Kota Malang Ubah Limbah Rumah Tangga Jadi Magot, Kompos dan Pupuk

Kota Malang Ubah Limbah Rumah Tangga Jadi Magot, Kompos dan Pupuk (Foto:Dokumentasi)

Pijarberita.com, Malang – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKP2) Kota Malang, selama dua hari, Selasa dan Rabu (29–30 September 2026)   di Malang Creative Center (MCC), menggelar Pelatihan Pengolahan Sampah Dapur.  Selama ini, sisa nasi, sayuran, kulit buah, dan berbagai limbah dapur kerap dianggap tidak berguna dan langsung berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA), namun di Kota Malang, Jawa Timut, sampah dapur mulai dipandang berbeda, bukan lagi barang buangan, tetapi bahan baku yang bisa menghasilkan manfaat dan nilai ekonomi.

Kegiatan ini mempertemukan kelompok urban farming dan SPPG untuk belajar bagaimana mengubah sampah organik dari dapur menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat. Bukan sekadar teori. Peserta diperkenalkan pada berbagai teknologi sederhana yang dapat diterapkan di lingkungan rumah tangga maupun kelompok masyarakat, mulai dari mengolah sampah dapur menjadi kompos, pupuk cair, hingga magot.

Dari Sisa Makanan Jadi Sumber Pangan Ternak

Materi pengolahan sampah disampaikan oleh Prof. Dr. Ir. Nur Hidayat dari Universitas Brawijaya. Dalam pemaparannya, dia mengajak peserta mengubah cara pandang terhadap sampah organik. Bahan yang dianggap tidak bernilai sebenarnya masih menyimpan potensi yang dapat dimanfaatkan kembali. “Sampah dapur sebenarnya bukan sampah yang harus dibuang. Bahan organik tersebut masih dapat dimanfaatkan menjadi kompos, pupuk cair maupun sebagai bahan untuk budidaya magot,” kata Prof. Nur Hidayat.

Dikatakan, konsep sederhana tersebut dapat diterapkan dari rumah. Sampah dapur dipilah terlebih dahulu. Bahan organik kemudian diolah sesuai karakteristiknya. Sebagian dapat dikomposkan, sebagian dapat diolah menjadi pupuk cair, sementara bahan organik tertentu dapat dimanfaatkan sebagai media pakan untuk budidaya magot. Hasil akhirnya bukan hanya mengurangi sampah, tetapi juga menghasilkan produk yang dapat kembali dimanfaatkan.

Peserta Praktik Budidaya Magot

Pelatihan tidak berhenti pada pemaparan materi. Peserta juga mendapatkan praktik langsung pemanfaatan limbah dapur untuk budidaya magot. Praktik tersebut dipandu oleh Fauzi dari Grand Larva. Peserta diperlihatkan bagaimana limbah organik dapat dimanfaatkan untuk mendukung pertumbuhan larva Black Soldier Fly (BSF) atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai magot.

Magot memiliki potensi sebagai sumber bahan pakan karena biomassa larvanya dapat dimanfaatkan untuk pakan ikan maupun ternak. Sementara itu, residu dari proses budidayanya juga masih dapat dimanfaatkan sebagai bahan organik untuk mendukung kegiatan pertanian. Satu jenis sampah dapat menghasilkan lebih dari satu manfaat. Sampah dapur → magot → pakan ikan/ternak → ekonomi keluarga. Sementara jalur lainnya: Sampah dapur → kompos/pupuk → tanaman → pangan. Inilah prinsip ekonomi sirkular yang mulai diperkenalkan kepada masyarakat melalui kegiatan tersebut.

Jangan Lagi Kirim Semua Sampah ke TPA

Persoalan sampah selama ini sering dilihat sebagai persoalan pemerintah. Padahal, sumber sampah terbesar berada di tengah masyarakat, termasuk dari aktivitas rumah tangga. Karena itu, pengurangan sampah dari sumbernya menjadi penting. Jika sebagian sampah organik dapat diolah di rumah, lingkungan, kelompok urban farming, maupun komunitas, maka jumlah sampah yang harus diangkut ke TPA dapat ditekan. Lebih jauh lagi, masyarakat tidak hanya menjadi pengguna sistem pengelolaan sampah, tetapi juga menjadi bagian dari solusi. Sampah yang biasanya dibayar untuk dibuang, justru dapat diubah menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Kota Malang Jangan Jadi Penyumbang Sampah

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Malang, yang diwakili Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan: drh. Anton Pramujiono (pada hari pertama) dan Dr. Elfiatur Roikhah, S.E., Ak., MM (Kepala Bidang Ketahanan Pangan) berharap perubahan pengelolaan sampah dimulai dari masyarakat dan dilakukan secara nyata. “Kota Malang bukan lagi menjadi penyumbang sampah, tetapi menjadi pelopor dalam memanfaatkan sampah,” demikian pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.

Dikatakan, keberhasilan pengelolaan sampah tidak cukup hanya mengandalkan teknologi tetapi juga dibutuhkan perubahan perilaku, terutama kebiasaan memilah dan mengolah sampah sejak dari sumbernya. Kelompok urban farming dan SPPG yang mengikuti pelatihan diharapkan dapat menjadi motor penggerak di lingkungannya masing-masing. Pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti di MCC. Peserta diharapkan menerapkannya dan membagikan pengalaman kepada masyarakat di sekitarnya.

Dari Rumah, Mulai Kurangi Sampah ke TPA

Pelatihan selama dua hari tersebut pada akhirnya membawa satu pesan sederhana: mengatasi sampah tidak harus selalu dimulai dari TPA.Perubahan justru bisa dimulai dari tempat paling dekat, yaitu dapur rumah. Sisa makanan dan bahan organik yang selama ini langsung dimasukkan ke tempat sampah dapat dipilah dan dimanfaatkan. Sebagian menjadi kompos, sebagian menjadi pupuk cair, dan sebagian lainnya dapat menjadi sumber pakan dalam budidaya magot. Jika kebiasaan ini dilakukan secara luas, sampah yang keluar dari rumah menuju tempat pengumpulan dan TPA akan semakin sedikit.

Dari dapur menjadi kompos– dari sampah menjadi pupuk. Dari limbah menjadi magot. Dari magot menjadi pakan. Kota Malang pun didorong untuk membangun budaya baru: bukan membuang sampah, tetapi memanfaatkan sampah. (nh/ries)

Editor: Ries Mariana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Banner Website