Oleh: Anwar R. Soediro*
Dzikir Dalam Logika Kuantum
Upaya mengintegrasikan pemahaman fisika kuantum (seperti prinsip superposisi, entanglement, dan keberadaan simultan) dengan praktik dzikir atau pengingat Allah dalam Islam– seperti kesadaran dan realitas yang berlapis, menjadi dasar untuk interpretasi spiritual atau mistis dalam praktik zikir.
Dzikir bertujuan untuk menenangkan pikiran dan mengalihkan kesadaran dari mode kesadaran rasional ke mode kesadaran intuitif. Ini dicapai dengan berkonsentrasi pada satu hal, seperti bernapas atau berfokus pada lafadz Allah atau la ilaha illa Allah. Bahkan do’a, juga dianggap sebagai zikir untuk menenangkan pikiran, menghasilkan perasaan damai dan tenang yang merupakan ciri khas bentuk-bentuk zikir yang lebih statis.
Keterampilan ini digunakan untuk mengembangkan mode kesadaran meditatif. Dalam dzikir, pikiran dikosongkan dari semua pikiran dan konsep–,sehingga siap berfungsi dalam jangka waktu lama melalui mode intuitifnya. Ketika pikiran rasional dibungkam, mode intuitif menghasilkan kesadaran yang luar biasa, karena lingkungan dialami tanpa filter pemikiran konseptual. Ciri utama keadaan meditatif ini adalah pengalaman kesatuan dengan lingkungan sekitar, suatu keadaan kesadaran di mana fragmentasi berhenti dan memudar menjadi kesatuan yang tak terdiferensiasi.
Keselarasan dzikir dengan teori kuantum– bahwa tubuh manusia mengandung milyaran bioelektron, yang tersusun dalam sistem energi yang memiliki simpul utama jantung atau qolbu. Jaringan tubuh kita juga memiliki sistem jaringan energi, dengan simpul utama di jantung, jaringan itu menuju ke organ-organ tubuh lainnya, seperti otak, ginjal, paru, dan sebagainya.
Di dalam organ tersebut jaringan terpecah menuju sel-sel. Di dalam sel-sel, jaringan listrik itu dipecah lagi menuju molekul-molekul berjumlah jutaan molekul– dan akhimya seluruh jaringan itu berujung pada elektron-elektron yang berjumlah milyaran.
Dalam jaringan energi tubuh manusia, justru sebaliknya. Penghasil listrik yang sesungguhnya ada pada unit terkecil yaitu bioelektron– dari milyaran elektron itulah muncul sistem kelistrikan yang menjurus ke molekul-molekul, lantas mengisi sistem sel, mengaliri sistem organ, dan akhirnya membentuk sistem energi di seluruh tubuh manusia. Jantung atau hati menjadi simpul utama, semacam pusat kendalinya. Dengan sistem energi yang demikian terstruktur itu, maka tubuh manusia memang harus dilihat dalam pandangan yang komprehensif. Setiap terjadi perubahan pada salah satu strukturnya, maka perubahan itu akan mengimbas ke seluruh sistem energinya.
Salah satu fakta yang menarik adalah lewat jantung ini kita bisa mengukur denyutan listrik yang terkait dengan gerak hati atau jiwa kita. Pengukuran lewat ECG (Electric Cardio Graph) akan memberikan informasi kepada kita apakah seseorang sedang marah, sedih atau sedang tenang.
Jantung adalah cermin dari sikap, hati kita. Jadi, kembali kepada persoalan semula, bahwa seluruh sistem energi tubuh kita itu bisa kita pengaruhi dari sisi mana saja. Bisa kita stimulasi lewat organ, lewat sel, maupun lewat bio electron– dan yang paling mendasar adalah bahwa sistem itu memiliki frekuensi tertentu.
Jika seseorang sedang marah, maka seluruh sistem energi dalam tubuh kita itu akan bergetar dengan frekuensi kemarahan tersebut– yang mula-mula terserang adalah jantung hati kita. Jantung akan berdetak detak dengan frekuensi yang kasar– yang kemudian mempengaruhi kualitas kesehatan seseorang.
Getaran jantung itu lantas akan menyebar ke seluruh organ tubuh, menjalar ke jutaan sel dalam tubuh kita, dan akhirnya menggetarkan milyaran bio elektron di dalam tubuh kita– karena itu, ketika seseorang marah, maka bukan hanya jantungnya yang berdenyut tidak beraturan, melainkan juga seluruh tubuhnya gemetaran. Demikian pula sebaliknya, orang yang sedang dalam kondisi kejiwaan yang stabil. Orang yang sedang tenang hatinya, maka denyut jantungnya juga akan tenang, stabil dan lembut.
Getaran itu juga akan berimbas ke seluruh tubuhnya lewat organ, sel-sel dan Bio elektron. Merujuk pada ide-ide yang berasal dari teori kuantum dan dipadukan dengan praktik zikir dengan Al-Qur’an yang kemudian dapat mengalirkan energi positif untuk kebaikan hidup.
Fisika kuantum memulihkan hubungan subyek dan obyek yang dikaburkan “fisika klasik” Fisika kuantum, sebagai sains, mengembalikan konsep monisme. Bahwa dunia yang kita lihat adalah sekedar ilusi, proyeksi dari kesadaran. Interpretasi Kopenhagen memastikan “obyek (alam semesta) dan subyek (manusia yang mengamati) tidak bisa dipisahkan.” Schrodinger juga menyuarakan “Kuantum fisika mengungkapkan alam semesta yang tunggal”.
Fisikawan Paul Davies, dalam The Matter Myth (1991) bahkan mengajukan tesis “matinya materialisme” (The Death of Materialism)– dia berargumen, fisika kuantum, sebagai sains, telah membuka pemahaman baru tentang materi. Dunia quantum seperti partikel dan quark, bukanlah materi dan tidak tunduk pada kausalitas sebab akibat teori fisika klasik.
Bagaimanapun umat Islam harus sadar, bagi saintis sekaliber Schrödinger– pasti memahami, paradigma spiritualitas hanya mengandalkan intuisi, asumsi, perasaan, atau pengalaman subyektif– dan dalam sejarah perkembangan peradaban, cukup banyak berbagai aliran spiritual atau mistisisme yang memang berdasarkan intuisi, asumsi, perasaan, atau pengalaman subyektif.
Konsep-konsep besar (holistik) spiritualitas dzikir menarik untuk renungan memaknai kehidupan, namun hanya sebatas itu. Apakah konsep-konsep itu valid dan faktual? Apakah ada penjelasan definitif yang bisa memastikan konsep-konsep itu bukan spekulatif? Ini tugas sains untuk memvalidasi. (bersambung)
*Pemerhati Keagamaan, Filosof, Alumni Fakultas Teknik Pertanian UGM Yogyakarta, dan Fakultas Komputer Universitas Indonesia
Editor: Jufri Alkatiri
