Ibu Tunggul Rahayu, Bapak Tangkal Darajat: Pesan Peradaban dari Leluhur Sunda

Oleh: Toto Izul Fatah*

Senin pagi, 20 April 2026 —  air mata tiba-tiba menetes. Padahal, itu saat yang seharusnya saya senang bisa menikmati sarapan pagi yang enak. Minimal, untuk ukuran saya, karena ada rebusan singkong, ubi Cilembu dan talas bercampur gula aren. Entah kenapa, seluruh menu sarapan pagi itu mendadak hambar saat saya tiba-tiba membayangkan ibu saya di kampung. Tepatnya, di Desa Cikembar, Kabupaten Sukabumi – Jawa Barat. “Apakah Ibuku pada saat yang sama sedang merasakan kenikmatan seperti nikmatnya saya sarapan pagi? Atau justru sedang melamun berdiam diri mengingat dan merindukan saya dan anak-anak lainnya,”. Itulah kira-kira pikiran yang tiba-tiba melayang pagi itu.

Prolog tulisan di atas, sengaja saya sampaikan tidak dalam kontek sedang mengajari siapapun tentang keharusan untuk selalu mengingat Ibu — tetapi, lebih dari itu, saya ingin mengajak untuk merenung bersama salah satu ungkapan kuno dari para leluhur Sunda yang masih relevan. Yaitu, Ibu Tunggul Rahayu Bapak Tangkal Darajat. Ungkapan dalam khazanah budaya Sunda yang kaya makna.

Secara umum, Ibu Tunggul Rahayu itu bermakna sangat luhur tentang gambaran peran Ibu sebagai sumber keselamatan, ketentraman, kasih sayang dan keberkahan hidup. Ungkapan itu juga mengajarkan satu hal yang kini mulai dilupakan, bahwa sebuah keluarga tidak berdiri hanya oleh tembok, uang, atau nama besar. melainkan oleh peran mulia seorang ibu dan seorang bapak. Ibu menjadi pusat rahayu, yaitu sumber keselamatan, keteduhan, kasih sayang, dan keberkahan. Bapak menjadi tangkal darajat, penyangga martabat, penjaga kehormatan, penegak arah dan tanggung jawab.

Dalam makna yang umum tadi, sudah jelas, bahwa Ibu bukan sekadar sosok wanita yang melahirkan, melainkan yang menghidupkan jiwa. Bapak juga bukan sekadar yang mencari nafkah, melainkan yang menegakkan harga diri keluarga  — dari ibu, seorang anak pertama kali mengenal dunia sebagai tempat yang layak dicintai  — dari pelukan ibu, anak belajar bahwa luka bisa reda, bahwa air mata bisa berhenti, bahwa hidup selalu punya tempat pulang. Ibu adalah sekolah pertama sebelum anak mengenal huruf. Bahkan sebelum seorang anak mengenal nama Tuhannya, dia lebih dulu mengenal kasih sayang dalam wajah ibunya.

Sedangkan bapak, dalam makna tangkal darajat, bukan semata figur yang berdiri di depan sebagai pelindung, tetapi juga tiang tegak yang membuat keluarga tidak mudah roboh oleh malu, susah, atau kehilangan arah. Bapak adalah wajah keteguhan. Dia sering tidak banyak bicara, tetapi dari pundaknya keluarga belajar tentang beban, ikhtiar, kehormatan, dan harga diri.

Bila ibu menghangatkan hati rumah, maka bapak mengokohkan dinding martabatnya– karena itu, ungkapan Sunda ini sesungguhnya bukan membelah peran, tetapi menyatukan kemuliaan. Dia tidak sedang memperbandingkan siapa yang lebih besar di antara ibu dan bapak –justru menegaskan bahwa rumah tangga yang sehat hanya mungkin lahir dari perjumpaan dua kekuatan, yakni: kelembutan dan ketegasan, kasih sayang dan tanggung jawab, rahayu dan darajat.

Pada bagian inilah,  khazanah Sunda bertemu indah dengan ajaran Islam — dalam satu hadis yang sangat masyhur, ditegaskan bahwa ridha Allah bergantung pada ridha kedua orang tua, dan murka Allah bergantung pada murka keduanya. Maknanya, sangat terang, bahwa jalan menuju keberkahan hidup tidak bisa dipisahkan dari sikap hormat, bakti, dan kemuliaan kita kepada ayah dan ibu.

Dalam Islam, orang tua bukan hanya pihak yang wajib dihormati secara sosial, melainkan pintu etik dan spiritual bagi keselamatan seorang anak. Maka, ketika orang Sunda memuliakan ibu sebagai tunggul rahayu dan bapak sebagai tangkal darajat, itu bukan sekadar tradisi lokal. Itu adalah cara budaya menerjemahkan nilai langit ke dalam bahasa bumi. Apa yang disebut agama sebagai birrul walidain, yaitu: berbakti kepada kedua orang tua, dalam khazanah Sunda memperoleh bentuknya yang lembut, puitis, dan membumi.

Sayangnya, di era sekarang, kita justru menyaksikan kemerosotan makna itu. Banyak anak tumbuh cerdas, tetapi miskin takzim. Banyak yang berhasil secara akademik, tetapi gagal memuliakan ibu-bapaknya. Banyak pula orang tua yang hadir secara biologis, tetapi absen secara moral. Rumah hanya ramai oleh gawai, tetapi sunyi oleh perhatian. Percakapan makin sering, namun kehangatan justru makin jarang. Kita hidup di zaman ketika orang mudah memuja tokoh jauh, tetapi mulai canggung menghormati ayah-ibunya sendiri.

Padahal, keluarga adalah madrasah pertama peradaban. Bila ibu kehilangan kemuliaannya, maka rahayu akan pudar. Bila bapak runtuh wibawanya, maka darajat akan goyah– dan bila keduanya sama-sama diabaikan, maka anak akan tumbuh dalam kekosongan. Mungkin pandai, tetapi mudah rapuh; mungkin berani, tetapi miskin adab; mungkin moderen, tetapi tercerabut dari akar kemanusiaannya.

Di sinilah ungkapan Ibu Tunggul Rahayu, Bapak Tangkal Darajat  menemukan relevansinya yang paling mendesak. Dia hadir sebagai kritik halus terhadap zaman yang terlalu bising oleh ambisi, tetapi miskin penghormatan kepada sumber kehidupan.  Dia mengingatkan kita bahwa setinggi apa pun jabatan seseorang, selebat apa pun gelar di belakang namanya, semua itu tak akan utuh bila ia gagal memuliakan perempuan yang telah melahirkannya dan laki-laki yang telah menopang hidupnya.

Ungkapan Ibu Tunggul Rahayu, Bapak Tangkal Darajat  pada hakikatnya bukan sekadar petuah Sunda. Dia adalah wasiat peradaban — dia adalah pengingat bahwa bila ibu menjadi cahaya rahayu dan bapak menjadi penyangga darajat, maka rumah akan melahirkan manusia-manusia yang bukan hanya sukses, tetapi juga teduh jiwanya, tinggi akhlaknya, dan selamat hidupnya.

*Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA dan Ketua Umum IKA PP Ibadurrahman YLPI Tegalega Sukabumi Jawa Barat

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *