Oleh: Ahmadie Thaha*
Jurnalis Senior dan Kolumnis (Foto: Oleh: Ahmadie Thaha)
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un._ Guruh Soekarnoputra telah berpulang. Sabtu dinihari, 26 September 2026—sang maestro mengembalikan ruhnya kepada Allah Sang Pemilik Kehidupan. Kabar duka itu segera menyebar. Presiden Prabowo Subianto menyampaikan belasungkawa. Para seniman, murid, sahabat, dan banyak orang yang pernah tumbuh bersama karya-karyanya ikut kehilangan–tetapi kehilangan Guruh bukan sekadar kehilangan seorang pencipta lagu. Indonesia kehilangan seorang guru.
Namanya memang Guruh –tetapi kalau kita nakalkan sedikit penulisannya, dia bisa menjadi “Guru(h)”. Huruf “h” kita masukkan ke dalam kurung. Guruh tetap Guruh. Guru tetap guru. Dua makna bertemu dalam satu nama — dan memang begitulah perjalanan hidupnya.
Guruh tidak sekadar membuat lagu untuk dinyanyikan– dia membuat lagu untuk mengajar. Dia mengajar penyanyi tepat berdendang. Dia mengajar penari menerjemahkan bunyi menjadi gerak. Dia mengajar seniman memandang tradisi tanpa merasa rendah diri. Dia mengajar anak muda bahwa kebudayaan tidak harus tampil seperti benda museum. Bahkan dia mengajar bangsa Indonesia untuk mencintai dirinya sendiri. Itulah sebabnya karya Guruh tidak cukup kita dengarkan. Kita perlu membacanya.
Kita belajar lirik-liriknya menarik. Banyak yang pendek. Tidak jarang dia membuat lirik satu kalimat hanya terdiri dari dua kata. Tidak banyak kalimat beranak-pinak pada lirik lagunya. Dia tidak seperti penyair yang ingin memenangkan lomba jumlah kata. Guruh justru sering meninggalkan ruang kosong.
“Zamrud Khatulistiwa” (1979). Dua kata–tetapi Indonesia langsung terbentang. “Lenggang Puspita.” Dua kata lagi. Kali ini Indonesia bergerak. “Melati Suci.” Bukan kuliah tentang kesucian. Cukup dua kata. Imajinasi segera bekerja.
Di sinilah kekuatan lirik Guruh. Dia tidak selalu memberi penjelasan–dia memberi tanda. Setelah itu pendengar bekerja sendiri. Kata-kata pendek menjadi seperti pintu kecil. Kita membukanya, lalu menemukan ruangan yang lebih besar di belakangnya. Guruh tampaknya memahami satu rahasia pendidikan: guru yang baik tidak memenuhi kepala murid dengan seluruh isi buku. Dia memberi beberapa kata, lalu memberi jeda. Murid diberi waktu berpikir. Pendengar pun kemudian memahami.
Jeda itu penting. Dalam musik, jeda memberi napas. Dalam tari, jeda memberi ruang bagi gerak. Dalam bahasa, jeda memberi kesempatan bagi kata untuk menetap. Dalam pendidikan, jeda memberi kesempatan bagi pikiran untuk tumbuh. Maka pendeknya lirik Guruh tidak otomatis berarti sederhananya gagasan. Justru sebaliknya. Dia membuat kata sedikit supaya makna bisa bergerak lebih jauh. Ini berbeda dari kebiasaan kita sekarang. Kita sering menulis panjang-panjang karena takut pembaca tidak mengerti. Akhirnya pembaca memang tidak mengerti, tetapi sudah telanjur lelah. Guruh mengambil jalan lain. Dia percaya pada daya satu kata—dia juga percaya pada daya musik. Keduanya dia padu begitu indah.
Ketika kembali dari Amsterdam, Belanda, pada pertengahan 1970-an, Guruh pulang bukan membawa ijazah untuk dipajang di ruang tamu. Dia pulang membawa kegelisahan artistik. Bersama Keenan Nasution, Roni Harahap, Oding Nasution, Abadi Soesman, dan para musisi lain, dia melahirkan proyek yang kemudian dikenal sebagai “Guruh Gipsy”. Di sana terjadi pertemuan yang pada waktu itu terdengar seperti perkawinan lintas planet: progressive rock bertemu gamelan Bali.
Musik Barat tidak dia biarkan menjadi penjajah. Tradisi juga tidak ia jadikan fosil. Keduanya dia suruh duduk bersama. Hasilnya bukan sekadar campuran. Dia mencari bunyi baru yang tetap mempunyai sidik jari Indonesia. Inilah salah satu kelebihan Guruh. Dia tidak bertanya, “Haruskah saya memilih tradisi atau modernitas?” Pertanyaan itu terlalu miskin untuk seorang seniman sebesar dia. Dia justru bertanya, “Bagaimana tradisi masuk ke modernitas tanpa kehilangan martabatnya?”
Pertanyaan itu melahirkan karya –dan karya itu kemudian melahirkan perguruan. Pada 27 Maret 1977, Guruh mendirikan Swara Mahardhika– dari sana, musik, tari, busana, koreografi, dan panggung bertemu. Banyak talenta kemudian tumbuh dari lingkungan tersebut: Titi DJ, Memes, Denny Malik, dan banyak lagi.
Guruh tidak hanya menciptakan produk seni– dia membangun ekosistem. Ini yang sering luput ketika orang membuat daftar warisan seorang seniman. Kita sibuk menghitung lagu, album, penghargaan, dan piala. Padahal warisan terbesar seorang guru sering tidak tercetak dalam katalog. Warisan itu bernama murid. Mereka menyimpan cara guru mereka bekerja. Murid membawa disiplin gurunya. Murid meneruskan keberanian gurunya. Bahkan ketika nama sang guru mulai memudar dari poster, metode kerjanya masih berjalan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Kris Dayanti, mewakili keluarga, memberi kesaksian yang menarik setelah pemakaman Guruh. Dia mengenangnya sebagai sosok yang sangat detail dan teliti. Dia juga mengingat perhatian Guruh kepada para seniman dan muridnya. Bahkan di hari-hari terakhir, pesan Guruh padanya tetap berkisar pada seni, budaya, dan cinta tanah air.
Kesaksian itu terasa penting. Sebab Guruh ternyata tidak berhenti mengajar ketika tubuhnya mulai lemah. Dia masih mengajar sampai ujung. Lagu menjadi salah satu ruang kelasnya. Panggung menjadi ruang kelas yang lain. Tari menjadi papan tulisnya. Dan Indonesia menjadi mata pelajarannya.
Guruh mengajar penari bahwa lagu mempunyai tubuh. Musik bukan hanya suara. Musik bisa menjelma langkah, lenggang, putaran tangan, kain, warna, cahaya, dan ruang. Dia mengajar penyanyi bahwa lagu bukan sekadar nada. Ada karakter yang harus ditemukan. Ada kata yang harus dihormati. Ada rasa yang harus disampaikan.
Dia mengajar penonton bahwa budaya tradisional tidak harus tampil lusuh agar disebut tradisional. Ini penting. Sebab pada masa tertentu, kebudayaan tradisional sering mendapat perlakuan seperti paman jauh yang hanya dipanggil ketika ada acara resmi. Setelah upacara selesai, ia kembali disimpan di lemari. Guruh membongkar lemari itu. Dia membawa tradisi ke panggung besar. Dia memberi musik tradisional pertemuan dengan teknologi. Dia memberi tari ruang pertunjukan modern. Dia menggabungkan busana, musik, koreografi, dan drama menjadi satu pengalaman.
Budaya tidak lagi sekadar dipelihara. Budaya dibuatnya hidup. Di situlah Guruh menjadi guru bagi bangsa. Dia tidak menyuruh anak muda mencintai Indonesia melalui ceramah. Ia membuat Indonesia tampak menarik. Ini sungguh cara mengajar yang cerdas.
Anak muda biasanya tidak alergi terhadap budaya. Mereka alergi terhadap cara orang tua menyajikan budaya. Kalau budaya disajikan sebagai kewajiban, mereka menguap. Kalau budaya hadir sebagai pengalaman yang indah, mereka mendekat.
Guruh memahami itu– karena itu dia bisa bergerak dari progressive rock ke pop, dari gamelan ke elektronik, dari panggung besar ke musik film, dari karya tari ke campursari. Dia dapat bekerja dengan banyak warna tanpa kehilangan warna dirinya sendiri.
Dari situlah muncul paradoks yang menarik. Guruh adalah anak Soekarno. Secara sosial– dia memiliki jalan yang sangat mudah menuju politik praktis. Nama keluarganya sudah membuka banyak pintu. Dia tidak perlu mengetuk terlalu keras– namun dia memilih seni dalam waktu yang panjang. Dia memilih panggung sebelum kursi kekuasaan. Dia memilih studio sebelum ruang sidang. Dia memilih mendidik manusia sebelum mengurus suara pemilih.
Belakangan Guruh memang masuk politik. Kita perlu membaca langkah itu dengan hati-hati. Jangan buru-buru menyimpulkan bahwa seniman akhirnya menyerah kepada godaan kekuasaan. Alasan personal dan pemikiran Guruh sendiri tentang politik perlu kita lihat dari jejak pernyataannya– yang jelas, pilihan itu memperlihatkan satu hal. Bagi Guruh, kebudayaan dan politik tidak pernah benar-benar berjauhan. Bung Karno, ayahnya, sejak lama menempatkan kebudayaan sebagai bagian penting dari proyek kebangsaan.
Guruh tumbuh dalam atmosfer itu. Dia kemudian menempuh jalannya sendiri. Dia tidak membawa kebudayaan ke politik sebagai hiasan. Setidaknya dari jejak panjang karyanya, kita melihat bahwa kebudayaan memang menjadi pusat perhatiannya jauh sebelum ia mengenal gedung parlemen.
Itulah sebabnya kita mungkin keliru jika mengenang Guruh hanya sebagai “anak Bung Karno yang menjadi seniman”. Justru sebaliknya. Dia anak Bung Karno yang memilih menjadi Guruh. Guruh yang guru. Dia menerima warisan sejarah, tetapi tidak berhenti sebagai pewaris. Dia mengolahnya menjadi karya– dan karya itu memiliki satu ciri yang sangat kuat: “Indonesia selalu hadir tanpa harus berteriak bahwa dia Indonesia.” Dengarkan “Indonesia Maharddhika”. Lihat “Zamrud Khatulistiwa”. Renungkan “Melati Suci”. Nikmati “Lenggang Puspita”. Ingat “Kembalikan Baliku”. Telusuri “Kala Sang Surya Tenggelam”, “Gita Cinta dari SMA”, “Cinta Indonesia”, dan karya-karya lainnya.
Ada Indonesia di sana. Tetapi bukan Indonesia yang dipasang sebagai spanduk. Indonesia hadir sebagai pengalaman. Itulah kecerdikan Guruh. Dia tidak selalu menyebut nasionalisme secara keras. Dia membuat orang merasa memiliki negeri ini melalui keindahan. Mungkin di situlah letak kekuatan lirik pendeknya. Dia tidak menutup pintu dengan Kesimpulan– dia membukanya dengan imaji.
Dia tidak selalu mengatakan apa yang harus kita pikirkan. Dia memberi kita sesuatu untuk dipikirkan. Dia tidak memenuhi seluruh ruang. Dia menyisakan jeda– dan dalam jeda itu, Indonesia masuk– karena itu Guruh dapat disebut unik di antara para seniman Indonesia. Dia bisa bergerak dari rock progresif Bali ke campursari– dari panggung megah ke jalanan. Dari orkestra hingga bunyi sintetis. Dari tradisi hingga modernitas.
Dia boleh berganti pakaian musical– tetapi dia tidak kehilangan suara. Guruh tetap terdengar sebagai Guruh. Barangkali karena dia tidak pernah sekadar mencari genre. Dia mencari Indonesia. Genre bisa berubah. Teknologi bisa berubah. Selera pasar bisa berubah. Penyanyi berganti. Penari berganti. Generasi berganti– tetapi pencarian itu tetap.
Maka setelah Guruh pergi, pekerjaan gurunya belum selesai. Murid-muridnya masih ada. Karya-karyanya masih ada. Lirik-lirik pendeknya masih menunggu dibaca ulang. Musiknya masih menunggu didengar dengan telinga generasi baru– dan bangsa ini masih mempunyai pekerjaan rumah yang dulu diam-diam dia ajarkan: bagaimana mencintai Indonesia tanpa menjadi norak, bagaimana menjadi modern tanpa menjadi tercerabut, dan bagaimana merawat tradisi tanpa menjadikannya fosil.
Guruh telah memberi contoh– dia tidak mengajar Indonesia dengan buku teks– dia mengajar dengan bunyi. Mungkin karena itu namanya memang tepat. Guru(h). Guruh telah pergi. Innalillah wa inna ilayhi raji’un — tetapi perguruannya belum selesai.
*Jurnalis Senior dan Kolumnis
Editor: Jufri Alkatiri
