Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA (Foto: Toto Izul Fatah)
Oleh: Toto Izul Fatah*
Indonesia tidak pernah kekurangan orang berbakat– termasuk, dalam dunia menulis, baik puisi, cerpen, novel, esai, naskah drama, biografi, hingga karya-karya pemikiran. Masalahnya, banyak bakat itu tumbuh sendirian. Mereka menulis dalam sepi, tanpa ruang perjumpaan, tanpa pendampingan, tanpa penerbit, dan tanpa ekosistem yang memungkinkan karyanya berkembang– karena itu, ajakan Ketua Umum Perkumpulan Penulis Indonesia, Satupena, Denny JA, dalam acara Obrolan Satupena bertema: Masa Depan Penulis Indonesia, pada Kamis malam (10/9/2026)– layak direnungkan sekaligus diterjemahkan menjadi gerakan nyata.
Dalam paparannya kepada seluruh pengurus Satupena se Indonesia, Denny JA mengajak para penulis lokal di seluruh Indonesia untuk membangun ekosistem kepenulisan yang sehat di daerah masing-masing– yaitu, ekosistem yang suatu hari dapat melahirkan karya dan penulis besar seperti William Shakespeare. Ajakan tersebut sesungguhnya membawa pesan penting, bahwa penulis besar tidak lahir dari ruang kosong. Lalu, Denny JA mencontohkan Shakespeare.
Penyair yang sudah mendunia itu memang lahir dan tumbuh di Stratford-upon-Avon– kota kecil di Inggris– namun, bakatnya berkembang ketika dia masuk ke dalam kehidupan teater London yang dinamis. Di sana terdapat panggung pertunjukan, kelompok teater, aktor, penonton, patron, penerbit, dan pasar yang memungkinkan sebuah karya dipentaskan, diuji, diperbaiki, lalu dikenal luas– dengan kata lain, Shakespeare tidak hanya dilahirkan oleh bakat pribadi, tetapi juga dibesarkan oleh ekosistem.
Dia menulis bukan hanya untuk disimpan di meja atau dibacakan kepada kelompok terbatas. Karyanya bertemu dengan aktor, panggung, penonton, kritik, dan pasar– dari proses itulah lahir karya-karya yang bertahan melampaui zamannya. Shakespeare bahkan bukan sekadar penulis. Ia juga aktor sekaligus pemegang saham dalam kelompok teaternya. Artinya, dalam bahasa sekarang, dia memiliki jiwa kewirausahaan– dia memahami bahwa karya sastra membutuhkan organisasi, produksi, jaringan, dan pasar agar dapat terus hidup.
Di sinilah relevansi ajakan Denny JA bagi dunia kepenulisan Indonesia. Indonesia mungkin tidak harus menunggu lahirnya Shakespeare baru– yang terlebih dahulu harus dibangun adalah “kampung-kampung Shakespeare.”–yaitu, ruang-ruang kreatif di berbagai daerah yang memungkinkan penulis bertemu, belajar, berkolaborasi, menerbitkan karya, dan memperoleh penghasilan dari aktivitas kepenulisan.
Komunitas dan ekosistem adalah dua hal yang berbeda. Komunitas dapat berhenti sebagai tempat berkumpul, berdiskusi, dan berfoto bersama– dan Ekosistem bergerak lebih jauh karena di dalamnya terdapat proses penciptaan, pendampingan, produksi, distribusi, promosi, apresiasi, dan regenerasi.
Ekosistem kepenulisan daerah setidaknya memerlukan beberapa unsur. Pertama, adanya forum perjumpaan yang rutin. Mereka membutuhkan ruang diskusi, kelas menulis, bedah buku, klinik naskah, dan forum kritik. Kedua, adanya mentor dan kurator dari para penulis senior. Banyak penulis memiliki gagasan yang kuat, tetapi belum mampu mengolahnya menjadi karya yang matang. Ketiga, tersedianya ruang publikasi. Satupena daerah dapat membangun media digital, jurnal sastra, kanal video, podcast, penerbitan buku, maupun kerja sama dengan media lokal untuk menemukan pembacanya.
Keempat, adanya hubungan dengan sekolah, kampus, pesantren, perpustakaan, pemerintah daerah, dunia usaha, media, dan komunitas seni lainnya. Ekosistem tidak mungkin hidup jika para penulis hanya bergaul dengan sesama penulis. Kelima, adanya pasar. Buku, pertunjukan, pelatihan, festival, dan produk intelektual harus dipertemukan dengan masyarakat yang bersedia membaca, menonton, menggunakan, dan membiayainya.
Jika lima unsur tersebut berjalan, Satupena daerah tidak lagi sekadar menjadi kepengurusan organisasi. Ia dapat berkembang menjadi pusat produksi pengetahuan dan kebudayaan. Gagasan penting lainnya dari Denny JA adalah perlunya melahirkan penulis yang mandiri dan berjiwa entrepreneur.
Selama ini, sastra dan kewirausahaan sering dipandang sebagai dua dunia yang berlawanan. Sastra dianggap bergerak di wilayah idealisme, sedangkan kewirausahaan diasosiasikan dengan keuntungan. Pandangan seperti itu perlu ditinjau kembali. Kemandirian ekonomi tidak harus membunuh idealisme. Justru dengan kemandirian, penulis dan organisasi dapat lebih bebas berkarya tanpa tergantung kepada pemerintah atau sponsor.
Menjadi penulis-entrepreneur bukan berarti mengubah semua karya menjadi barang dagangan. Jiwa kewirausahaan berarti kemampuan membaca kebutuhan masyarakat untuk menemukan model pembiayaan yang sehat.
Hubungan pusat dan daerah tetap diperlukan untuk pertukaran pengetahuan, penguatan jaringan, promosi nasional, sertifikasi pelatihan, akses penerbitan, serta kerja sama lintas wilayah. Bantuan pusat ok– tetapi sebaiknya hanya menjadi penguat, bukan satu-satunya sumber kehidupan. Cabang organisasi yang seluruh kegiatannya bergantung kepada pusat akan mudah mati ketika bantuan berhenti– namun, kita juga perlu mengingat bahwa tujuan membangun ekosistem bukan sekadar mencari satu orang hebat bernama “Shakespeare Indonesia”.
Ekosistem yang sehat harus melahirkan banyak penulis dengan karakter dan akar kebudayaannya masing-masing. Indonesia tidak memerlukan penulis yang hanya meniru Shakespeare. Indonesia membutuhkan penulis besar yang lahir dari rahim kebudayaan Aceh, Minangkabau, Sunda, Jawa, Madura, Bugis, Dayak, Bali, Maluku, Papua, dan berbagai wilayah lainnya.
Karya mereka harus berakar di daerah, tetapi mampu berbicara kepada dunia– karena itu, tantangan Satupena bukan hanya menemukan siapa penulis terbaik di setiap daerah. Tantangan yang lebih mendasar adalah membangun tanah tempat bakat-bakat itu dapat tumbuh. Sebab, benih yang baik pun tidak akan menjadi pohon besar jika tanahnya tandus.
Ajakan Denny JA patut diterjemahkan menjadi gerakan konkret– misalnya, satu daerah, satu ekosistem kepenulisan. Satu cabang Satupena, satu program unggulan– dan setiap tahun harus lahir karya-karya baru yang layak dibaca masyarakat luas.
*Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA
Editor: Jufri Alkatiri
