Oleh: Benz Jono Hartono*
Peristiwa tabrakan maut kereta api di kawasan Bekasi Timur seolah bukan sekadar kecelakaan transportasi biasa. Dalam perspektif politik dan kekuasaan, peristiwa itu dapat dibaca sebagai simbol tentang bagaimana sistem dapat saling bertubrukan ketika kendali melemah, komunikasi rusak, dan kepentingan bergerak tanpa koordinasi.
Dalam sejarah politik dunia, seorang presiden tidak selalu jatuh karena lawan politik yang terlihat jelas di depan mata. Banyak pemimpin justru mengalami tekanan paling berbahaya dari arah belakang, dari lingkungan terdekat, dari orang-orang yang sebelumnya berdiri di sampingnya, bahkan dari jaringan kekuasaan yang ikut membesarkannya.
Gelombang tekanan ekonomi, konflik elite, perebutan pengaruh, hingga pertarungan kepentingan bisnis, dan politik internasional perlahan membentuk rel-rel tabrakan baru di sekitar kekuasaan nasional. Semua komponen sistem dapat bergerak secara simultan, keluarga, politik, partai pendukung, kelompok kepentingan, relawan, birokrasi, oligarki ekonomi, bahkan kolega lama yang selama ini terlihat loyal.
Politik Indonesia sejak era reformasi menunjukkan satu kenyataan pahit, tidak ada presiden yang benar-benar aman dari permainan internal kekuasaan. Dukungan dapat berubah menjadi tekanan. Loyalitas dapat berubah menjadi transaksi– dan kawan seperjuangan dapat berubah menjadi aktor penekan, ketika distribusi kekuasaan dianggap tidak lagi menguntungkan– karena itu, tanda-tanda kegaduhan kecil tidak boleh dianggap sepele.
Presiden yang kuat bukan hanya presiden yang mampu menghadapi oposisi terbuka, tetapi juga mampu membaca gerakan sunyi di belakang meja kekuasaan. Sebab sejarah membuktikan, kehancuran politik sering dimulai bukan dari serangan terbuka, melainkan dari penggerogotan perlahan oleh orang-orang dekat sendiri.
Saat ini publik mulai melihat banyaknya manuver politik yang bergerak liar. Ada yang mulai membangun poros baru, ada yang mulai mencari posisi aman, ada pula yang mulai memainkan dua kaki dalam peta kekuasaan nasional. Semua itu merupakan tanda bahwa suhu politik Indonesia sedang bergerak menuju fase konsolidasi dan kemungkinan akan terjadi benturan baru.
Jika tidak hati-hati, maka Presiden dapat menghadapi situasi yang dipenuhi krikil dan gelombang bukan secara harfiah, tetapi dalam bentuk tekanan sistemik yang datang bersamaan dari berbagai arah. Karena dalam dunia politik, tabrakan paling mematikan sering kali datang bukan dari musuh yang terlihat, tetapi dari gerbong yang selama ini berjalan di belakang lokomotif kekuasaan itu sendiri.
*Praktisi Media Massa, Vice Director Confederation ASEAN Journalist (CAJ) PWI Pusat, dan Executive Director Hiawatha Institute
Editor: Jufri Alkatiri
