Pijarberita.com, Jakarta– Gereja Katedral Jakarta akan menjadi saksi sperayaan yang langka ulang tahun ke-90 Romo Franz Magnis-Suseno, SJ. Momen ini semakin istimewa karena bertepatan dengan Dies Natalis ke-57 Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara dengan tema besar Magnis untuk Indonesia. Penghormatan pantas bagi sang filsuf, rohaniwan, dan intelektual publik yang lebih dari 50 tahun menjadi suara nurani bangsa– dari Bangsawan Jerman ke Anak Bangsa Indonesia
Majalah Hidup, Minggu, di Jakarta, menyatakan, Romo Magnis, lahir dengan nama Maria Franz Anton Valerian Ferdinand Graf von Magnis pada 16 Mei 1936 di Eckersdorf, Jerman — kini wilayah Polandia. Magnis berasal dari keluarga bangsawan Katolik.
“Panggilannya ditemukan pada 1955 dan dia bergabung dengan Ordo Jesuit (SJ) setelah menyelesaikan pendidikan di Jerman, dan ditahbiskan menjadi imam pada 1961. Tahun 1967, dia datang ke Indonesia sebagai Misionaris muda dan di sinilah kisah cinta itu dimulai,” ungkap Redaksi Majalah Hidup.
Dikatakan, Romo Magnis, jatuh cinta pada budaya lokal dan belajar bahasa Jawa di Girisonta, Jawa Tengah, dan akhirnya ditahbiskan menjadi Romo di Yogyakarta. Tahun 1969 bersama para sahabat, dia mendirikan Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara di Jakarta. Kini, STF Driyarkara menjadi Mercusuar studi filsafat di Indonesia.
Romo Magnis, pada tahun 1977 memilih menjadi Warga Negara Indonesia seutuhnya dengan nama Suseno– dia tambahkan sebagai tanda cinta pada tanah Jawa. Sedangkan tahun 1981 lahirlah Etika Jawa, buku mahakarya yang membedah nilai, keteraturan, dan keselarasan hidup masyarakat Jawa. Buku ini jadi rujukan lintas generasi.
Sementara salah seorang alumni STF Driyarkara Jakarta, Dr. Philiph Gobang, kepada pijarberita.com, mengatakan, di era Orde Baru yang penuh tekanan, suaranya tidak pernah padam. Melalui mimbar akademik dan tulisan di media massa, dia konsisten menyuarakan keadilan sosial, HAM, dan demokrasi. “Romo Magnis menjadi jembatan dialog antar-umat beragama. Persahabatannya dengan Gus Dur dan Nurcholish Madjid (Cak Nur) menjadi bukti bahwa perbedaan bisa dirajut dalam persaudaraan,” kata Philiph.
Redaksi Majalah Hidup menambahkan, atas pengabdiannya, pemerintah menganugerahkan Bintang Mahaputera Utama pada 2015, penghargaan tertinggi bagi warga negara yang berjasa besar bagi bangsa. Kini, diusia 90 tahun, Romo Magnis tetap menulis, mengajar, dan berbicara. Dia tidak mencari panggung dan setia menjadi “kompas moral” bagi siapa saja yang mencari arah di tengah bisingnya zaman. Pemikiran yang jujur, iman yang membumi, dan cinta pada Indonesia, bisa menyala selama seumur hidup. (alk)
Editor: Jufri Alkatiri
