Tahun Baru Hijriyah 1448 H: Hijrah sebagai Paradigma Peradaban, bukan Sekadar Seremonial

Oleh: Prof. Dr. Murodi al-Batawi,MA*

Selasa, 16 Juni 2026– menjadi tanggal yang istimewa bagi umat Islam di Indonesia. Pada hari itu, tepat setelah matahari terbenam pada Senin, 15 Juni 2026– umat Islam resmi memasuki bulan Muharram—bulan pertama dalam kalender Hijriyah—dan tahun baru 1448 Hijriyah. Pemerintah melalui Kementerian Agama telah menetapkan 01 Muharram 1448 H jatuh pada Selasa, 16 Juni 2026 . Hari itu pun ditetapkan sebagai hari libur nasional berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri, meskipun tidak disertai cuti bersama– namun, di tengah kemeriahan pemasangan spanduk, pawai obor, dan berbagai kegiatan seremonial lainnya, kita perlu bertanya:, apakah pergantian tahun Hijriyah ini benar-benar kita maknai sebagai sebuah hijrah atau sekadar pergantian angka yang lewat begitu saja?

Sejarah yang Nyaris Terlupakan: Tahun Baru Hijriyah bukanlah warisan dari masa Jahiliyah yang kemudian diadopsi oleh Islam. Sejarah mencatat, penetapan awal tahun Hijriyah dimulai pada masa kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab RA . Saat itu, beliau bermusyawarah dengan para sahabat untuk menentukan penanggalan resmi umat Islam. Beberapa usulan muncul, ada yang mengusulkan tahun kelahiran Nabi, ada yang mengusulkan tahun pengangkatan beliau sebagai rasul– namun, keputusan bulat jatuh pada tahun hijrah peristiwa perpindahan Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah .

Mengapa hijrah yang dipilih. Bukan karena sekadar momentum geografis, tetapi karena peristiwa hijrah mengandung perubahan fundamental dalam sejarah dakwah Islam. Hijrah tidak hanya memindahkan lokasi fisik, tetapi mengubah struktur sosial, politik, dan ekonomi masyarakat Madinah secara radikal. Peristiwa inilah yang menjadi titik balik kebangkitan peradaban Islam, the starting point of the Islamic era.

Marilah kita sejenak merenungkan apa yang terjadi pada tahun 622 Masehi itu– setelah sekitar 13 tahun berdakwah di Makkah dengan tekanan yang tidak tertahankan, Nabi Muhammad SAW memutuskan untuk hijrah– bukan karena keinginan pribadi, tetapi karena ancaman pembunuhan dari kaum kafir Quraisy yang telah bersepakat untuk membunuh beliau .

Bayangkan strategi yang disusun: Nabi keluar melalui pintu belakang rumahnya pada malam hari, sementara Sayyidina Ali bin Abi Thalib tidur di tempat tidur beliau untuk mengelabui para pembunuh yang mengepung rumah. Selama tiga hari, Rasulullah dan Abu Bakar Ash-Shiddiq bersembunyi di Gua Tsur—gua gelap yang penuh dengan ular dan kalajengking .

Bayangkan juga pengorbanan kaum Muhajirin yang meninggalkan seluruh harta benda mereka di Makkah. Mereka datang ke Madinah dengan tangan hampa, tanpa apa pun kecuali iman di dada– dan kaum Anshar, dengan kedermawanan luar biasa, menyambut saudara-saudara mereka dengan membuka rumah dan berbagi rezeki. Itulsh Inilah hakikat hijrah, pengorbanan total. Bukan sekadar pindah rumah atau ganti baju.

Ketika Hijrah Direduksi

Sayangnya– seiring berjalannya waktu, pemahaman tentang hijrah sering kali mengalami reduksi makna– karena itu, Muharram Bukan Bulan Hijrahnya Nabi mengingatkan bahwa banyak umat Islam saat ini memahami hijrah secara dangkal—sekadar sebagai perpindahan tempat tinggal ke komunitas yang lebih religius atau sekadar perubahan penampilan luar seperti mulai berjilbab atau memelihara jenggot. Padahal, bulan Muharram sendiri—bulan pertama dalam kalender Hijriyah—memiliki keutamaan yang luar biasa. Muharram adalah salah satu dari empat bulan haram, (bulan suci) yang dimuliakan Allah, sebagaimana disebutkan dalam Surah At-Taubah ayat 36: Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram…

Rasulullah SAW — bahkan menyebut Muharram sebagai bulan Allah dan menganjurkan umatnya untuk memperbanyak puasa di dalamnya. Keutamaan puasa Asyura (10 Muharram) pun sangat istimewa: menghapus dosa setahun yang lalu — namun, apakah kita hanya berpuasa tanpa mengubah perilaku? Apakah kita hanya membaca doa awal tahun  tanpa mengubah arah hidup? Inilah ironi yang perlu kita renungkan.

Tahun Baru Hijriyah 1448 H seharusnya menjadi momentum untuk merevitalisasi semangat hijrah dalam konteks kekinian. Bukan hijrah fisik dari satu kota ke kota lain, tetapi hijrah dari: 1. Hijrah Intelektual— Bergerak dari keterbelakangan pendidikan menuju penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Umat Islam tidak boleh lagi menjadi konsumen peradaban, tetapi harus menjadi produsen. 2. Hijrah Ekonomi — Bangkit dari ketergantungan menuju kemandirian ekonomi. Semangat wirausaha, kerja keras, dan kejujuran harus menjadi karakter setiap muslim. 3. Hijrah Sosial — Meninggalkan sikap intoleransi, kekerasan, dan ekstremisme menuju kedamaian dan rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin). 4. Hijrah Moral— Membersihkan diri dari korupsi, kebohongan, dan perbuatan tercela menuju integritas dan akhlak mulia. 5. Hijrah Ekologis— Menjadi bagian dari solusi krisis lingkungan, bukan bagian dari perusak alam.

Muharram dan Refleksi Akhir

Penetapan 1 Muharram sebagai awal tahun Hijriyah mengajarkan bahwa perubahan dimulai dari langkah kecil yang konsisten– tidak perlu menunggu momen besar untuk berubah. Cukup mulai dari hari ini. Sebagaimana tersurat dalam tema-tema spanduk yang banyak kita jumpai menjelang tahun baru ini. Hijrah Bukan Sekadar Perpindahan, tetapi Perubahan Menuju Kebaikan; Satu Langkah Hijrah Lebih Berarti daripada Menunda Perubahan; Jadikan Muharram sebagai Awal Perubahan Menuju Ketakwaan.

Di saat kita bersiap menyambut 01 Muharram 1448 H– pertanyaan yang harus kita ajukan kepada diri sendiri adalah sudahkah kita benar-benar berhijrah? Sudahkah kita meninggalkan kebiasaan buruk yang selama ini membelenggu? Sudahkah kita memulai langkah kecil menuju perbaikan? Atau kita hanya akan menjadi penonton dalam perayaan seremonial tahunan yang tidak bermakna.

Hijrah tidak pernah mengenal kata terlambat– selagi hayat masih dikandung badan, selama itu pula pintu hijrah terbuka lebar– yang diperlukan bukan sekadar niat, tetapi aksi nyata. Selamat Tahun Baru Hijriyah 1448 H. Semoga kita semua menjadi pribadi yang senantiasa berhijrah menuju kebaikan—dari gelap menuju terang, dari sempit menuju luas, dan dari kerugian menuju keberuntungan. Hijrah hari ini lebih baik dari kemarin, dan esok lebih baik dari hari ini. Wallahu a’lam bish-shawab.

*Profesor Sejarah Peradaban dan Dosen Tetap Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *