Oleh: Benz Jono Hartono*
Takut Miskin, Takut Tidak Punya Jabatan, Takut Mati, Padahal Takut Itu Hanya Kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa
Di negeri yang mengaku berlandaskan Pancasila dan menjunjung tinggi nilai Ketuhanan Yang Maha Esa– kita justru menyaksikan fenomena yang semakin mengkhawatirkan, lahirnya banyak politisi yang lebih memilih menjadi follower daripada menjadi pemimpin. Mereka hadir di panggung kekuasaan bukan sebagai penentu arah, melainkan sebagai pengikut arus. Mereka tidak lagi berdiri tegak di atas keyakinan, melainkan sibuk membaca arah angin demi menyelamatkan posisi dan kepentingannya sendiri.
Politikus semacam ini bukanlah pemimpin sejati. Mereka adalah politisi bermental follower yang setiap langkah politiknya didasarkan pada rasa takut. Takut kehilangan jabatan. Takut kehilangan fasilitas. Takut kehilangan akses terhadap kekuasaan. Takut miskin– bahkan takut menghadapi risiko perjuangan yang menjadi konsekuensi dari sebuah sikap politik yang benar. Akibatnya, yang lahir bukan keberanian moral, melainkan budaya menjilat– yang tumbuh bukan sikap kenegarawanan, melainkan oportunisme. Mereka lebih sibuk menjaga kedekatan dengan penguasa daripada menjaga amanah rakyat yang telah memilihnya.
Padahal sejarah mengajarkan bahwa perubahan besar selalu lahir dari orang-orang yang berani melawan rasa takut. Para pendiri bangsa ini tidak memiliki jaminan kemenangan ketika melawan penjajahan. Mereka tidak memiliki kekayaan melimpah. Mereka tidak memiliki kekuasaan– bahkan nyawa mereka setiap saat terancam. Namun mereka tetap berdiri tegak karena yang mereka takutkan hanyalah Tuhan Yang Maha Kuasa.
Keberanian itulah yang kini semakin langka
Banyak politisi hari ini terlihat gagah ketika berada di belakang mikrofon, tetapi menjadi sangat lemah ketika berhadapan dengan kekuasaan. Mereka lantang mengkritik saat berada di luar lingkaran kekuasaan, namun mendadak diam ketika sudah memperoleh jabatan. Mereka berbicara tentang idealisme saat kampanye, tetapi melupakannya setelah mendapatkan kursi yang diinginkan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa sebagian politikus kita telah kehilangan kemerdekaan batinnya. Mereka tidak lagi menjadi manusia merdeka. Mereka menjadi tawanan ketakutan yang mereka ciptakan sendiri. Takut miskin adalah salah satu ketakutan terbesar yang mengendalikan perilaku politik.– karena takut kehilangan kenyamanan hidup, mereka rela menggadaikan prinsip– karena takut kehilangan sumber penghasilan, mereka bersedia menutup mata terhadap ketidakadilan. Padahal rezeki bukan berasal dari jabatan, bukan berasal dari partai politik, bukan pula berasal dari para oligarki. Rezeki datang dari Allah SWT yang menguasai langit dan bumi.
Begitu pula ketakutan kehilangan jabatan. Seolah-olah jabatan adalah segala-galanya. Seolah-olah hidup akan berakhir ketika kursi kekuasaan dicabut. Padahal jabatan hanyalah titipan sementara. Hari ini seseorang menjadi menteri, gubernur, anggota DPR, atau pejabat tinggi negara. Besok dia bisa menjadi rakyat biasa. Itulah hukum kehidupan yang tidak bisa ditolak siapa pun.
Ironisnya, demi mempertahankan jabatan yang sementara itu, sebagian orang rela mengorbankan harga diri, integritas, bahkan kebenaran. Ketakutan yang paling mendasar adalah takut mati. Padahal kematian adalah kepastian yang tidak dapat ditawar. Tidak ada kekuasaan yang mampu menolak ajal. Tidak ada uang yang bisa membeli tambahan umur. Tidak ada jabatan yang mampu menghalangi datangnya kematian– karena itu, sesungguhnya manusia yang paling merdeka adalah manusia yang tidak diperbudak oleh rasa takut terhadap dunia. Ia sadar bahwa kekayaan, jabatan, dan kehidupan hanyalah titipan yang sewaktu-waktu akan diambil kembali oleh Sang Pencipta.
Dalam perspektif keimanan, rasa takut yang tertinggi hanya layak diberikan kepada Allah SWT. Ketika seseorang benar-benar memahami hal ini, maka– tidak akan mudah tunduk kepada tekanan manusia– tidak akan menjual kebenaran demi kekuasaan– dia tidak akan menggadaikan prinsip demi jabatan.
Politikus yang bermental pemimpin adalah mereka yang berani berkata benar meskipun pahit. Berani berbeda meskipun sendirian. Berani kehilangan jabatan demi mempertahankan kehormatan. Berani membela rakyat meskipun harus berhadapan dengan kelompok-kelompok kuat yang memiliki pengaruh besar. Bangsa ini tidak kekurangan orang pintar.
Bangsa ini tidak kekurangan orang berpendidikan tinggi– yang semakin langka adalah orang-orang yang memiliki keberanian moral– karena itu, sudah saatnya politik Indonesia tidak lagi dipenuhi oleh politikus bermental follower. Negeri ini membutuhkan pemimpin yang mampu berdiri di atas keyakinannya sendiri, bukan sekadar menjadi pengekor kekuasaan. Pemimpin yang takut kepada Tuhan, bukan takut kepada kehilangan jabatan. Pemimpin yang menjaga amanah rakyat, bukan menjaga kenyamanan pribadi.
Sebab pada akhirnya, sejarah tidak akan mencatat berapa lama seseorang berkuasa. Sejarah akan mencatat keberaniannya ketika berhadapan dengan kebenaran—dan di hadapan Allah SWT kelak, yang ditanya bukanlah berapa tinggi jabatan yang pernah dimiliki, melainkan bagaimana amanah itu dijalankan–karena jabatan akan berakhir. Kekuasaan akan berlalu. Kekayaan akan ditinggalkan– tetapi pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT akan berlangsung untuk selamanya.
*Praktisi Media Massa, Wadir CAJ PWI Pusat, dan Ed Hiawatha Institut
Editor: Jufri Alkatiri
