Kontekstualisasi Makna Hijrah: Hijrah Membangun Peradaban

Oleh: Prof. Dr. Murodi al-Batawi,MA*

Kedatangan Tahun Baru Hijriyah 1448 H, 01 Muharam 1448 H untuk menguji kita– mau berhenti di cerita Makkah-Madinah– atau mulai membangun Madinah kecil hari ini– karena, setiap tanggal 01 Muharam kita pasti nostalgia. Nostalgia rute hijrah Nabi dari Kota Makkah ke Madinah, lewat Gua Tsur, Quba, dan baru Madinah. Kita haru dengar kisah kelelahan sahabat. Kita ucapkan 1448 H, semoga lebih baik.

Nostalgia itu manusiawi– tetapi bangsa ini tidak bisa maju hanya dengan nostalgia– kalau hijrah hanya jadi cerita sejarah 15 abad lalu, maka 1448 H tidak akan beda dengan 1447 H. Hidup kita tetap sama, masalah bangsa tetap sama. Islam selalu mengingatkan bahwa ruh hijrah bukan di masa lalu. Ruh hijrah ada di keberanian kita membangun peradaban hari ini.

Nostalgia bikin air mata. Hijrah bikin keringat. Nostalgia cukup duduk dengar ceramah. Hijrah menuntut kaki melangkah dan tangan bekerja. Al-Qur’an menyebut diksi hijrah 28 kali. Rasulullah definisikan: Al-Muhajir man hajara ma nahallaahu ‘anhu  – Orang berhijrah adalah yang meninggalkan larangan Allah. HR Bukhari.

Dahulu, para sahabat tinggalkan Makkah karena ada berhala batu. Hari ini berhala kita lebih halus, berhala hoaks yang kita sebar karena malas cek. Berhala pinjol ilegal yang menjerat tetangga. Berhala yang penting viral yang merusak akhlak anak.– karena itu, membangun peradaban 1448 H dimulai dari keberanian bilang “cukup” pada kebiasaan buruk. Meninggalkan itu sakit– tetapi Nabi berjanji, siapa tinggalkan sesuatu karena Allah, Allah ganti lebih baik.

Dari Nostalgia Madinah ke Bangun Sistem di Rumah Tangga

Kenapa Nabi memilih Madinah? — karena Makkah sistemnya rusak. Sistem ekonomi monopoli, perempuan direndahkan, konflik suku–karenanya, makna Hijrah berarti migrasi dari sistem rusak ke sistem adil. Sesampai Madinah, Nabi tidak bikin museum nostalgia Makkah. Beliau langsung bangun 3 sistem dalam 1 tahun. Masjid sebagai pusat  pendidikan, musyawarah, layanan sosial. Pasar sebagai pusat ekonomi  adil tanpa riba dan curang. Piagam Madinah_sebagai   konstitusi toleransi lintas iman                dan suku

Kontekstualisasi 1448 H– masalah Indonesia hari ini juga system– sistem keluarga yang HP lebih dekat dari orang tua. Sistem Rumah Tangga yang cuek sama stunting. Sistem ekonomi yang bikin miskin gali lubang tutup lubang. Membangun peradaban artinya kita berani menjadi Nabi di lingkungan sendiri. 10 menit usai mengaji untuk cek gizi balita keluarga dan tetangga. Majelis taklim menjadi sekolah literasi digital anti-hoaks. RW membangun koperasi bebas riba. Madinah tidak dibangun sehari, tetapi dibangun dari aksi kecil yang konsisten.

Kesalahan fatal adalah menganggap hijrah urusan  saya, sajadah, dan Tuhan. Padahal Hijrah Nabi 100 persen kerja kolektif. Muhajirin + Ansar + Yahudi Madinah — bahu-membahu membangun sistem peradaban– karena itu, Tahun Baru 1448 H menuntut 3 kerja kolektif Islam berkemajuan berkeadaban. Kerja 1: Peradaban Literasi–ancaman terbesar bukan pedang, tetapi AI deepfake dan hoaks. Bentengnya bukan BNPT– tetapi ibu-ibu majelis taklim. Indonesia punya 2 juta Majelis Taklim = 2 juta kampus rakyat– jika tiap bulan ustadzah sisipkan 10 menit mengaji digital– cara cek berita yang benar, cara bedakan pinjol legal OJK– akar rumput cerdas dan Indonesia kebal hoaks.

Kerja 2: Peradaban Ekonomi–Ruh hijrah adalah solidaritas Ansar-Muhajirin. Kontekstualisasi 1448 H: 10 keluarga mampu di 1 RW, komitmen dampingi 1 keluarga miskin/UMKM. Bukan bansos–tetapi pendampingan masysrakat– misal ajarkan bagaimana cara menabung yang baik dan benar, ajarkan jualan online halal. Islam berkemajuan dan berkeadaban lahir dari ekonomi gotong royong, bukan individualisme. Kerja 3: Peradaban Generasi– Banyak anak muda hijrah tetapi stuck di symbol– ganti bio IG. Bagus sebagai pintu–tetapi membangun peradaban menuntut substansi: dari 4 jam TikTok ke 15 menit ngaji + tafsir– dari FYP ke ikut 1 pelatihan skill gratis– dari penonton ke pelaku. Nabi hijrah umur 53 tahun tetap kerja keras. Masa kita 20 tahun hanya jadi buzzer kebaikan?

Nostalgia menoleh ke belakang. Hijrah menatap ke depan– nostalgia puas dengan dulu Nabi pernah– Hijrah bertanya  hari ini saya sudah apa? Ibnu Qayyim bilang– agama dibangun di atas mashlahah. Kalau hijrah tidak memberi manfaat nyata untuk tetangga, untuk bangsa, maka itu hanya nostalgia. 1448 H tidak tanya kita hafal Surah berapa juz. 1448 H tanya: tahun ini kita tinggalkan 1 dosa belum? Kita bangun 1 kebaikan belum? Kita ajak 1 orang ke jalan baik belum? Jangan tunggu 1449 H. Umur tidak menunggu Muharram. Bisa jadi ini Muharram terakhir kita.

Mari sambut 1448 H dengan keputusan tegas– hijrah membangun peradaban– bukan nostalgia. Tinggalkan yang buruk, kerjakan yang baik, ajak yang lain– dari cerita Madinah 622 M– menuju kerja membangun  Madinah kecil di 2026. Kullu ‘am wa antum bikhair. Semoga 1448 H jadi tahun kita benar-benar berhijrah. Wallahu a’lam bishshawab.

*Profesor Sejarah Peradaban dan Dosen Tetap Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Editor:Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *