Idul Adha dan Tradisi Kurban Masyarakat Betawi

Oleh: Prof. Dr. Murodi al-Batawi,MA*

Idul Adha di Kampung Betawi selalu punya wajah berbeda– bukan hanya soal penyembelihan hewan kurban, tetapi juga tentang gotong royong, silaturahmi, dan pelestarian nilai-nilai kampung yang makin tergerus urbanisasi. Di Condet, Cakung, Kebayoran Lama, hingga Kampung Baru, kurban bukan sekadar ibadah ritual, melainkan perekat sosial masyarakat Betawi.

Tradisi kurban di Betawi hidup dalam sistem urunan atau patungan kampung. Warga mengumpulkan dana secara sukarela, lalu panitia masjid atau majlis taklim membeli hewan dan mengatur penyembelihan, selain ada Betawi Tajir yang membeli sendiri hewan kurban kemudian menyerahkan ke panitia Kurban di Masjid dan lain-lain. Proses ini biasanya dilakukan di halaman masjid atau lapangan terbuka, disaksikan warga dari anak-anak hingga orang tua.

Hal yang menarik, pembagian daging kurban di Betawi mengikuti pola jatah kampung– sepertiga untuk keluarga yang berkurban, sepertiga untuk kerabat dan tetangga, dan sepertiga untuk fakir miskin. Pola ini menjaga agar tidak ada warga yang merasa terpinggirkan. Di sinilah nilai sedulur dan tetangga dalam adat Betawi benar-benar dihidupkan.

Makna Simbolik di Balik Ritual 

Kurban di Betawi tidak berhenti pada pemotongan hewan. Setelah pembagian daging, warga biasanya makan bersama dengan menu khas: soto betawi, sate kambing, gado-gado, dan ketupat. Momen ini menjadi ajang silaturahmi antar warga yang mungkin jarang bertemu karena kesibukan kota.

Anak-anak juga dilibatkan– mereka diajak melihat proses penyembelihan, belajar memotong daging, dan memahami makna pengorbanan Nabi Ibrahim. Di sinilah kurban menjadi media pendidikan moral dan spiritual di luar pengajian. Nilai syukur, berbagi, dan kepedulian ditanamkan secara alami melalui praktik.

Urbanisasi Jakarta mengubah wajah kampung Betawi– banyak warga pindah ke rusun dan apartemen, lahan terbuka untuk penyembelihan makin terbatas, dan harga hewan kurban terus naik. Akibatnya, praktik gotong royong fisik mulai berkurang. Penyembelihan kini sering dilakukan di RPH, dan distribusi daging dikoordinasi lewat grup WhatsApp warga.

Meski efisien, perubahan ini mengurangi suasana kebersamaan yang menjadi ciri khas kurban Betawi. Generasi muda juga perlu diedukasi agar tidak melihat kurban hanya sebagai transfer daging, tetapi sebagai ibadah sosial yang membangun solidaritas kampung.

Idul Adha seharusnya menjadi momen untuk merawat identitas Betawi. Ulama, tokoh masyarakat,tokoh agama dan pengurus majlis taklim punya peran penting untuk menjaga agar tradisi gotong royong tetap hidup. Pemerintah daerah juga bisa mendukung dengan menyediakan ruang publik untuk penyembelihan yang higienis dan sesuai syariat.

Jika tradisi ini dipelihara, kurban tidak hanya menjadi ibadah individu, tetapi juga warisan sosial Betawi–mengingatkan kita bahwa menjadi Betawi bukan hanya soal logat dan ondel-ondel, tetapi juga soal rasa peduli terhadap tetangga dan kampung halaman. Idul Adha di Betawi mengajarkan bahwa pengorbanan sejati adalah ketika kita rela berbagi, bukan hanya harta, tetapi juga waktu, tenaga, dan kebersamaan.

*Profesor Sejarah Peradaban dan Dosen Tetap Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Editor: Jufri Alkatiri

Caption Foto: Idul Adha dan Tradisi Kurban Masyarakat Betawi (Depok.pos)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *