Oleh: Toto Izul Fatah*
Alam adalah makhluk Tuhan yang juga bisa bicara– ada kalanya alam merasakan sakit dan ada kalanya alam juga marah. Bedanya dengan manusia, alam berbicara dengan isyarat. Pada saat tertentu, misalnya, langit bisa berbicara lebih keras dari pidato para pemimpin negeri. Hujan turun tidak lagi sebagai berkah, tetapi kadang hadir sebagai musibah. Sungai meluap bukan semata karena air yang berlebihan, melainkan karena kesabaran alam yang telah terlalu lama dipaksa menanggung luka.
Gunung berguncang, tanah merekah, lereng runtuh, laut meninggi, dan angin bertiup dengan tabiat yang sukar ditebak– semua itu seolah alam sedang berbicara untuk mengabarkan satu hal, bahwa ada yang tidak beres dalam cara manusia tinggal di bumi– lalu, kita sering menyebutnya bencana alam.
Padahal, boleh jadi, yang lebih dahulu menjadi bencana bukanlah alam, melainkan pengisi alam, yaitu manusia itu. Manusialah yang menebang tanpa malu, menggali tanpa batas, membuang tanpa rasa bersalah, membangun tanpa hikmah, dan mengambil tanpa pernah belajar cukup. Ketika hutan dibabat, sungai dicekik, gunung dilukai, laut dikotori, lalu banjir datang dan longsor menelan rumah-rumah, sesungguhnya kita sedang menyaksikan pantulan dari tangan kita sendiri. Alam hanyalah cermin. Dan cermin, pada akhirnya, hanya memantulkan wajah siapa yang berdiri di hadapannya.
Itulah manusia. Kerakusan dan keserakahan makhluk Tuhan yang katanya mulia dan sempurna itu, justru yang sebenarnya menjadi penyebabnya. Apa yang dilakukan manusia terhadap alam, itu pula yang akan diterima manusia dari alam. Sesuai dengan firman Allah dalam alQuran, bahwa kerusakan di bumi itu sesungghnya karena ulah manusia itu sendiri.
Dalam pandangan iman seperti itu, alam bukan benda mati yang tak bernilai. Ia adalah ayat-ayat Tuhan yang terhampar. Langit adalah tanda. Bumi adalah tanda. Hujan adalah tanda. Angin adalah tanda. Gunung adalah tanda. Bahkan gemuruh petir dan retak tanah pun bisa menjadi tanda. Masalahnya, manusia modern terlalu sibuk membaca angka, tetapi lupa membaca makna. Terlalu pandai menghitung laba, tetapi lalai menghitung dosa. Terlalu canggih membangun mesin, tetapi gagal membangun nurani.
Padahal, kerusakan di muka bumi hampir selalu bermula dari kerusakan di dalam dada. Tangan yang rakus lahir dari hati yang kosong. Keserakahan ekologis tidak pernah berdiri sendiri– biasanya berakar pada kemiskinan ruhani. Manusia yang tidak lagi merasa diawasi Tuhan akan mudah merasa bahwa bumi adalah miliknya. Manusia yang putus dari rasa syukur akan mengira alam hanyalah gudang yang bebas dijarah.
Manusia yang kehilangan adab kepada ciptaan, lambat laun akan kehilangan adab kepada Sang Pencipta– karena itu, ancaman ke depan sesungguhnya bukan hanya banjir, gempa, longsor, kekeringan, kebakaran, atau musim yang kian sulit ditebak– yang lebih mengkhawatirkan adalah amuk pengisi alam itu sendiri– yakni, manusia yang batinnya makin gersang. Manusia yang mudah marah, mudah curiga, mudah diadu domba, mudah membenci, dan mudah menjual nuraninya demi kuasa dan keuntungan.
Di tengah tekanan ekonomi, ketimpangan sosial, harga hidup yang makin mahal, politik yang gaduh, dan dunia yang terus dipenuhi ancaman perang, manusia dapat berubah menjadi makhluk yang paling berbahaya, bukan karena kekuatan tubuhnya, tetapi karena hilangnya kendali jiwanya. Kita hidup di zaman ketika kemajuan berjalan berdampingan dengan kegelisahan. Teknologi melesat, tetapi ketenangan makin sulit didapat. Informasi berlimpah, tetapi kebijaksanaan terasa makin langka. Rumah-rumah makin megah, tetapi hati banyak orang justru makin sempit. Jalan-jalan makin lebar, tetapi arah hidup makin kabur.
Inilah ironi besar peradaban. Manusia berhasil menaklukkan banyak hal di luar dirinya, tetapi gagal menaklukkan hawa nafsunya sendiri. Dalam bahasa agama, ini bukan sekadar soal krisis lingkungan atau krisis geopolitik. Ini adalah krisis amanah.
Manusia lupa bahwa diciptakan bukan hanya untuk menikmati bumi, tetapi juga untuk merawatnya. Mereka lupa bahwa bukan pemilik mutlak, melainkan hanya penumpang yang kelak dimintai pertanggungjawaban. Di atas semua itu– ada ancaman lain yang tiak kalah menyesakkan, yaitu perang. Bukan hanya perang senjata, tetapi juga perang kepentingan, perang narasi, perang ekonomi, perang identitas, perang kebencian. Dunia hari ini seperti sedang duduk di atas bara.
Sekali saja angin besar bertiup, percik kecil bisa menjelma kobaran besar. Ketika manusia di tingkat global semakin mabuk kuasa, ketika senjata diperlakukan lebih penting daripada kemanusiaan, ketika diplomasi kalah oleh ego, maka yang terancam bukan hanya batas wilayah, tetapi juga masa depan peradaban. Lalu, apa yang patut direnungkan?
Pertama, mungkin sudah saatnya manusia berhenti merasa paling berkuasa. Sebab di hadapan gempa, banjir besar, longsor, wabah, krisis pangan, atau perang, betapa kecil sebenarnya kesombongan manusia. Kedua, kita harus belajar kembali memandang alam dengan mata takzim. Alam bukan sekadar sebagai sumber daya, melainkan sebagai titipan yang harus dijaga dengan adab. Ketiga, masyarakat harus memperkuat ikatan sosial dan spiritual. Contohnya, tetangga yang peduli, pemimpin yang hadir, ulama yang meneduhkan, dan orang kaya yang berbagi.
Keempat, kita harus memperbanyak muhasabah– bukan sekadar analisis. Sebab tidak semua persoalan selesai dengan data, dan tidak semua ancaman cukup dijawab dengan teori. Ada saat ketika yang dibutuhkan manusia adalah hening, doa dan tobat. Kelima, para pemimpin harus ingat bahwa kekuasaan bukan hanya soal membangun proyek, tetapi juga menjaga keseimbangan hidup rakyat dan alam. Pemimpin bukan hanya pandai berpidato, tetapi sanggup mendengar rintihan bumi.
Untuk bisa mewujudkan kelima pesan di atas, mulailah dengan kecerdasan membaca isyarat alam — dan jangan gagal membaca tanda-tanda alam. Apalagi, tanda-tanda itu kini sudah ada di mana-mana. Sekarang, langit memberi isyarat yang tak lagi mudah dibaca. Hujan yang jatuh tidak pada waktunya. Tanah yang sudah mulai bergeser. Udara yang kian panas dan seterusnya. Sementara, pada saat yang sama, wajah-wajah rakyat mulai cemas. Semua itu pada saatnya akan menjadi benih yang potensial meledak kapan saja, yaitu terjadi amuk alam dan pengisi alam.
*Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA dan Ketua Umum IKA PP Ibadurrahman YLPI Tegalega Sukabumi Jawa Barat
Editor: Jufri Alkatiri
