Oleh: Dr. Theo Yusuf Ms, SH*
Kantor berita Antara berdiri sejak 13 Desember 1937 oleh Adam Malik, Soemanang, A.M. Sipahoetar, dan Pandoe Kartawigoena. Kantor itu pada awalnya milik swasta– tetapi oleh Presiden Soekarno dinasionalisasi menjadi Kantor Berita Nasional, hingga menjadi Lembaga Negara. Saat ini atau sejak Presiden RI ke 6 Susilo Bambang Yudhoyono — lembaga itu berubah menjadikan Antara sebagai lembaga Perum di bawah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang penguasaan sahamnya oleh Pemerintah qq Departemen Keuangan melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perusahaan Umum (Perum) Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN).
Sejak kantor itu bediri, tidak banyak wartawan asli dari Antara dapat menduduki jabatan penting, seperti Direktur Umum atau Dewan Pengagwas Antara. Bahkan saat Orde Baru, nyaris tidak ada wartawan Antara yang dapat menduduki puncak jabatan. Maklum saat itu Antara di bawah kendali langsung Presiden sehingga tidak mudah seorang wartawan naik kepuncak karir.
Pasca-reformasi, 1998 – baru seorang wartawan senior, Parni Hadi dapat menggapai jabatan puncak dalam lembaga itu meskipun tidak sampai lima tahun. Parni Hadi menjabat sebagai pemimpin tertinggi di LKBN Antara (Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi) sekitar 2 tahun, periode 1998–2000. Saat itu Presiden Abduraman Wahid ingin menempatkan Sobary sebagai Kepala Antara. Setelah itu lahir juga Saiful Hadi juga tidak sampai lima tahun.
Akhmad Munir, yang biasa dipanggil Cak Munir, lahir 15 Desember 1966 di Sumenep Madura itu, melangkah pelan tetapi pasti. Dia lengkap dari wartawan muda, redaktur, kepala biro Surabaya dan Bengkulu, naik sebagai Direksi Antara, naik lagi sebagai Direktur Umum Antara hingga kini menduduki sebagai Ketua Dewan Pengawas Antara. Satu-satunya wartawan Antara yang lengkap secara berurutan dari reporter hingga Dewas Antara hanyalah Cak Munir. Belum ada yang tahu, apakah langkah itu akan juga digapai seorang Beny Siga Butar-butar. Waktu yang akan menentukan.
Akhmad Munir juga termasuk orang pertama yang mampu meraih puncak jabatan sebagai Ketua Umum Persatuan Wartwan Indonesia (PWI). Saat Orde baru, Parni Hadi hanya sampai pada leyer kedua, Sekjen PWI saat Tarman Azam sebagai Ketua Umumnya– dengan demikian, Akhmad Munir adalah termasuk orang yang mampu menapaki karir, bukan hanya di lembaga Antara tetapi juga di organisasi wartawan yakni Ketua Umum PWI surabaya dua kali dan kini Ketua Umum PWI Pusat.
Dalam buku yang berjudul, “Langkah Sunyi Menuju Puncak” Biografi Akhmad Munir Dari Rock n’Roll ke Jenderal Wartawan, yang ditulis Abdul Hakim, dan sudah dilaunching pada Hari Pers Nasional (HPN) di Serang, Banten pada 9 Februari tahun 2026.
Mengutip kata sambutan Akhmad Munir, “Saya tidak pernah membayangkan bahwa langkah kecil dari rumah sederhana di pelosok Sumenep bisa mengantarkan saya pada perjalanan panjang hingga ke titik ini. Kesederhanaan itu, dengan segala keterbatasannya, justru menjadi bekal berharga–melatih saya untuk tegar, bersyukur, dan terus berusaha. Dari atap yang sederhana, dinding yang mungkin rapuh, serta halaman yang penuh tanah dan debu, saya belajar arti perjuangan. Saya belajar bahwa kemewahan sejati bukanlah pada harta, melainkan pada kekuatan hati untuk terus melangkah.”
Ungkapan itu bukan merendah– tetapi mempunyai makna ketulusan akan kehidupan dimasa silamnya, bahwa mimpi itu dapat diwujudkan tidak harus menjadi anak orang kaya, tidak harus dengan uang dan kemewahan, namun dengan kesungguhan tekad, ketulusan hati dan perjuangan hidup untuk mewujudkan atau mencapai cita-cita itu.
Seorang pekerja tekun, dan sabar tidak akan menghilangkan hasil. Ibarat menam biji mangga–membutuhkan penyiraman, pemupukan, dan perawatan. Kerja keras ini pernah juga disampaikan kepada wartawan Antara (Siti Nurhaliza). Bakat dan kegemaran dunia tulis menulis “ditemukan” dari suatu keadaan yang membuat alumni FISIP Universitas Jember (Unej) ini, rajin menulis di berbagai surat kabar terkemuka di Jawa Timur kala itu.
Munir kala muda sudah aktif menulis artikel di rubrik “Opini Mahasiswa” agar bisa meneruskan kuliah hingga lulus, karena orang tua, yang hanya dengan ibunda Ny. Rukmini, seorang penjahit pakaian dikampungnya,(sejak ditinggal ayahnya yang meninggal dunia), sudah tidak mampu membiayai kuliahnya lagi. “Sudah enggak mampu lagi membiayai kamu kuliah. Silahkan cari uang sendiri, atau berhenti kuliah, kata ibu saya,” kenang Munir, yang saat itu kuliah di semester VI.
Situasi dan keadaan itulah yang justru dapat menempa dirinya hingga menjadikan Akhmad Munir menjadi seorang yang tahan banting dalam setiap mendapatkan “gejolak dan tanatangan hidup.” Sejak itu, Munir hampir setiap hari menulis artikel di beberapa surat kabar harian yang terbit di Surabaya dan dari tulisan itu, mendapat honor untuk membiayai kuliahnya hingga lulus. “Satu tulisan artikel saat itu mendapat honor Rp15-25 ribu,” katanya.
Munir muda juga sempat magang bekerja menjadi reporter Radio Suara Akbar Jember, sambil kuliah. Berangkat dari kegemaran menulis itulah, setelah lulus kuliah, Munir yang merupakan putra kelahiran Madura ini merintis karir di LKBN (Lembaga Kantor Berita Nasional) ANTARA Biro Jawa Timur.
Karir Akhmad Munir dari Kepala Biro Antara Surabaya hingga menggapai direksi Kantor Berita Antara, tidak dapat dilepaskan dari besutan Medyatama Suryadiningrat, yang saat ini menjabat sebagai Duta Besar Indonesia di Rumania. Kala dia dipercaya sebagai Dirut Antara oleh Presiden Joko Widodo, Dia membutuhkan patner untuk mengawaki kantor berita yang berada di bawah BUMN itu. Maka saat dinas ke Surabaya, terjadilah diskusi untuk mengajak Cak Munir – yang juga sama-sama darah Madura itu pergi ke Jakata, menjadi patner mengatur Antara.
Langkah pertama memboyong dan menaikan satu tingkat jabatan, setingkat General Manager (GM) guna memudahkan Cak Munir melangkah sebagai Direksi dan pada akhirnya menggantikan Medyatama yang biasa dipanggil Dimas sebagai Dirut LKBN Antara pada 2023 sampai tahun 2026.
*Jurnalis Senior dan Mantan Wartawan LKBN Antara
Editor: Jufri Alkatiri
