Renungan Dino Jemuwah: Hakikat Haji Mengenal Diri Sejati dan Mengenal Tuhan (bag-4)

Oleh: Anwar Rosyid Soediro*

E. Sa’i;  Simbol Optimisme Hidup

Setelah melakukan Thawaf yang menjadikan pelakunya larut dan berbaur bersama manusia-manusia lain– serta memberi kesan kebersamaan menuju satu tujuan yang sama yakni berada dalam lingkungan Allah SWT– kemudian meranjak melakukan ritual ibadah Sa’i; yakni berjalan dari Bukit Shafa ke Marwah– simbol perjalanan cinta, usaha, dan tawakal manusia kepada Tuhan.  Sa’i merupakan simbol laku Pencarian Tanpa Henti (Cinta dan Rindu): Sa’i adalah representasi pencarian spiritual yang sungguh-sungguh.

Layaknya Siti Hajar yang berlari-lari antara Shafa dan Marwah– jiwa manusia didorong untuk terus bergerak dan berusaha mendekatkan diri kepada Allah SWT, didorong oleh rindu dan cinta. Perpaduan Ikhtiar dan Tawakal: Sa’i mengajarkan bahwa usaha manusia harus maksimal (berlari kecil) namun diikuti dengan kepasrahan total kepada Allah.

Air Zamzam, menurut sejarah, muncul bukan hanya karena usaha Hajar– melainkan setelah kepasrahan (tawakal) di puncak usaha tersebut. Keteguhan dalam Keadaan Sulit: Berlari tujuh kali bolak-balik mencerminkan kesabaran, daya juang, dan keteguhan hati  (grit) dalam menghadapi situasi paling sulit sekalipun, di mana manusia diminta untuk tidak putus asa.

Bergerak dari kesucian menujuk kemuliaan: Sa’i dimulai dari  Shafa (kesucian/kemurnian) dan menuju Marwah (kemuliaan). Ini melambangkan bahwa setiap usaha atau pekerjaan, untuk mendapatkan keberkahan, harus dimulai dari niat yang suci.

Hidup adalah pergerakan: Sa’i mengajarkan bahwa hidup bukanlah tempat untuk diam, melainkan tentang siapa yang paling kuat bertahan, bergerak maju, dan terus mencari rahmat-Nya di tempat yang mungkin kita takuti. Dalam pandangan mistis, rukun haji ini juga sering dimaknai sebagai upaya manusia mencari jalan air kehidupan (rahmat Allah) di tengah gersangnya padang kehidupan duniawi, di mana 7 putaran melambangkan kesempurnaan usaha.

Dalam Sa’i pandangan-dunia monoteistik ritual Sa’i lebih tampak lagi. Secara etimologis– Sa’i berarti usaha pencarian; berlari-lari atau bergegas-gegas (karena memang memiliki ketertautan historis dengan Hajar– budak wanita yang diperistrikan Ibrahim, ketika mondar-mandir mencari air untuk menghidupi anaknya Ismail di suatu lembah yang tandus).

Justru karena figur Hajar inilah muatan pandangan-dunia monoteistik haji semakin terasa kental. Sebagaimana diketahui, Hajar adalah budak perempuan dari Ethiopia yang menghamba kepada Sarah, istri Ibrahim– tetapi justru dari dialah lahir nabi-nabi-Nya yang besar dan makhluk-makhluk-Nya yang cantik jelita– dan, kita pun diperintahkan ‘meniru’ pola tingkah lakunya dalam ritual Sa’i.

Ada beberapa hal yang perlu dicatat di sini. Pertama, dalam melakukan Sa’i, segala bentuk, pola, warna, derajat, kepribadian, batas, perbedaan, dan jarak dihancur-leburkan. Apa pun status dan jabatan kita, dalam Sa’i ini kita sedang berperan sebagai Hajar, budak berkulit hitam itu. Kedua, Hajar merupakan lambang kepasrahan dan kepatuhan yang sangat tegu– tetapi, kepasrahan dan kepatuhannya itu tidak menghalanginya untuk bangkit. Syahdan, di tempat gersang dan tandus yang hampa dari berbagai sarana untuk mempertahankan hidup, Ibrahim harus meninggalkan istrinya Hajar dan bayinya Ismail. “Apakah kami berdua akan ditinggal pergi di lembah ini?”  tanya Hajar. Ibrahim tidak kuasa menahan risau hatinya. Siti Hajar bertanya lagi, Kepada siapa kami ditinggalkan di sini? Apakah Allah yang memerintahkannya kepadamu? Ibrahim tidak mampu menjawab. Tenggorokannya kering. Dengan air mata yang seolah-olah tertahan pada kedua kelopak matanya– dia hanya kuasa menganggukkan kepala. Membenarkan tanda tanya istrinya.  Setelah melihat jawaban itu, Hajar pun lega– dia menyambutnya dengan penuh keimanan dan ketabahan, “kalau begitu kami tidak akan diabaikan oleh-Nya.”

Ketiga, Siti Hajar memulai usahanya dari bukit Shafa menuju Marwa– secara konseptual, peristiwa ini mengindikasikan suatu proses pengalaman kemanusiaan dalam berpartisipasi aktif dalam kehidupan. Secara harfiah, Shafa berarti “kesucian dan ketegaran.” Ini berarti bahwa untuk mencapai kehidupan harus dengan usaha yang dimulai dengan kesucian dan ketegaran– dan kemudian berakhir di Marwa yang berarti “ideal manusia, sikap menghargai, bermurah hati, dan memaafkan orang lain.” Inilah, mengapa Sa’i dilakukan sebanyak tujuh kali. Angka tujuh adalah angka “ganjil” bukan “genap” sehingga Sa’i-mu berakhir di Marwah dan bukan di tempat engaku memulai (Shafa).

Tujuh adalah angka simbolis yang melambangkan seluruh kehidupan manusia menuju Marwah. Syari’ati menyebut ritual Sa’i sebagai “perjuangan fisik”.  Sa’i menggambarkan usaha manusia mencari hidup yang digambarkan Hajar mencari air. Kenapa air? Pencarian air melambangkan pencarian kehidupan materi di atas bumi ini– dan ini dilakukan saat Sa’i -begitu selesai tawaf- yang mengisyaratkan bahwa kehidupan dunia dan akhirat merupakan suatu kesatuan dan keterpaduan.

Kalau thawaf menggambarkan larut dan leburnya manusia dalam hadirat Ilahi atau, dalam istilah kaum sufi, al-fana fi Allah; Maka sa’i menggambarkan usaha manusia mencari hidup, perjuang yang gigih, kesabaran dan tawakal total kepada Allah SWT.  Sa’i secara bahasa berarti berusaha atau berupaya. Sa’i melambangkan manusia tidak boleh diam dalam menghadapi kesulitan, melainkan harus bergerak aktif mencari solusi

Ibadah Sa’i sangat mengherankan dan menakjubkan, sebab dari segi jarak maka hanya beberapa langkah atau momen dari thawaf menuju ke Sa’i– namun demikian, ada perbedaan besar di antara keduanya: Thawaf : Cinta yang mutlak. Sa’i: Kebijakan akal yang mutlak. Thawaf: semuanya adalah Dia. Sa’i:  Semuanya adalah engkau. Thawaf: Hanya kehendak Allah. Sa’i: Hanya kehendakmu. Thawaf: Manusia mencari kebenaran. Sa’i: Manusia didukung sendiri oleh “fakta-fakta”.

Thawaf: Cinta, penyembahan, spirit, moralitas, keindahan, kebaikan, kesucian, nilai-nilai, kebenaran, keyakinan, kesalehan, penderitaan, pengorbanan, ketaatan, kerendahan hati, penghambaan, persepsi, pencerahan, kepasrahan, kekuatan dan kehendak Allah, metafisika, yang gaib, demi orang lain, dan demi Allah. Dan apa pun yang digerakkan dan dicintai oleh spirit bangsa Timur.

Sa’i : Hikmah, logika, kebutuhan, hidup, fakta, objektif, bumi, material, alam, hak istimewa, pikiran, sains, industri, kebijakan, keuntungan, kesenangan, ekonomi, peradaban, tubuh, kemerdekaan, kekuasaan, kehendak, di dunia ini, untuk diri sendiri. Dan segala sesuatu yang diperjuangkan oleh bangsa Barat. Thawaf: Hanya Allah, Sa’i: Hanya manusia, Thawaf: Hanya jiwa, Sa’i: Hanya tubuh, Thawaf:Mencari “dahaga”, Sa’i: Mencari ‘air, Thawaf: Kupu-kupu, Sa’i: Elang. Perbedaan ini tidaklah harus memisahkan, sebab hakikatnya, *ibadah haji merupakan kombinasi antara thawaf dan sa’i. Dia memecahkan berbagai kontradiksi yang telah membingungkan umat manusia sepanjang sejarah.

Ali Syari’ati menegaskan– manakah yang harus engkau pilih: Materialisme atau Idealisme? Rasionalisme atau petunjuk Ilahi? Dunia atau akhirat? Epikureanisme atau Asketisme? Kehendak Allah atau kehendak manusia? Jawaban Allah: Ambil keduanya! Inilah sebuah pelajaran yang tidak disampaikan dengan kata-kata, persepsi, sains, atau filsafat, tetapi dengan contoh yang berupa manusia. Dan dia adalah seorang perempuan budak Ethiopia berkulit hitam dan seorang ibu.  Dia adalah Hajar!

Inilah inti monotheistic worldview — yang ditawarkan dalam napak tilas monoteisme Ibrahim. Dalam tauhid, tidak ada kontradiksi dalam semua eksistensi: tidak ada kontradiksi antara manusia dan alam, antara ruh dan badan, antara dunia dan akhirat, antara materi dan arti. Begitu pula, monoteisme menolak adanya serba kontradiksi legal, sosial, politik, rasial, nasional, teritorial, genetik bahkan ekonomi– karena monoteisme mengajarkan untuk memandang segalanya sebagai suatu kesatuan. (bersambung)

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *