Oleh: Prof. Dr. Murodi al-Batawi,MA*
Setiap kali Idul Adha tiba, terminal, stasiun, dan jalan tol kembali padat. Gelombang mudik kedua setelah Lebaran Idul Fitri kembali terjadi. Masyarakat menyebutnya Lebaran Haji atau Lebaran Kurban, yang dalaam konsep Islam dikenal dengan Idul Adha. Di balik keramaian itu, ada satu benang merah yang kuat, pulang kampung.
Pulang kampung saat Idul Adha bukan sekadar tradisi tahunan– tetapi cara masyarakat Indonesia, khususnya umat Islam, kembali menyambungkan diri dengan akar—keluarga, kampung halaman, dan nilai gotong royong yang makin tergerus oleh hiruk pikuk kota.
Lebaran Haji sebagai Ruang Silaturahmi
Idul Adha identik dengan kurban dan pembagian daging– namun di kampung, daging kurban jarang berhenti di piring keluarga inti– dibagikan ke tetangga, kerabat jauh, bahkan musafir yang singgah. Proses inilah yang menghidupkan kembali silaturahmi.
Di kota besar, silaturahmi sering terbatas pada grup WhatsApp dan ucapan virtual. Di kampung, ia terjadi secara fisik: bersalaman di halaman masjid, duduk lesehan makan ketupat dan sate kambing bersama, saling bertanya kabar tanpa jarak. Lebaran Haji menjadi momen mempertemukan kembali sanak saudara yang tersebar karena kerja dan pendidikan.
Kota menawarkan kemajuan, tetapi juga membuat orang mudah kehilangan identitas. Logat berubah, kebiasaan berubah, bahkan cara berpikir pun ikut berubah. Pulang kampung saat Idul Adha mengembalikan seseorang pada memori awal: rumah sederhana, sawah di belakang rumah, dan suara takbir yang menggema dari masjid kampung.
Di sinilah Idul Adha berfungsi sebagai “reset” sosial– mengingatkan bahwa sebelum menjadi pekerja kantoran, pedagang, atau mahasiswa di kota, seseorang adalah anak dari kampung yang besar dalam nilai kebersamaan. Makna kurban—berbagi dan berkorban—menjadi lebih terasa ketika dilakukan di lingkungan tempat nilai itu pertama kali ditanamkan.
Tantangan Menjaga Tradisi di Era Moderen
Urbanisasi dan mobilitas tinggi membuat tradisi pulang kampung saat Lebaran Haji menghadapi tantangan. Banyak generasi muda lebih memilih merayakan di kota karena efisiensi waktu dan biaya. Kampung pun semakin sepi, tinggal orang tua dan anak-anak. Jika dibiarkan, tradisi ini bisa menjadi kenangan. Padahal, pulang kampung bukan hanya soal nostalgia– adalah proses regenerasi nilai. Anak-anak kota yang ikut mudik akan belajar langsung tentang gotong royong memotong hewan kurban, tentang pentingnya berbagi, dan tentang makna sederhana dari kebersamaan.
Menjaga Akar di Tengah Perubahan
Menjaga tradisi pulang kampung tidak berarti menolak modernitas. Pemerintah daerah dan tokoh masyarakat bisa memfasilitasi dengan membuat perayaan Idul Adha yang tertib, bersih, dan edukatif. Sekolah dan komunitas juga bisa menjadikan momen ini sebagai sarana pendidikan karakter.
Idul Adha dan pulang kampung mengingatkan bahwa kemajuan tidak harus mencabut seseorang dari akarnya. Justru dengan kembali ke akar, seseorang lebih kuat menghadapi perubahan zaman. Lebaran Haji bukan hanya tentang menyembelih hewan kurban. Ia tentang menyembelih ego yang membuat manusia merasa cukup sendiri. Pulang kampung adalah cara sederhana untuk kembali menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar: keluarga, kampung, dan umat. Semoga setiap perjalanan pulang saat Idul Adha tidak hanya membawa oleh-oleh, tetapi juga membawa pulang kembali semangat berbagi dan kepedulian yang mulai pudar di kota.
*Profesor Sejarah Peradaban dan Dosen Tetap Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Editor: Jufri Alkatiri
Caption Foto: Lebaran Haji, Pulang Kampung dan Kembali ke Akar Tradisi (Foto: Depok.pos)
