Ijtihad Pendidikan Ulama Indonesia: Saat Santri Butuh Lebih dari Kitab Kuning, dan Ulama Butuh Lebih dari Mimbar

Oleh: Prof. Dr. Murodi al-Batawi,MA*

Kurikulum pesantren banyak yang masih sama sejak 1990– pagi Sorogan, siang Bandongan, malam Bahtsul Masail. Bagus- tetapi di luar tembok pesantren, dunia 2026 sudah berubah 3 kali lipat: AI ngambil alih kerjaan, polarisasi membelah bangsa, dan ekonomi pindah ke digital. Pertanyaannya jujur: apakah ijazah yang sama sejak 1990 cukup untuk menaklukkan tantangan 2026? Jika tidak– maka ulama Indonesia hari ini dipanggil untuk ijtihad pendidikan. Berani menambah Kitab Kuning zaman now — tanpa mengkhianati Kitab Kuning yang dulu.

Indonesia 2026 punya 2 fakta yang kontradiktif.  Pertama, kita punya lebih dari 29 juta santri dan lebih dari 39 ribu pesantren. Jumlahnya terbesar di dunia. Kedua, kita juga punya lebih dari 9,8 juta pengangguran usia muda– sebagian besar lulusan pesantren bingung setelah khatam: mau ngaji terus atau kerja apa?

Di tengah kontradiksi itu, ijtihad, kata Imam Syafi’i, adalah mencurahkan segenap kemampuan untuk menemukan hukum Allah atas persoalan baru. Persoalan baru umat hari ini bukan lagi darah haid berapa hari. Persoalannya: AI ngambil kerjaan, santri saya harus ngapain? Polarisasi politik masuk grup WA, santri saya harus bersikap gimana? Ekonomi digital, tapi santri saya gagap teknologi.

Sayangnya, ijtihad pendidikan ulama kita masih tertahan di 3 tembok yang harus didobrak tahun ini: Pertama,  tembok  kiblat ilmu Tunggal– yang terlupakan: sunnah Nabi sebagai guru. Nabi Muhammad adalah guru pertama umat ini. Lihat kurikulum beliau: hafalan Al-Quran + panah + berkuda + dagang + strategi perang + negosiasi Piagam Madinah. Seimbang antara “ilmu langit” dan ilmu bumi. Tidak ada dikotomi.

Pesantren hari ini sering terjebak kiblat Tunggal– yang penting Kitab Kuning. Bagus– tetapi kalau santrinya lulus hanya bisa baca Alfiyah— tetapi tidak bisa bikin proposal, tidak bisa coding, tidak bisa public speakin– maka ia akan kalah di pasar kerja 2026. Ijtihad ulama hari ini: berani menambah  Kitab Kuning zaman now. Kitabnya bernama literasi digital, literasi finansial, literasi data, dan literasi empati. Bukan mengganti Sorogan, tetapi menyandingkan Sorogan dengan skill yang dipakai HRD. Ingat pesan KH Hasyim Asy’ari —Hubbul wathan minal iman. Cinta tanah air bagian dari iman. Kalau cinta, maka santri harus disiapkan untuk memimpin, bukan hanya untuk dipimpin.

Kedua, tembok ulama di mimbar saja– yang terlupakan: ulama harus di laboratorium juga. Dahulu, ulama Nusantara seperti KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari tidak hanya ceramah. Mereka bikin sekolah, rumah sakit, koperasi, dan universitas. Muhammadiyah dan NU lahir dari ijtihad pendidikan: bagaimana Islam menjawab masalah konkret umat. Sekarang banyak ulama hebat di mimbar, tetapi absen di ruang kelas, absen di startup, absen di Balai Desa. Padahal masalah umat sudah pindah: dari mimbar ke layar HP, dari masjid ke marketplace, dari khutbah ke algoritma.

Ijtihad pendidikan menuntut ulama turun gunung– bukan meninggalkan kitab, tetapi membawa kitab ke tempat masalah. Bikin pesantren coding di Papua. Bikin pesantren agrobisnis di NTT. Bikin pesantren jurnalisme untuk lawan hoaks. Ulama tidak harus jadi programmer– tetapi ulama harus jadi  arsitek kurikulum  yang berani bilang: “Nak, setelah khatam Fathul Qarib, kamu wajib bisa bikin CV dan presentasi”.

Ketiga, tembok takut salah– yang terlupakan: ijtihad pasti ada risiko. Imam Malik pernah bilang: “Setiap orang bisa diambil dan ditolak perkataannya– kecuali penghuni kubur ini sambil menunjuk makam Nabi. Artinya: ijtihad itu dinamis, boleh dikoreksi– tetapi realitas pesantren hari ini: banyak pengasuh takut bereksperimen. Takut dituduh liberal  kalau masukin pelajaran desain grafis– takut dituduh “sekuler” kalau santri magang di perusahaan. Akibatnya: kurikulum mandek di 1990, sementara dunia sudah 2026. Padahal ruh pesantren adalah adaptasi. Dahulu pesantren adaptasi ke zaman penjajahan dengan bikin  sekolah liar. Sekarang pesantren harus adaptasi ke zaman AI dengan bikin santri AI-literate. Ijtihad pendidikan ulama adalah keberanian untuk mencoba. Gagal? Koreksi–tetapi jangan diam. Diam di tengah perubahan cepat — memilih punah pelan-pelan.

Lalu ijtihadnya seperti apa? Berikut 3 langkah konkret 1447 H ini: 1. Kurikulum  Serambi + Serambi. Serambi ilmu agama + Serambi skill dunia. Contoh: pagi Sorogan, sore kelas digital marketing. Malam Bahtsul Masail, subuh Tahajud. Seimbang. Tidak timpang. 2. Ulama sebagai  Mudir Ekosistem– Kyai tidak hanya ngajar, tapi jadi penghubung. Hubungkan santri ke UMKM, ke kampus, ke investor, ke pemerintah desa. Pesantren jadi “startup incubator” berbasis akhlak. 3. Santri sebagai “Insinyur Peradaban”. Targetnya bukan hanya “hafal 30 juz”. Tapi “hafal 30 juz + bisa selesaikan 1 masalah desa”. Contoh: bikin aplikasi jadwal imam masjid, bikin sistem irigasi otomatis, bikin konten dakwah yang tidak menggurui.

Karena Ulama pewaris Nabi, maka harus mewarisi keberaniannya– Nabi berijtihad saat tidak ada wahyu turun. Beliau konsultasi ke Salman soal strategi perang Khandaq. Beliau terima saran Habab bin Mundzir soal posisi sumur Badar. Itu ijtihad pendidikan: guru yang mau belajar dari muridnya. Ulama Indonesia hari ini pewaris kursi itu.

Kursi yang berat, karena umat menaruh harap. Lebih dari 29 juta santri sedang menunggu: apakah kurikulum kita akan mencetak  hafidz yang gagap kerja, atau hafidz yang jadi solusi bangsa”? 1447 H adalah momentumnya. Jangan sampai kita rayakan hari santri, tetapi lupa mencetak santri yang siap menaklukkan hari esok– karena di akhir zaman, yang dibutuhkan bukan hanya ulama yang banyak hafalan– tetapi ulama yang banyak ijtihad. Ulama yang berani bilang: Kitabnya tetap, metodenya berubah. Aqidahnya kokoh, strateginya lentur. Wallahu a’lam bishshawab.

*Profesor Sejarah Peradaban dan Dosen Tetap Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *