Sosialisasi Pembuatan POC dari limbah tahu pada kelompok tani, Desa Ngumpul dan Sumbermulyo, Jombang, Jawa Timur (Foto: Nur Hidayat)
Pijarberita.com, Malang – Limbah cair tahu yang selama ini berpotensi menimbulkan bau dan mencemari lingkungan– kini dapat diolah menjadi produk bernilai guna. Melalui program hibah Bestari, Universitas Brawijaya (UB) Malang, mengembangkan inovasi pengolahan limbah cair tahu menjadi pupuk organik cair (POC) yang berpotensi membantu petani sekaligus mengatasi persoalan lingkungan di masyarakat.
Inovasi tersebut menjadi salah satu perhatian dalam Seminar Nasional dan Pameran Living Lab Hibah Bestari yang diselenggarakan pada Jumat (30/10/2026) di Gedung Pandhita Majapahit, Universitas Brawijaya, Malang. Kegiatan ini mempertemukan para penerima hibah Bestari untuk menunjukkan bagaimana hasil penelitian dapat diterapkan dalam menjawab persoalan nyata di masyarakat.
Program yang didukung Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) bersama LPDP ini diikuti 122 penerima hibah Bestari serta lebih dari 30 presenter non-Bestari. Salah satu inovasi yang dipamerkan adalah pengolahan limbah cair industri tahu di Kabupaten Jombang menjadi pupuk organik cair. Program ini diketuai Prof. Dr. Ir. Nur Hidayat, MP, dari Universitas Brawijaya.
Nur Hidayat, kepada pijarberita.com, Sabtu, di Malang, mengatakakan, melalui inovasi tersebut, limbah cair tahu yang sebelumnya berpotensi menjadi sumber pencemaran dan menimbulkan bau di lingkungan masyarakat diarahkan menjadi produk yang bermanfaat bagi sektor pertanian. POC yang dihasilkan tidak hanya dapat dimanfaatkan sebagai air penyiram tanaman, tetapi juga mengandung nutrisi dan mikroorganisme yang mendukung pertumbuhan tanaman. ”Hasil percobaan menunjukkan bahwa tanaman tomat yang disiram menggunakan POC tersebut tumbuh lebih baik dibandingkan tanaman kontrol, ” kata Prof. Nur Hidayat pada saat dialog dengan Wamen Prof. Dr. H. Fauzan, M.Pd.
Dikatakan, pemanfaatan ini menjadi semakin relevan, terutama bagi petani pada musim hujan, ketika pengelolaan air dan pemenuhan kebutuhan nutrisi tanaman memerlukan perhatian khusus. Saat mengunjungi stan pameran, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Dr. H. Fauzan, M.Pd., memberikan perhatian terhadap inovasi tersebut.
Fauzan menekankan pentingnya sosialisasi teknologi kepada petani agar masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga mampu memproduksi pupuk organik cair secara mandiri dengan memanfaatkan limbah yang tersedia di lingkungan mereka.
Fauzan dalam sambutannya, menegaskan bahwa penelitian perguruan tinggi harus mampu menyelesaikan persoalan masyarakat. Menurutnya, keberhasilan penelitian tidak semata-mata diukur dari jumlah publikasi ilmiah maupun peningkatan pemeringkatan perguruan tinggi, tetapi juga dari dampak sosial yang dihasilkan.
”Semangat tersebut sejalan dengan konsep living lab yang menjadi pendekatan utama program Bestari. Melalui pendekatan ini, hasil penelitian tidak berhenti sebagai publikasi di jurnal ilmiah, tetapi diuji, diterapkan, dan dikembangkan bersama masyarakat sehingga menghasilkan manfaat nyata,” ungkap Fauzan.
Seminar Nasional dan Pameran Living Lab Hibah Bestari dan pameran itu, dihadiri Direktur Jenderal Sains dan Teknologi Kemdiktisaintek, Pejabat dilingkungan LPDP, Rektor Universitas Brawijaya, serta Ketua DRPM Universitas Brawijaya. Selain seminar dan pameran inovasi, kegiatan juga diisi dengan pelatihan penulisan artikel untuk media berita yang disampaikan oleh wartawan Antara. Pelatihan ini diharapkan mendorong para peneliti agar mampu mengomunikasikan hasil riset dengan bahasa yang lebih populer sehingga inovasi perguruan tinggi semakin dikenal dan dimanfaatkan masyarakat.
Melalui program Bestari, Universitas Brawijaya menunjukkan bahwa hilirisasi penelitian bukan sekadar memindahkan teknologi dari laboratorium ke lapangan. Lebih dari itu, hilirisasi merupakan upaya mengubah persoalan masyarakat menjadi peluang inovasi, menciptakan nilai tambah, dan menghadirkan solusi yang berkelanjutan. (NHT)
Editor: Ries Mariana
