Piala Dunia Rasa Arisan

Oleh: Cak AT – Ahmadie Thaha*

Piala Dunia tinggal menghitung hari. Planet ini kembali bersiap menyaksikan drama 22 orang mengejar bola mulai 11 Jun 2026, sementara miliaran manusia mengejar tiket– dan seperti biasa yang paling ngos-ngosan bukan pemain sayap, melainkan rakyat jelata yang mencoba membeli kursi stadion tanpa harus menjual ginjal keluarga besar.

Di Amerika Serikat, negeri yang katanya paling canggih dalam urusan hukum, teknologi, dan kapitalisme level dewa, FIFA kini justru dipanggil Jaksa Agung New York dan New Jersey gara-gara urusan tiket.  Bayangkan– organisasi sepakbola paling kaya sedunia, yang logonya lebih sering muncul daripada logo PBB, kini diperiksa karena diduga memainkan trik “kelangkaan palsu”.  Bahasa kasarnya– tiket disembunyikan dulu, supaya harga melonjak seperti cabe menjelang Lebaran. Lucunya, praktik beginian ternyata universal– dari sepakbola kampung sampai Piala Dunia, penyakitnya sama: calo naik kasta jadi algoritma.

Dulu orang rebutan tiket di depan stadion sambil teriak-teriak dan dorong-dorongan. Sekarang? Yang mendorong adalah sistem  dynamic pricing. Nama moderennya memang terdengar elegan, seolah hasil riset profesor ekonomi MIT. Padahal intinya sederhana: makin orang pengin beli, makin dicekik harganya.

Inilah sepakbola era mutakhir– dulu bola disebut olahraga rakyat– kini rakyat hanya boleh menonton dari layar retak sambil menahan buffering dan cicilan motor. Stadion perlahan berubah jadi ruang eksklusif kaum sultan, konglomerat, influencer, dan tamu korporasi yang bahkan kadang tidak tahu offside itu bukan nama merek parfum. Harga tiket rata-rata tembus di atas seribu dolar. Itu kalau dirupiahkan sudah cukup buat beli kambing kurban ukuran optimistis.

FIFA memang menyediakan tiket murah sekitar 60 dolar, tetapi jumlahnya cuma secuil– ibarat sedekah nasi kotak di acara nikahan pejabat: diumumkan megah, stoknya hilang dalam tiga menit– yang lebih lucu lagi adalah urusan kursi. Fans membeli kategori premium dengan harapan bisa melihat pori-pori wajah pemain. Ternyata dapat kursi yang jaraknya lebih cocok untuk mengamati migrasi burung. Ada yang bayar mahal tetapi ujung-ujungnya duduk di belakang gawang, di sudut stadion, atau nyaris dekat parkiran bus.

Beginilah kalau sepakbola terlalu lama bercinta dengan kapitalisme tanpa pengawasan. Semua diukur berdasarkan demand. Bahkan emosi manusia pun dijadikan komoditas. Cinta fans kepada tim nasional kini diperlakukan seperti saham kripto: makin fanatik, makin diperah. FIFA tampaknya memang telah berevolusi dari federasi olahraga menjadi kerajaan ekonomi global.

Bahasa resminya masih bicara persatuan umat manusia, sportivitas, dan perdamaian dunia– tetapi di balik itu, tiket pertandingan diatur seperti perdagangan minyak internasional. Bahkan kursi stadion pun kini punya kasta sosial yang lebih rumit daripada silsilah bangsawan Eropa.

Padahal sepakbola selalu lahir dari lorong-lorong rakyat. Dari gang sempit. Dari lapangan becek. Dari anak kecil yang bermain tanpa sepatu sambil berteriak “gol!” kepada batu bata yang dijadikan tiang gawang. Ironis sekali ketika olahraga yang tumbuh dari kemiskinan justru kini makin sulit disentuh orang miskin.

Mungkin ini memang takdir zaman– semua yang dicintai massa cepat atau lambat akan dipagari sponsor, dibungkus hak siar, lalu dijual kembali kepada massa dengan harga premium. Musik begitu. Pendidikan begitu. Bahkan air minum pun begitu. Tinggal tunggu waktu saja sampai ada paket “napas premium” dengan fitur oksigen lebih segar untuk pelanggan VIP. Namun ada satu hal yang selalu gagal dibeli FIFA: gairah manusia. Sebab meski tiket mahal, kursi absurd, dan harga melangit seperti roket Elon Musk, orang tetap mencintai sepakbola.

Mereka tetap menabung– tetap antre. Tetap berharap– karena sepakbola bukan sekadar pertandingan– sudah menjadi agama sekuler paling global setelah kapitalisme– dan mungkin di situlah pelajarannya. Bahwa dunia moderen semakin pandai menjual mimpi, tetapi semakin buruk dalam menjaga keadilan.  Stadion makin megah, layar makin tajam, teknologi makin canggih, tetapi rasa memiliki rakyat terhadap permainan ini justru makin terkikis.

Piala Dunia akhirnya bukan hanya tentang siapa juara di lapangan– tentang siapa yang sanggup membeli akses menuju kegembiraan– dan di era sekarang, tampaknya trofi paling mahal bukan lagi Golden Cup, melainkan tiket masuknya.

*Jurnalis Senior dan Kolumnis

Editor: Jufri Alkatiri

Caption Foto: Piala Dunia Rasa Arisan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *