Oleh: Toto Izul Fatah*
Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA (Foto: Toto Izul Fatah)
Selama ini, Dewan Pertimbangan Presiden atau Wantimpres — kerap terkesan seperti satu lembaga negara yang menampung para tokoh senior termasuk, sebagai bentuk penghargaan dan penghormatan atas pengalaman serta pengabdian mereka– namun, ketika berbicara tentang kerja dan kinerja, belum banyak publik yang merasakan langsung peran dan manfaatnya.
Apakah kesan itu muncul karena Wantimpres memang bekerja dalam senyap, menyampaikan nasihat dan pertimbangan kepada Presiden tanpa perlu diketahui publik? Ataukah karena para anggotanya belum cukup mampu menghadirkan penjelasan dan komunikasi publik yang membuat masyarakat paham arti penting lembaga ini?
Secara hukum– tugas Wantimpres memang memberikan nasihat dan pertimbangan kepada Presiden, baik diminta maupun tidak. Isi nasihat tersebut juga tidak untuk disebarluaskan kepada public– karena itu, keterbatasan informasi mengenai apa yang disampaikan kepada Presiden tidak serta-merta membuktikan bahwa Wantimpres tidak bekerja– namun, kerahasiaan nasihat tidak seharusnya membuat keberadaan dan kontribusi lembaga ini sama sekali tak terasa.
Di sinilah kehadiran Rocky Gerung menarik perhatian. Dia dikenal sebagai sosok yang kritis, tajam dalam berargumentasi, dan sering menguji kebijakan melalui logika serta pertanyaan-pertanyaan yang tidak selalu nyaman. Masuknya Rocky ke dalam Wantimpres menghadirkan harapan sekaligus tantangan Mampukah dia memberi warna baru dan membuat lembaga ini lebih “berbunyi”?
“Berbunyi” tentu bukan berarti membuka isi nasihat yang semestinya menjadi ranah Presiden dan Wantimpres. Maksudnya, masyarakat dapat merasakan bahwa di dalam lembaga itu berlangsung pertukaran gagasan yang serius, pertimbangan yang jernih, dan keberanian menyampaikan pandangan kritis demi kepentingan bangsa.
Rocky dapat menjadi pengingat bahwa seorang penasihat Presiden bukan hanya perlu menyampaikan apa yang ingin didengar, tetapi juga apa yang perlu didengar. Tantangannya bagi Rocky cukup jelas. Apakah sikap kritis yang selama ini dia suarakan dari luar dapat tetap hidup ketika berada di dalam lingkar pemerintahan?
Mampukah dia menjaga kejernihan berpikir, menyampaikan masukan secara lugas kepada Presiden, dan tetap mempertahankan keberanian intelektualnya tanpa terjebak dalam kenyamanan jabatan? Publik tidak perlu menuntut Rocky membocorkan apa yang dia sampaikan dalam ruang konsultasi– yang layak dinantikan adalah apakah dia tetap menghadirkan sikap kritis dalam batas tugasnya?
Apakah dia mengajukan pertanyaan yang penting, menawarkan pertimbangan yang masuk akal, dan membantu memastikan keputusan negara diuji dari berbagai sudut pandang. Akhirnya, ukuran keberhasilan Rocky bukanlah seberapa sering dia tampil atau seberapa ramai pernyataannya diperbincangkan.
Ukurannya adalah apakah dia mampu menjalankan peran penasihat dengan integritas, menjaga nalar kritis, dan memberi manfaat bagi pengambilan keputusan. Jika itu terwujud, kehadirannya mungkin dapat membantu mengubah kesan publik terhadap Wantimpres, dari lembaga yang terasa jauh menjadi lembaga yang perannya lebih dipahami dan diperhitungkan.
Kita berharap Wantimpres bisa lebih “berbunyi” bersama Rocky Gerung. Tentunya, bukan dengan membuka rahasia nasihat, melainkan dengan memastikan bahwa suara kebijaksanaan, keberanian berpikir, dan kepentingan rakyat benar-benar sampai ke meja Presiden. Kita berharap Rocky Gerung tetap membawa kekuatan utamanya– yaitu, keberanian untuk berpikir kritis, kini dari dalam. Jangan sampai, pasca-masuk ke Wantimpres— Rocky bukan hanya tidak bergerung, tetapi juga tenggelam.
*Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA
Editor: Jufri Alkatiri
