Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA (Toto Izul Fatah)
Oleh: Toto Izul Fatah*
Ada pemandangan yang mestinya membuat kita terdiam sekaligus takut. Sungai besar Barito di Kalimantan Tengah, yang selama puluhan bahkan ratusan tahun menjadi urat nadi kehidupan masyarakat Kalimantan– kini mengalami penyusutan debit air yang sangat drastis. Di sejumlah bagian sungai, terutama sekitar Jembatan Kalahien di Kabupaten Barito Selatan, hamparan pasir dan gosong sungai bermunculan begitu luas.
Tempat yang biasanya dialiri air dan dilalui perahu, kapal barang, bahkan tongkang, kini pada bagian tertentu terlihat seperti hamparan daratan. Kapal-kapal pun mulai menghadapi kendala karena sungai semakin dangkal. Pemandangan itu bukan sekadar fenomena alam yang menarik untuk difoto, diviralkan di media sosial– kemudian dilupakan. Ini tragedi lingkungan– ini alarm– dan mungkin ini juga teguran keras dari alam kepada manusia.
Memang kita harus objektif. Penyebab langsung penyusutan debit Sungai Barito saat ini adalah musim kemarau yang sangat kering dan tidak karena faktor langsung dari deforestasi– tetapi, pertanyaannya: apakah kemarau bekerja sendirian? Di sinilah kita tidak boleh menyederhanakan persoalan. Hutan adalah tabungan air. Hutan bukan sekadar kumpulan pohon. Hutan adalah infrastruktur alam.
Akar-akar pepohonan menahan tanah, membantu air meresap, menyimpan cadangan air, mengurangi limpasan permukaan, serta secara keseluruhan menjaga keseimbangan daerah aliran sungai. Kalau tutupan hutan terus berkurang, kemampuan bentang alam menyimpan air ikut terganggu. Menariknya, penelitian ilmiah mengenai DAS Barito Hulu sendiri sudah lama memberikan peringatan.
Kajian yang dilakukan para peneliti IPB menggunakan model hidrologi menemukan bahwa perubahan tutupan lahan, khususnya deforestasi, berpengaruh terhadap fungsi hidrologi DAS. Kajian yang lebih baru mengenai perubahan penggunaan lahan di Indonesia juga menyimpulkan bahwa konversi hutan cenderung mengurangi infiltrasi dan aliran dasar (baseflow).
Bahkan– sekaligus meningkatkan kerentanan terhadap banjir dan kekeringan. Artinya Sederhana– saat hujan, air terlalu cepat berlari. Saat kemarau, terlalu sedikit air yang tersimpan. Inilah paradoks kerusakan DAS– pada musim hujan kita berteriak karena banjir, pada musim kemarau kita menangis karena kekeringan. Padahal keduanya bisa berasal dari akar persoalan ekologis yang sama– karena itu, ada sekurang-kurangnya dua pesan besar yang harus kita baca dari menyusutnya Sungai Barito.
Pesan pertama ditujukan kepada kita semua. Alam sedang mengingatkan manusia agar berhenti merasa menjadi penguasa tunggal bumi. Selama bertahun-tahun manusia memperlakukan hutan terutama sebagai komoditas ekonomi. Pohon dilihat sebagai kayu. Tanah dilihat sebagai konsesi. Gunung dilihat sebagai kandungan mineral. Sungai dilihat sebagai jalur transportasi dan sumber bahan baku. Kita– sering lupa bahwa semua itu merupakan satu kesatuan ekosistem. Hutan ditebang, lahan dibuka, tanah dikeruk, rawa dikeringkan, kemudian manusia heran ketika banjir datang.
Ketika kemarau datang dan sungai menyusut– kita kembali menyalahkan cuaca. Tentu cuaca memang punya peran besar. El Niño memang nyata. Perubahan iklim juga nyata–tetapi jangan sampai semua itu menjadi alasan untuk membebaskan manusia dari tanggung jawab. Sebab ilmu pengetahuan justru menunjukkan bahwa kondisi tutupan lahan menentukan seberapa tangguh sebuah daerah aliran sungai menghadapi ekstrem iklim.
Barito hari ini semestinya menjadi kaca tempat kita bercermin. Hari ini Sungai Barito. Besok sungai apa? Kapuas? Mahakam? Musi? Batanghari? Bengawan Solo Citarum? Brantas? Kita tentu tidak berharap itu terjadi–tetapi jangan pula merasa semua sungai akan selamanya baik-baik saja hanya karena selama ratusan tahun terus mengalir– yang harus diingat, bahwa alam mempunyai batas daya dukung. Ketika batas itu terus-menerus dilampaui, alam mempunyai caranya untuk mengembalikan keseimbangan–dan cara alam mengoreksi manusia terkadang mahal sekali harganya– yang membuat situasi sekarang semakin mengkhawatirkan adalah penyusutan air terjadi pada saat ancaman kebakaran hutan dan lahan juga meningkat.
Kalimantan Tengah bahkan telah menetapkan status Siaga Darurat Karhutla sejak 26 Mei hingga 31 Oktober 2026. Hingga 9 Agustus 2026, BPB-PK Kalimantan Tengah mencatat 603 hotspot terdeteksi di wilayah tersebut. Secara nasional, situasinya juga bukan persoalan kecil. Menteri Kehutanan menyatakan hampir 95 ribu hektare lahan terbakar hanya sepanjang Juli 2026, ketika kondisi El Niño memperparah panas dan kekeringan. Coba kita rangkai fakta-fakta itu. Sungai menyusut. Tanah mengering. Hutan terbakar. Hotspot meningkat. Kemarau makin keras. Bukankah semua ini cukup untuk membuat kita berhenti mengatakan: “Ah, itu hanya siklus alam biasa.”
Siklus alam memang selalu ada–tetapi kerentanan ekologis akibat ulah manusia dapat membuat dampak sebuah siklus berubah menjadi bencana. Pertanyaannya sekarang: mau sampai kapan kita diam? Mau sampai kapan kerusakan lingkungan hanya ramai ketika sudah menjadi bencana? Mau sampai kapan pejabat baru datang setelah api membesar, sungai mengering, banjir menenggelamkan rumah, longsor menimbun kampung, lalu bantuan dibagikan dan setelah itu persoalan dianggap selesai? Kita terlalu sering hebat dalam menangani akibat, tetapi lemah dalam mencegah penyebab. Padahal kebijakan lingkungan seharusnya bekerja puluhan tahun ke depan.
Pesan kedua dari Sungai Barito ditujukan langsung kepada pemerintah. Khususnya kepada Presiden Prabowo Subianto beserta kementerian-kementerian yang menangani kehutanan, lingkungan hidup, sumber daya air, pertambangan, perkebunan dan tata ruang. Sudah waktunya persoalan lingkungan ditempatkan sebagai agenda strategis nasional, bukan sekadar agenda sektoral.
Apa gunanya pertumbuhan ekonomi 8 persen jika sumber air hilang? Apa artinya investasi ratusan triliun jika masyarakat kekurangan air bersih? Apa gunanya pembangunan jalan, gedung, industri, jika hutan yang menjadi penyangga kehidupan terus menyusut? Kita tentu tidak anti pembangunan. Kita juga tidak anti perkebunan, pertambangan, industri maupun investasi–tetapi ada satu prinsip yang tidak boleh ditawar: ekonomi tidak boleh tumbuh dengan membunuh ekologi. Sebab ekonomi hanyalah salah satu bagian dari kehidupan manusia. Sementara air adalah kehidupan itu sendiri.
Manusia masih mungkin hidup tanpa tambang. Manusia masih mungkin hidup tanpa sawit–tetapi manusia tidak mungkin hidup tanpa air. Menyusutnya Sungai Barito jangan sekadar kita pandang sebagai cerita kemarau 2026– adalah surat dari alam kepada manusia.
Sungai Barito sedang memperlihatkan kepada kita betapa rapuhnya keseimbangan itu. Mungkin hari ini yang tampak hanyalah pasir. Mungkin hari ini kapal hanya kesulitan melintas– namun kalau peringatan-peringatan seperti ini terus kita abaikan, kita tidak pernah tahu bentuk teguran berikutnya. Bisa lebih kering. Bisa lebih panas. Bisa berupa kebakaran yang semakin luas. Bisa pula sebaliknya: hujan ekstrem, banjir dan longsor–karena itu, jangan tunggu alam benar-benar “marah” baru kita sadar. Barito sedang memberi kita kesempatan untuk berubah.
*Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA
Editor: Jufri Alkatiri
