Haji dan Pengalaman Spiritual: Catatan Perjalanan Haji Menuju Baitullah

Oleh: Prof. Dr. Murodi al-Batawi,MA*

Ibadah haji merupakan Rukun Islam ke-5  dan dilaksanakan oleh mereka yang mampu  — dalam tradisi Islam dikenal dengan istilah  istitha’ah.  Ada beberapa istitha’ah yang dikenal dalam berhaji. Pertama, Istitha’ah Maliyah. Kedua, Istitha’ah, Amniyah. Ketiga, Istitha’ah Jismiyah. Jika memenuhi persyaratan tersebut– maka berhaji baru bisa dilaksanakan. Biasanya — bagi mereka yang sudah berhaji, memiliki pengalaman spiritual masing-masing.

Berhaji: Pengalaman Yang Tidak Terduga

Dahulu, sebelum berhaji, saya selalu berdo’a pada Allah dengan kalimat, Ya Allah, panggilah aku ke rumahmu. Aku ingin sekali melihat dan bersujud di rumah-Mu. Doa itu saya lantunkan setiap selesai shalat, bertahun-tahun lamanya. Bukan karena saya merasa layak, justru karena saya merasa sangat tidak layak. Saya bukan orang kaya. Saya bukan ulama. Saya hanyalah seorang Muslim biasa yang berusaha meniti jalan-Mu dengan penuh tergesa-gesa dan tidak jarang jatuh.

Di suatu malam Ramadhan yang sunyi — saat menjelang Sahur dan bertahajud — isteri menghampiri sambil memeluk. Dia bilang, Pa, minta foto kopi KTP. Saya bertanya, untuk apa dan kenapa malam seperti ini mintanya. Dia jawab. Tadi sore, sebelum tidur, ada telepon dari travel haji dan umrah kasih kabar, kita bisa berangkat tahun ini. Mendengar kabar tersebut, saya sangat senang dan langsung sujud syukur. Terima kasih ya Allah, Engkau telah mendengar do’a kami. Saya terdiam — air mata mengalir tanpa terasa. Malam itu saya sujud lama, menangis seperti anak kecil yang dipanggil pulang oleh ayahnya setelah sekian lama tersesat. Saya tahu persis: ini bukan karena kemampuan saya. Ini murni panggilan dari-Nya.

Persiapan Keberangkatan

Bulan-bulan sebelum keberangkatan — saya isi dengan belajar. Bukan belajar tentang rukun haji saja—itu sudah saya pelajari—tetapi belajar tentang apa yang akan terjadi pada hati saya. Saya membaca buku-buku tentang spiritualitas haji. Saya mendengarkan ceramah para ulama tentang  rahasia di balik pakaian ihram, makna tawaf, dan pesan di balik sa’i.Saya belajar bahwa haji sejati dimulai dari dalam kamar, sebelum kaki melangkah ke pesawat.

Selain itu, saya juga mempersiapkan fisik. Jalan kaki setiap pagi, naik turun tangga, membiasakan diri dengan ransel di punggung — tetapi yang lebih berat dari latihan fisik adalah latihan hati: memaafkan semua orang yang pernah menyakiti saya. Saya menulis satu per satu nama orang yang saya rasa masih menyimpan “beban”. Saya telepon mereka. Saya minta maaf. Saya maafkan. Proses ini memakan waktu cukup lama, tetapi rasanya seperti melepas batu bata satu per satu dari punggung saya.

Ihram: Lepaskan Identitas Dunia

Di Bandara, saat saya melepas pakaian saya dan menggantinya dengan dua helai kain putih tanpa jahitan, terjadi sesuatu yang aneh. Di cermin, saya melihat diri saya. Tanpa merek baju, tanpa jabatan, tanpa gela, dan tanpa tanda pengenal. Semua orang di sekitar saya berpakaian sama. Presiden dan rakyat biasa, kaya dan miskin, Arab dan non-Arab—semua tampak sama. Saya tersadar– inilah rupa manusia di hadapan Allah –yang membedakan bukanlah pakaian atau harta tetapi taqwa.

Saat melafalkan niat ihram, saya merasakan getaran aneh di sekujur tubuh. Saya seperti baru lahir kembali. Dunia dengan segala hiruk-pikuknya tertinggal di belakang. Kini hanya ada saya dan Allah. Sepanjang perjalanan menuju Makkah, lisan saya tidak berhenti bertalbiyah: Labbaik Allahumma labbaik. Labbaik la syarika laka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk, la syarika lak.”. “Aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah. Aku datang. Tiada sekutu bagi-Mu. Segala puji, nikmat, dan kerajaan adalah milik-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu.” Saya tidak tahu persis apa yang terjadi. Saya hanya menangis. Sepanjang jalan– sambil terus mengucapkannya berulang-ulang. Saya merasa seperti debu yang dipanggil oleh angin untuk terbang menuju matahari.

Pertama Kali Melihat Ka’bah, Hati Terguncang

Setelah bermalam di Madinah (yang akan saya ceritakan lain waktu), tibalah saat yang paling dinanti: Pintu masuk Masjidil Haram.Pemandu kami berpesan: Begitu kalian masuk dan melihat Ka’bah, jangan lihat kanan kiri. Duduklah. Perhatikan Ka’bah. Dan berdoalah. Karena doa di saat pertama melihat Ka’bah tidak akan ditolak.

Saya berjalan perlahan– nafas saya terasa sesak– jantung berdegup kencang. Saya mencoba mengingat-ingat doa yang sudah saya hafal– tetapi begitu mata saya menangkap bayangan hitam Ka’bah di ujung lorong… semua do’a lupa– saya hanya bisa terisak.

Ka’bah berdiri di sana. Kokoh. Sunyi. Anggun– seperti magnet raksasa yang menarik hati setiap insan yang memandangnya. Saya duduk di lantai marmer yang dingin, bersandar pada tembok, dan menangis seperti anak kecil yang kehilangan ibunya kemudian menemukannya kembali. Saya tidak tahu berapa lama saya menangis. Mungkin lima menit atau bahkan lebih. Mungkin setengah jam. Saya hanya ingat akhirnya saya berbisik:  Ya Allah, aku pulang. Aku pulang ke rumah-Mu. Terima aku. Jangan usir aku.” Kemudian saya terus mengikuti arahan pembimbing manasik haji atau kepala rombongan.

Thawaf: Berputar Mengeliling Pusat Hidup

Thawaf adalah pengalaman yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Berputar mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali, bersama jutaan manusia dari berbagai penjuru dunia. Awalnya terasa seperti olahraga biasa. Tubuh bergerak, kaki melangkah, bahu menyenggol bahu– tetapi setelah beberapa putaran, saya mulai merasakan sesuatu yang aneh: Saya tidak lagi merasa berputar mengelilingi Ka’bah, melainkan Ka’bah-lah yang berputar dalam hati saya.

Saya teringat pada planet-planet yang mengelilingi matahari– atau elektron yang mengelilingi inti atom. Atau hati yang seharusnya hanya berputar mengelilingi Tuhannya. Dalam Thawaf — saya belajar bahwa hidup ini seharusnya berpusat pada Allah. Bukan pada harta. Bukan pada gengsi. Bukan pada ambisi. Hanya Allah– dan ketika saya menyentuh Hajar Aswad—meskipun hanya bisa melambaikan tangan dari kejauhan karena padatnya manusia—saya berbisik: Ya Allah, ini adalah batu. Batu ini tidak bisa memberi manfaat atau mudarat– tetapi karena Rasul-Mu pernah menciumnya, aku menghormatinya. Ajari aku untuk mencintai sunnah-sunnah Rasul-Mu, meskipun aku tidak selalu mengerti hikmah di baliknya.

Sa’i: Lari Kecil Antara Bukit Safa dan Marwah

Sa’i — antara bukit Shafa dan Marwah adalah ritual yang mengingatkan kita pada Hajar—seorang ibu yang berlari-lari kecil mencari air untuk bayinya, Ismail, yang kehausan di tengah padang pasir yang tandus. Saya mulai dari Shafa — saya memandang Ka’bah dari kejauhan dan berdoa. Kemudian saya turun dan mulai berjalan—dan berlari kecil di antara dua tanda hijau—menuju Marwah.

Sambil berlari, saya merenung:  Inilah ibu Hajar. Tidak punya siapa-siapa. Tidak punya apa-apa. Hanya Allah. Dan dia berlari. Tidak menyerah. Tidak putus asa. Berlari.  Air mata saya jatuh lagi. Betapa sering saya mengeluh dengan masalah kecil. Betapa sering saya putus asa ketika do’a belum dijawab. Padahal Hajar berlari bolak-balik tujuh kali sebelum air Zam-Zam memancar. Dalam Sa’I — Allah mengajari saya: Jangan berhenti berusaha– jangan berhenti berlari menuju kebaikan– jangan berhenti berdoa—dan jangan berhenti berharap. Air Zam-zam akan datang di waktu yang tepat.

Puncak Spiritual di Padang Arafah

Tanggal 9 Dzulhijjah — saya berada di Padang Arafah. Di sinilah puncak haji. Rasulullah bersabda:  Haji adalah Arafah. Artinya, jika seseorang tidak wukuf di Arafah, hajinya tidak sah. Matahari terik. Jutaan manusia duduk di atas hamparan tanah tandus. Tidak ada teduhan. Tidak ada kemewahan. Hanya manusia dan Tuhannya. Saya duduk di tenda kecil, menghadap kiblat, dan mulai berdoa.

Saya berdoa untuk orang tua saya yang sudah tiada. Saya berdo’a untuk istri dan anak-anak saya. Saya berdoa untuk saudara-saudara saya. Saya berdo’a untuk umat Islam di Palestina, di Afghanistan, di Rohingya, di mana pun mereka menderita. Kemudian, setelah semua do’a untuk orang lain selesai, saya berdoa untuk diri saya sendiri. Saya mengakui semua dosa saya. Semua khilaf saya. Semua lalai saya. Ya Allah, aku bukan orang baik– tetapi Engkau Maha Baik. Ampuni aku. Terima taubatku. Jadikan aku hamba yang lebih baik setelah hari ini. Saat Matahari terbenam di Arafah—waktu Maghrib tiba—saya merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan– seperti ada beban yang terangkat dari pundak saya. Seperti hati saya dicuci dengan air yang sangat jernih. Saya menangis lagi, tetapi kali ini bukan tangisan penyesalan, melainkan tangisan  lega_dan cinta.

Bermalam Di Muzdalifah: Berdo’a di Bawah Langit Bertabur Bintang

Setelah Matahari terbenam — kami bergerak ke Muzdalifah. Di sini kami menginap di bawah langit terbuka. Bantalnya adalah ransel. Selimutnya adalah jaket tipis. Kasurnya adalah tanah yang dingin– tetapi malam itu adalah malam paling damai dalam hidup saya. Saya berbaring, memandang langit yang bertabur bintang. Jutaan bintang bertaburan di atas saya. Dan saya teringat pada firman Allah: Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.  (QS. Ali Imran: 190)

Saya merasa sangat kecil — sangat tidak berarti –tetapi pada saat yang sama, saya merasa sangat dicintai. Allah yang menciptakan bintang-bintang itu, Dia juga yang menciptakan saya. Dan Dia memanggil saya ke sini. Saya tertidur sejenak dengan senyum di wajah.

Mina: Melempar Jumrah dan Mengusir Setan

Hari-hari berikutnya di Mina diisi dengan melempar Jumrah (Aqabah, Ula, Wustha). Melempar batu kecil ke tiga tiang yang melambangkan setan. Awalnya ritual ini terasa aneh. Saya melempar batu—benar-benar batu kecil—ke sebuah tiang beton. Setan mana yang saya lempar? Tetapi kemudian saya merenung: setan yang paling besar sebenarnya bukan di luar, melainkan di dalam diri saya sendiri.

Setan kesombongan– yang membuat saya merasa lebih baik dari orang lain. Lebih pintar dari orang lain. Lebih kaya dari orang lain, Setan ketamakan– yang membuat saya tidak pernah puas dengan apa yang saya miliki. Setan kemarahan — yang membuat saya mudah meledak dan menyakiti orang lain. Setan iri hati— yang membuat saya sakit hati melihat keberhasilan orang lain. Satu per satu saya  lemparsetan-setan itu dalam hati. Saya berjanji pada diri sendiri: sepulang dari haji, saya akan berusaha lebih keras melawan bisikan-bisikan jahat itu.

Tahallul: Kembali Menjadi Manusia Biasa_

Tahallul adalah ritual mencukur rambut sebagai tanda berakhirnya ihram. Sedikit demi sedikit, helai rambut saya jatuh ke tanah. Saya merasa seperti burung yang dilepaskan dari sangkar. Beban Ihram yang berat—tidak boleh memotong kuku, tidak boleh memakai wewangian, tidak boleh bersenggama—kini terlepas. Saya boleh lagi memakai pakaian biasa. Saya boleh lagi memakai wewangian tetapi yang lebih penting, saya boleh lagi tersenyum dan bercanda dengan sesama jamaah. Selama ini suasana khidmat dan khusyuk sangat kental. Setelah tahallul, ada rasa lega. Haji telah selesai. Doa -doa telah dipanjatkan. Kini saatnya kembali ke kehidupan. Saya berdoa semoga kain putih ihram yang saya lepas tidak hanya berarti secara fisik, tetapi juga secara batin. Semoga saya tetap menjaga kesucian hati setelah pulang ke kampung halaman.

Haji Wada’: Perpisahan yang Mengharukan

Sebelum meninggalkan Makkah– saya melakukan thawaf wada’ (thawaf perpisahan). Saya mengelilingi Ka’bah untuk terakhir kalinya. Saya berjalan perlahan, berusaha menghafal setiap sudut masjid, setiap kilau cahaya yang memantul dari Ka’bah. Saya tidak tahu apakah saya akan pernah kembali lagi ke sini. Umur tidak ada yang tahu. Setelah Thawaf selesai, saya mundur perlahan-lahan dari Masjidil Haram—tidak membelakangi Ka’bah—sambil terus menangis. Ya Allah, jangan jadikan ini kunjungan terakhirku ke rumah-Mu. Jika Engkau masih memberi umur, izinkan aku kembali. Panggil aku lagi.

Di luar masjid — saya menoleh sekali lagi. Ka’bah masih berdiri di sana, kokoh, anggun, seperti magnet yang terus menarik hati saya. Saya melambai — saya tersenyum– saya menangis. Sampai jumpa lagi, ya Rabb. Sampai jumpa lagi.

Epilog: Pulang tetapi tidak sama

Saya pulang ke tanah air dengan fisik yang lelah tetapi hati yang penuh. Orang-orang bertanya: Bagaimana hajinya? Apakah mabrur?Saya tidak tahu apakah haji saya Mabrur. Itu urusan Allah– yang saya tahu, saya pulang sebagai orang yang berbeda. Saya pulang dengan hati yang lebih lembut. Dulu mudah marah, sekarang lebih mudah menahan. Dulu suka mengeluh, sekarang lebih banyak bersyukur. Saya pulang dengan perspektif baru tentang dunia. Saya melihat betapa kecilnya masalah duniawi. Utang, pekerjaan, gosip, persaingan—semua terasa tidak berarti di hadapan kebesaran Allah.

Saya pulang dengan kerinduan yang lebih besar. Saya rindu untuk kembali ke Makkah. Rindu untuk shalat di depan Ka’bah. Rindu untuk berjalan di antara Shofa dan Marwah. Tapi yang lebih penting, saya rindu untuk selalu — hidup dalam kesadaran bahwa Allah selalu melihat saya. Saya sadar– haji sejati bukanlah tentang pergi ke Makkah dan Madinah lalu pulang. Haji sejati adalah tentang  membawa Makkah ke dalam hati di mana pun saya berada. Tentang hidup dengan keikhlasan Hajar, kepasrahan Ibrahim, dan kerinduan Rasulullah.

Jika Anda belum berhaji– jangan berhenti berdo’a. Panggilan itu akan datang pada waktu yang tepat. Jika Anda sudah berhaji, mari kita jaga bersama amanah ini. Jangan biarkan haji hanya menjadi status sosial atau foto profil di media sosial. Biarkan dia menjadi transformasi hati  yang abadi.

Jika Anda tidak bisa berhaji karena alasan apa pun, ingatlah — setiap langkah menuju masjid, setiap sedekah untuk fakir miskin, setiap kesabaran dalam menghadapi ujian—adalah bagian dari perjalanan menuju Allah.  Ka’bah tidak hanya ada di Makkah. Ka’bah juga ada di dalam hati setiap Muslim yang merindukan Tuhannya.

Do’a Penutup

Ya Allah– terima haji kami. Ampuni dosa-dosa kami– jadikan kami hamba-hamba-Mu yang bertakwa. Ya Allah– panggil lagi kami ke rumah-Mu– jika tidak di dunia, pertemukan kami dengan Ka’bah di Surga-Mu. Ya Allah, berkati keluarga kami. Berkati Umat Muhammad– bukakan pintu Rahmat-Mu untuk kami semua.

*Profesor Sejarah Peradaban dan Dosen Tetap Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *