpuasan masyarakat terhadap arah kebijakan pemerintah Amerika Serikat– namun, kondisi geopolitik Amerika tersebut memberikan pelajaran yang lebih mendasar. Kekuasaan sebesar apa pun tidak pernah benar-benar kokoh ketika tidak memiliki legitimasi dan kehilangan kepercayaan rakyat. Teknologi komunikasi, kekuatan modal, jaringan politik, dan kemampuan mengendalikan informasi tidak selalu menjamin keberhasilan seorang pemimpin. Pada akhirnya, masyarakat tetap memiliki kekuatan untuk menilai dan menentukan arah kepemimpinan negara.

Bagi Indonesia, khususnya dunia pesantren, peristiwa ini seharusnya dibaca lebih jauh. Kita sedang memasuki zaman ketika ketahanan negara dan bangsa tidak cukup ditentukan oleh kekuatan politik dan pertumbuhan ekonomi. Ketahanan energi, pangan, lingkungan, teknologi, keluarga, dan spiritualitas justru akan menjadi penentu apakah masyarakat mampu bertahan menghadapi berbagai krisis global.

Teknologi Bukan Segalanya

Salah satu pelajaran penting dari perkembangan politik Amerika adalah besarnya pengaruh teknologi digital dalam kehidupan demokrasi. Media sosial, algoritma, kecerdasan buatan, dan penguasaan data telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi, membentuk opini, dan menentukan pilihan politik.

Kenyataannya– teknologi digital dapat menjadi instrumen demokratisasi, tetapi juga berpotensi menjadi sarana manipulasi. Informasi palsu, propaganda, rekayasa opini, dan penyebaran kebencian dapat diproduksi serta disebarkan dengan kecepatan yang sulit dikendalikan. Meskipun dugaan bahwa kemenangan atau kekalahan politik berkaitan dengan keberhasilan atau kegagalan manipulasi sistem teknologi tidak dapat diterima begitu saja, hal tersebut tetap perlu dibuktikan dan diuji. Pelajaran yang lebih penting adalah perlunya membangun sistem digital yang aman, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam konteks inilah– dunia pendidikan pesantren menghadapi tantangan baru. Santri tidak cukup sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi harus menjadi subjek yang memahami, menguasai, dan mampu mengembangkan teknologi. Bahkan, penguasaan kecerdasan buatan, literasi digital, keamanan siber, dan pengelolaan data perlu menjadi prioritas dalam penguatan kompetensi pendidikan pesantren. Meski begitu, teknologi tidak boleh ditempatkan sebagai kekuatan yang berdiri sendiri– secanggih apa pun sistem digital, pada dasarnya teknologi tetap merupakan hasil pemikiran manusia. Manusia menciptakan teknologi dengan akal dan keterampilannya, sementara manusia sendiri adalah makhluk ciptaan Allah SWT.

Dalam perspektif keimanan, terdapat batas yang tidak dapat dilampaui oleh kemampuan teknologi– karena itu, pesantren perlu mengajarkan bahwa kecerdasan digital harus berjalan bersama kecerdasan moral. Santri harus mampu menggunakan teknologi untuk membangun kemaslahatan, sekaligus memiliki integritas untuk mengantisipasi penyalahgunaannya. Teknologi tanpa iman dapat kehilangan arah, sementara iman tanpa penguasaan ilmu dan teknologi berisiko membuat umat tertinggal dalam menghadapi perubahan zaman.

Ketahanan Energi dan Pangan

Persoalan lain yang patut menjadi perhatian adalah ketergantungan dunia terhadap sumber daya energi dan pangan. Konflik geopolitik, termasuk perang di kawasan Timur Tengah, memperlihatkan bagaimana ketegangan politik di suatu wilayah dapat memengaruhi persaingan dagang, distribusi barang, dan hajat hidup masyarakat di berbagai belahan dunia.

Energi bukan sekadar urusan industri dan transportasi. Listrik, misalnya, menjadi penopang proses pendidikan, pelayanan kesehatan, komunikasi, produksi pangan, dan hampir seluruh aktivitas kehidupan. Ketika pasokan energi terganggu, lembaga pendidikan sekalipun dapat mengalami kelumpuhan.

Demikian pula pangan. Ketergantungan terhadap pasokan dari luar, menyusutnya lahan pertanian, perubahan iklim, dan terganggunya rantai distribusi merupakan ancaman nyata bagi ketahanan masyarakat. Karena itu, ketahanan energi dan pangan harus ditempatkan sebagai agenda strategis pendidikan dan pembangunan nasional.

Pesantren mempunyai modal sosial dan kelembagaan untuk mengambil peran dalam agenda tersebut. Banyak pesantren memiliki lahan, jaringan alumni, jaringan komunitas, serta tradisi pendidikan yang menghubungkan keilmuan dengan praktik kehidupan sehari-hari. Potensi ini perlu dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi dan ketahanan komunitas masyarakat.

Pesantren dapat memulainya secara mandiri (ibda’ binafsi), berawal dari lingkungan pesantren sendiri. Pesantren perlu membangun sistem energi surya, mengembangkan pertanian dan perkebunan, membudidayakan ikan, mengembangkan peternakan, serta mengolah hasil pertanian. Pemanfaatan energi terbarukan dapat disesuaikan dengan kebutuhan, kemampuan pembiayaan, dan teknologi penyimpanan energi yang dimiliki pesantren– dengan demikian, pesantren dapat mendidik santri untuk memahami kitab sekaligus mengajarkan bagaimana menghasilkan pangan, mengelola energi, membangun usaha, dan menjaga keberlanjutan lingkungan.

Enam Pilar Ketahanan Pesantren

Secara spesifik, perlu dikembangkan gagasan untuk menjadikan pesantren sebagai pusat ketahanan masyarakat melalui enam pilar yang saling terhubung. Pertama, ketahanan energi. Pesantren perlu mulai mengembangkan pembangkit listrik tenaga surya sebagai alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil. Penggunaan panel surya, penghematan listrik, dan pengelolaan energi secara efisien dapat menjadi laboratorium pembelajaran bagi santri. Mereka tidak hanya belajar teori energi terbarukan, tetapi juga memahami penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

Kedua, ketahanan pangan. Pesantren perlu mengembangkan pertanian, perkebunan, perikanan, dan peternakan secara terintegrasi. Sawah dapat dikembangkan untuk produksi padi, sedangkan lahan darat dapat dimanfaatkan untuk kedelai, palawija, sayuran, dan tanaman produktif lainnya. Peternakan ayam, kambing, dan sapi serta budi daya ikan dapat memperkuat ketersediaan protein. Hasil produksi tidak hanya memenuhi kebutuhan konsumsi internal pesantren, tetapi juga dapat dipasarkan untuk membangun kemandirian ekonomi pesantren.

Ketiga, ketahanan lingkungan. Pesantren harus menjadi pelopor pendidikan ekologis. Penghijauan, perlindungan sumber air, pengelolaan sampah, pengurangan penggunaan plastik, dan pemeliharaan keanekaragaman hayati perlu menjadi budaya santri. Kesadaran lingkungan bukan sekadar pengetahuan tambahan, melainkan bagian dari tanggung jawab keagamaan manusia sebagai khalifah di bumi.

Keempat, ketahanan teknologi. Pesantren perlu memperkuat pendidikan sains, teknologi informasi, kecerdasan buatan, dan keterampilan digital. Santri harus memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan ekonomi dan dunia kerja. Lebih dari itu, mereka harus mampu menciptakan inovasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Kelima, ketahanan keluarga dan komunitas. Pendidikan pesantren tidak boleh berhenti ketika santri meninggalkan lingkungan asrama. Keluarga, alumni, masyarakat sekitar, dan jaringan kelembagaan harus menjadi bagian dari ekosistem pendidikan. Nilai kedisiplinan, kemandirian, gotong royong, dan tanggung jawab sosial perlu ditanamkan sebagai fondasi kehidupan bermasyarakat.

Keenam, ketahanan iman. Inilah fondasi yang menghubungkan seluruh pilar lainnya. Energi, pangan, teknologi, dan kekuatan ekonomi merupakan instrumen kehidupan, bukan tujuan akhir. Tanpa iman dan akhlak, kemajuan material dapat berubah menjadi keserakahan, eksploitasi, dan perebutan kekuasaan. Iman memberikan orientasi moral agar seluruh kemampuan manusia digunakan untuk kemaslahatan, bukan kerusakan.

Keenam pilar di atas tentu tidak cukup berhenti sebatas gagasan normatif. Pesantren perlu menerjemahkannya menjadi kebijakan pendidikan, kurikulum, dan program ekonomi yang terukur. Santri dapat dilibatkan dalam pengelolaan pertanian, pembangkit listrik tenaga surya, pengolahan limbah, koperasi, hingga pengembangan usaha berbasis teknologi. Dengan demikian, pendidikan agama, sains, keterampilan hidup, dan kewirausahaan dapat berjalan selaras dan tidak terpisah satu sama lain.

Dalam konteks ini, banyak pesantren, termasuk Al-Ittifaqiah Indralaya, memiliki potensi untuk mengintegrasikan pendidikan, pertanian, energi terbarukan, dan pemberdayaan masyarakat. Tentu, pesantren perlu mendapat dukungan dan membuka kerja sama dengan pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, lembaga riset, dan masyarakat– dari sini, kemandirian pesantren sebagai representasi kekuatan masyarakat perlu diwujudkan dan dikembangkan menjadi gerakan bersama jaringan pesantren yang tersebar di seluruh Indonesia.

*Mudir ‘Am Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah Indralaya, Pendiri dan Ketua Umum Forum Pondok Pesantren se-Sumatera Selatan 2002-2005

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Banner Website