Rumi yang Menyembuhkan

*Cak AT – Ahmadie Thaha

Tujuh abad lalu, Jalaluddin Rumi dikuburkan dengan tenang di Konya, Turki. Dia mungkin tidak pernah membayangkan puisinya kelak menjadi “obat tidur” bagi dunia yang justru semakin sulit tidur. Dunia yang lampunya terang benderang, tetapi jiwanya redup seperti genset kehabisan solar.

Di tengah denting notifikasi —  manusia moderen berlari tanpa tahu sedang dikejar siapa dan mau ke mana. Lalu datanglah Rumi, dengan kalimat sederhana tetapi menusuk: “yang kau cari, sebenarnya ada di dalam dirimu.” Ironis. Kita sibuk keliling dunia, berkelana entah ke mana, padahal kalung Mutiara itu sudah menggantung manis di leher sendiri. Tinggal diraba, bukan dicari.

Prof Nevzat Tarhan menulis buku soal penyakit manusia itu, berjudul Terapi Rumi. Akhir pekan ini dia datang jauh-jauh dari Turki, membedah bukunya di Universitas Paramadina Jakarta. Nevzat yang ahli terapi hadir seperti dokter membawa resep lama untuk penyakit baru. Atau mungkin sebaliknya: penyakit lama yang kini diberi nama baru agar terdengar ilmiah. Tetapi buku karyanya ini bukan panduan terapi klinis seperti yang dibayangkan orang. Tidak ada resep obat, tidak ada teknik relaksasi instan, melainkan pembacaan reflektif atas puisi-puisi Jalaluddin Rumi untuk memahami luka batin manusia modern.

Terapi Rumi  menggali kedalaman hikmah buku Masnawi karya Rumi dan menyajikannya sebagai alat terapi bagi kehidupan moderen. Buku ini menjembatani prinsip-prinsip Tasawuf dengan pendekatan Psikologi Kontemporer, menghadirkan cara pandang baru tentang pertumbuhan diri dan kesehatan emosional. Dia mengulas tema-tema utama seperti cinta, penyerahan diri, transformasi, serta perjalanan menuju pencerahan. Dia tunjuk relevansinya terhadap persoalan psikologis seperti kecemasan, depresi, relasi, hingga krisis makna hidup. Dengan bahasa yang lebih mudah diakses, Nevzat menerjemahkan puisi Rumi menjadi panduan reflektif yang dilengkapi latihan, studi kasus, dan pertanyaan perenungan, sehingga pembaca tidak hanya memahami, tetapi juga mengalami proses penyembuhan dan penemuan diri.

Dari sini saja kita sudah bisa menebak. Ini bukan buku yang menyembuhkan dengan cara menghapus masalah, tetapi dengan cara mengubah cara kita memandangnya  — dan di situlah letak keganjilannya — sekaligus keajaibannya.

Kita tahu, depresi, kesepian, kecanduan — semuanya kini punya istilah keren, lengkap dengan grafik dan jurnal internasional tetapi Rumi sudah membicarakannya sejak manusia masih menulis di atas kulit domba. Bedanya, dia tidak menyebutnya disorder, tetapi “kerinduan”. Tidak menyebutnya “trauma”, tetapi “jarak dari Tuhan”. Untuk menyimpulkan, Nevzat menyebut ada tiga krisis besar manusia modern: ketimpangan, krisis iklim, dan kesepian  tetapi diam-diam, ada krisis keempat yang lebih sunyi: manusia kehilangan arah, lalu berpura-pura tidak tersesat. Kita ini seperti orang nyasar di hutan, tapi sibuk memperbaiki sepatu, bukan mencari jalan pulang.

Lucunya, dunia moderen begitu bangga pada “psikologi positif”. Empati, syukur, makna hidup — semua itu dipoles, dikemas, diberi label ilmiah, lalu dijual mahal dalam seminar ber-AC dingin. Padahal, Rumi sudah membagikannya gratis, tanpa Power Point, tanpa sertifikat, tanpa coffee break. Yang lebih tragis, kita ini generasi yang bisa mengobrol dengan kecerdasan buatan, tetapi kesulitan berdialog dengan hati sendiri.

Kita kini percaya Algoritma lebih daripada intuisi, percaya data lebih daripada doa. Seolah-olah Tuhan harus diverifikasi dulu lewat jurnal Scopus sebelum dianggap valid. Padahal, sebagaimana diingatkan Rumi, masalah terbesar manusia bukanlah dunia yang kacau, tetapi cara pandangnya yang keruh. Kita melihat dengan mata yang lelah, menilai dengan ego yang lapar, lalu heran kenapa hidup terasa pahit.

Di titik ini, “terapi Rumi” bukan sekadar bacaan, tapi tamparan halus. Dia tidak menyuruh kita lari dari masalah, tetapi mengubah cara melihatnya. Seperti kisah orang yang mengusir lalat dengan batu — niatnya baik, tetapi caranya membunuh. Dunia kita penuh niat baik, tetapi miskin kebijaksanaan. Maka mungkin benar kata Nevzat: tanpa kebijaksanaan, peradaban menjadi buta.

Kita punya teknologi untuk menjangkau Mars, tetapi tidak punya ketenangan untuk duduk lima menit bersama diri sendiri. Kita tahu cara mengedit video 4K, tetapi tidak tahu cara mengedit niat — dan di tengah semua itu, Rumi tersenyum sunyi dari kuburnya. Puisinya terus hidup, bukan hanya karena indah, tetapi karena jujur. Dia tidak menawarkan solusi instan, tetapi mengajak pulang. Bukan ke tempat, tetapi ke diri.

Barangkali, di zaman yang serba bising ini, yang kita butuhkan bukan suara baru, melainkan keberanian untuk mendengar yang lama.

*Jurnalis Senior, Kolumnis, dan Editor Sejumlah Buku Prof. Azyumardi Azra

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *