*Oleh, Anwar R. Soediro*
Tradisi Intelektual dari Ilmu Hikmah (Tasawuf) dan teori kuantum bertemu pada keterhubungan semesta, kesadaran dan peran pengamat. Keduanya memandang realitas bukan sekedar materi fisik, melainkan sesuatu yang sangat cair, saling mempengaruhi, dan ditentukan oleh cara melihat dan meresapinya. Realitas bathiniah seringkali dibentuk oleh kesadaran, keyakinan, dan prasangka (dzan).
Konsep ini merefer pada kaidah spiritual bahwa Tuhan Bersama prasangka hambaNya dimana cara pandang (kesadaran) seseorang membentuk realitas kehidupan. Konsep ini dalam beberapa hal ada kesesuaian konsep yang mirip yang dikemukakan oleh Ibnu Arabi dengan konsep-konsep Plotinus, Permanides dan filusuf lainnya.
Di sinilah barangkali patut kita renungkan salah satu Haditst Nabi yang mengatakan bahwa al hikmah adalah barang berharga bagi seorang mukmin yang hilang. Maka barang siapa yang mendapatkannya hendaklah ia mengambilnya. Satu pertanyaan Apakah al hikmah itu? Sabda Rasulullah SAW menjawab: Kata-kata hikmah adalah harta yang hilang milik seorang mukmin, di mana pun ia menemukannya, maka ia adalah yang paling berhak atasnya” (HR. Tirmidzi).
Bagi– Syaikh al-Akbar Ibnu Arabi, hadits ini adalah landasan penting dalam memandang pengetahuan dan kebenaran. Berikut adalah pemaknaan dan pemikiran beliau mengenai konsep mengambil hikmah: a. Hikmah Sebagai Pengetahuan Spiritual yang Universal. Ibnu Arabi memandang al-hikmah bukan sekadar ilmu rasional atau filsafat semata, melainkan pantulan dari cahaya keilahian (pengetahuan spiritual)– karena hakikat kebenaran (Allah) bersifat Maha Luas dan meliputi segala sesuatu, hikmah atau kebijaksanaan Ilahi bisa bermanifestasi dan ditemukan melalui berbagai perantara di alam semesta ini.
b. Hikmah adalah Barang yang Hilang (Harta Karun Jiwa). Dalam konsep wahdatul wujud (kesatuan wujud) Ibnu Arabi, jiwa manusia pada dasarnya berasal dari pancaran Nur Ilahi– namun, akibat keterikatan dengan dunia material, jiwa tersebut “terpisah” dari akar spiritualnya– oleh karena itu, saat seorang mukmin menemukan hikmah– sedang menemukan kembali bagian dari hakikat dirinya yang “hilang” dari alam keilahian tersebut.
c. Hikmah Kebenaran Tidak Mengenal Sekat. Ibnu Arabi sangat meyakini bahwa seorang mukmin harus bersikap inklusif dalam mencari kebenaran. Hikmah sejati sangat mungkin ditemukan dari–Tradisi spiritual lain atau pemikiran filsafat. Alam semesta dan fenomena alam (ayat-ayat kauniyah). Siapa saja, tanpa memandang latar belakang– selama nilai yang disampaikan adalah kebenaran (al-Haqq).
d. Sebuah karya, Fushush al-Hikam dan Manifestasi Para Nabi– sebagai bukti konkret pemikirannya tentang hikmah, Ibnu Arabi menulis mahakarya berjudul Fushush al-Hikam (Permata-permata Kebijaksanaan). Di dalamnya, mengupas kebijaksanaan batin (hikmah) yang diwariskan oleh para Nabi dan Rasul, di mana setiap nabi mewakili satu sifat atau aspek kebijaksanaan Tuhan yang harus diambil dan dipelajari
Menurut sistem pemikiran Ibnu Arabi, semua jalan mengarah kepada satu jalan lurus menuju Tuhan. Dimulai dari bentuk keberhalaan yang paling kasar sampai filsafat keagamaan yang paling abstrak, akan dijumpai kepercayaan-kepercayaan yang mengarah kepada Tuhan. Perbedaan antara monotheisme dan politheisme serta kepercayaan-kepercayaan yang lain, terletak pada logika antara “Yang Satu” dan “Yang Banyak”. Kegagalan politheisme terletak pada ketidaksadaran si politheis tentang adanya realitas kesatuan mutlak dari keseluruhan, lalu ia memandangnya sebagai wujud yang dapat dibagi-bagi.
Dalam kenyataannya, tidak ada sekutu bagi Tuhan, sebab Dia adalah Ayn (diri) dari segala sesuatu yang disembah dan sebenarnya tidak ada yang disembah kecuali Dia. Ibnu Arabi tidak menolak politheisme, asalkan para penyembah patung-patung dan gambar-gambar itu benar-benar menyadari bahwa di belakang bentuk-bentuk Tuhan mereka itu terdapat Realitas Yang Esa, dan memandang bentuk-bentuk berhala itu hanya sebagai manifestasi (wujuh) dari realitas ini, dan sadar pula bahwa berhala yang dibuat–buat itu kosong tidak ada apa-apanya.
Bentuk-bentuk kepercayaan kepada Tuhan itu beragam menurut nature dari obyek-obyek kepercayaan itu, dan kepercayaan apapun yang mengurangi keuniversalan mutlak dari Tuhan itu adalah parsial dan tidak sempurna. Menyembah bintang atau pohon, artinya menyembah suatu Tuhan yang merupakan suatu manifestasi parsial dari Tuhan yang nyata–tetapi menyembah Dia dalam semua bentuk, artinya menyembah Allah yang merupakan satu-satunya objek tulen dari sesembahan itu.
Tiap orang itu benar dalam keyakinannya tidak peduli apapun parsialnya kepercayaan itu, namun tetap salah bila objek kepercayaannya itu bukan Allah. Hanya orang-orang sufilah yang benar-benar menyembah Tuhan sejati, yang asma-Nya (Allah) adalah paling universal dari semua nama-nama Tuhan. Kepercayaan para filusuf kurang pas karena menyatakan Tuhan dalam transendensi murni, begitu pula kepercayaan orang politheis juga kurang mengena karena menyatakan Tuhan dalam immanensi murni. Padahal transendensi saja, atau immanensi saja tidak dapat menjelaskan nature dari realitas itu sepenuhnya. Satu-satunya agama yang tepat menurut Ibnu Arabi adalah agama universal yang mencakup semua agama-agama, yang dia identifikasikan dengan Islam tetapi bukanlah Islamnya Muhammad SAW yang monotheistik.
Islam yang dimaksud Ibnu Arabi bukan hanya agama Muhammad SAW–tetapi mencakup semua agama dan kepercayaan. Ibnu Arabi berpendapat bahwa cinta adalah basis bagi semua bentuk penyembahan. Menyembah artinya mencintai obyek yang disembah. Cinta adalah suatu prinsip yang meresapi semua wujud dan mengikat mereka bersama. Cinta adalah universal walaupun nampak multisiplitas dalam bentuk-bentuknya. Cinta adalah essensi Kudus itu sendiri– oleh sebab itu objek tertinggi dan terbenar dari penyembahan di mana Tuhan itu disembah adalah cinta (Affifi, 1989: 107). (habis)
*Pemerhati Teologi dan Fisafat Islam
Editor: Jufri Alkatiri
Caption Foto: Pemerhati Teologi dan Fisafat Islam (Anwar R. Soediro)
