Oleh Satrio Arismunandar*
Anggota perkumpulan penulis SATUPENA sejak Agustus 2021 (Foto: dok. Satrio)
Tiga Hari Sebelum
Hujan lebih dulu tahu daripada kami bahwa atap posko ini sudah menyerah– dia turun satu-satu di sudut kiri, jatuh ke ember seng dengan bunyi yang mirip hitungan mundur. Sudah dua minggu aku menggeser ember itu ke sana-sini, dan sudah dua minggu pula aku belajar tuli terhadapnya. Orang bisa tuli terhadap apa saja, asal cukup lama dibiarkan sendirian dengan bunyinya.
Masalah yang sebenarnya ada di meja: sembilan puluh tujuh kepala keluarga, satu surat edaran, dan satu kalimat yang terus diulang di televisi. Warga telah menyetujui. “Mas Damar, ini yang tanda tangan bukan tanda tangan Pak Harun,” kata seorang ibu sambil mengacungkan lembar persetujuan. “Pak Harun itu tangannya gemetar. Ini rapi banget.”
Aku mencatatnya. Sudah yang keempat belas. Di luar, gang Rawa Kering berjalan seperti biasa. Tukang gorengan lewat. Anak-anak melompati selokan. Seorang bapak menjemur kaus seragam pabrik yang lengannya sudah memutih. Semuanya biasa saja, dan justru itu yang membuatnya terasa seperti pameran barang yang sebentar lagi disita.
Sekitar pukul sepuluh, dua perempuan muda berdiri ragu di depan pintu– yang satu kukenal sebagai Tika, mahasiswi sosiologi yang beberapa kali ikut mengajar kelas baca di sini– yang satunya mengenakan kemeja linen polos dan sepatu yang jelas belum pernah menginjak selokan.
Aku mengenalinya sebelum Tika selesai bicara. Fotonya pernah terbit di halaman tiga salah satu koran nasional– di rubrik acara amal, memegang gunting pita di samping lelaki berjas yang tanda tangannya kini ada di semua surat di mejaku. Keterangan fotonya: didampingi putrinya, Kinanti.
“Mas Damar, ini Kinan, temanku,” kata Tika. Ia berhenti sebentar di antara kata teman dan Kinan, dan aku langsung tahu bahwa Tika tahu. Dan bahwa Tika tahu aku tahu. Kami bertiga memutuskan, tanpa bicara, untuk memainkan permainan itu. “Silakan masuk,” kataku. “Hati-hati ember.”
Dia melangkah melewatinya dengan hati-hati berlebihan, lalu duduk di bangku plastik yang kakinya pincang dan tidak mengeluh. Aku mencatat itu juga, meski tidak tahu untuk apa. “Saya Kinan,” katanya. Tanpa nama belakang. Aku tidak bertanya.
Warga datang bergantian membawa map lecek dan cerita yang hampir sama. Surat sosialisasi yang tidak pernah mereka terima. Petugas yang datang malam hari meminta tanda tangan “cuma buat daftar hadir”. Angka ganti rugi yang tidak cukup membeli tanah seperempat luas rumah mereka di tempat lain. Aku menerjemahkan semuanya menjadi daftar poin, karena itu pekerjaanku: mengubah kepanikan menjadi dokumen yang bisa dibaca orang yang tidak mau mendengar.
Kinanti tidak mencatat. Tidak merekam. Tidak mengambil gambar. Dia hanya mendengarkan dengan tubuh agak condong, dan di wajahnya tumbuh sesuatu yang kukenal dari mahasiswa baru yang pertama kali membaca laporan investigasi. Bukan iba, tapi rasa malu karena baru tahu.
Menjelang siang, Bu Sarmi masuk membawa nampan berisi teh manis dalam gelas-gelas yang tepinya sudah buram. Ia pemilik warung di ujung gang, perempuan enam puluhan yang tidak pernah ikut rapat tapi selalu tahu isinya. Ia meletakkan gelas satu per satu, dan di depan Kinanti ia berhenti lebih lama dari yang perlu.
“Mbak ini dari mana?” “Dari kampus, Bu. Temannya Tika.” “Oh.” Bu Sarmi mengangguk. Lalu, selembut pisau yang masih bersarung: “Mau lihat kami, atau mau dilihat sedang melihat kami?” Tika tersedak. Ruangan menahan napas. Hujan terus menetes ke dalam ember. Kinanti menunduk pada gelasnya, seakan jawaban bisa dibaca dari uap yang naik. Lalu ia mengangkat wajah. “Saya belum tahu, Bu. Tapi saya mau tahu bedanya.”
Bu Sarmi menatapnya sebentar, lalu mendengus pendek, bukan tawa, bukan cibiran, dan kembali ke warungnya. Itu bukan penerimaan. Tapi di gang ini, tidak diusir sudah berarti sesuatu. Pukul tiga mereka pamit. Tika menyalami semua orang. Kinanti hanya mengangguk, dan di ambang pintu ia berhenti. “Terima kasih tehnya,” katanya, entah pada siapa.
Mereka berjalan menyusuri gang. Aku berdiri di pintu, pura-pura menimbang mendung, padahal yang kuhitung adalah berapa kali ia menoleh. Sekali, di depan warung Bu Sarmi. Dua kali, di tiang listrik yang miring. Tiga kali, di mulut gang, sebelum gang itu menelannya. Di belakangku, ember sudah penuh sampai bibirnya. Untuk pertama kalinya, aku membiarkannya meluap.
Dua Hari Sebelum
Fotonya sampai ke ponselku pukul enam pagi, sebelum aku sempat membuat kopi. Tidak ada keterangan. Hanya gambar yang diambil dari sudut jendela posko: Kinanti di bangku plastik yang pincang, gelas teh di tangannya, wajahnya setengah menunduk. Di bawahnya, di grup WhatsApp serikat yang isinya seratus dua belas orang, sudah ada tiga puluh balasan. Sebagian hanya tanda tanya. Sebagian menyebut nama ayahnya. Satu orang menulis, Posko kita kok jadi tempat wisata?
Yang mengirim foto itu memakai nomor tak tersimpan. Aku tidak mencoba menebak. Aku sudah cukup lama di organisasi LSM ini untuk tahu bahwa pertanyaan siapa biasanya menghabiskan lebih banyak tenaga daripada pertanyaan kenapa.
Rapat dimulai pukul sembilan, di posko yang sama, di antara meja dan map yang sama. Hari itu tidak hujan, dan ember di sudut ruangan kosong untuk pertama kalinya. Kesunyiannya terasa lebih keras daripada tetesan. Rangga duduk di ujung meja, tangannya terlipat. Kami berteman sejak mahasiswa, sejak sama-sama pernah ditahan semalam di kantor polisi karena membagikan selebaran di depan pabrik. Ia tahu cara aku makan, tahu cara aku menyembunyikan takut. Itu sebabnya ia tidak perlu berteriak.
“Kamu tahu siapa dia,” katanya. Bukan pertanyaan. Aku tidak berpura-pura. “Tahu.” “Sejak kapan?” “Sejak ia masuk.” Ada yang menarik napas di sudut ruangan. Seseorang menggeser kursi. “Dan kamu biarkan dia duduk di bangku itu. Di depan dokumen kita. Di depan warga yang namanya ada di daftar.” Rangga tidak menaikkan nada. “Dam, kita ini lagi ngelawan bapaknya.” “Dia nggak lihat dokumen apa pun. Dia nggak pegang apa pun. Dia cuma dengerin.”
“Dengerin,” ulang Rangga, dan kata itu terdengar murah di mulutnya. “Orang kayak dia nggak pernah cuma dengerin. Dia dengerin, terus pulang, terus cerita ke bapaknya, terus staf bapaknya tahu siapa yang paling vokal di antara warga. Siapa yang bakal didatangi duluan malam ini.”
“Dia nggak begitu.” “Kamu kenal dia berapa jam? Lima? Enam?” Aku diam. Itu jawaban yang jujur, dan semua orang di ruangan itu mendengarnya. Bu Yati dari divisi pendampingan, yang selama ini hampir tak pernah bicara di rapat, berkata pelan, “Mas Damar, kami nggak nuduh kamu dikhianati. Kami cuma takut kamu senang.”
Kata itu mengenai tempat yang tidak kuduga– karena itulah masalahnya. Bukan bahwa Kinanti mungkin menjebakku. Masalahnya ada di perasaanku semalam, ketika foto itu belum beredar dan aku berbaring menatap langit-langit kontrakan sambil menghitung.
Aku memang senang. Dan di bawah rasa senang itu ada hal lain yang tidak ingin kuberi nama, tapi akhirnya kuberi nama juga, karena aku bukan orang yang tahan menipu diriku sendiri terlalu lama. Aku berpikir: anak menteri. Akses. Dokumen kajian dampak yang konon disembunyikan.
Tidak sekali pun aku memintanya. Tapi pikiran itu datang, duduk sebentar di kepalaku, dan aku tidak mengusirnya dengan cukup cepat. “Aku nggak minta apa-apa dari dia,” kataku akhirnya. “Tetapi kamu mikir,” kata Rangga. Ia menatapku lama. Di matanya tidak ada kemenangan, hanya kelelahan seseorang yang sudah menebak jawabannya sebelum bertanya. “Kamu mikir, kan?”
Aku bisa berbohong. Ruangan itu menunggu aku berbohong. Itu akan lebih sopan untuk semua orang. “Sempat,” kataku. “Satu malam.” Tidak ada yang bicara. Seseorang di luar menyalakan motor, lalu mematikannya lagi. “Oke,” kata Rangga. Ia berdiri, merapikan map di depannya. “Dua hal. Jangan bawa dia ke posko lagi. Dan kalau dia menghubungi kamu, kamu lapor ke aku. Bukan karena aku nggak percaya kamu, Dam. Karena aku nggak percaya keadaan.”
Rapat bubar tanpa jabat tangan. Itu terjadi sesekali, dan selalu terasa seperti kehilangan sesuatu yang kecil tapi tak tergantikan. Sore itu aku pulang lewat gang yang sama. Warung Bu Sarmi buka. Ia sedang menyapu teras, dan ketika aku lewat, ia tidak mengangkat kepala. Hanya berkata, “Anak itu nggak datang lagi hari ini?”
“Belum, Bu.” “Hm.” Sapunya bergerak, debu berpindah dari satu sisi ke sisi lain. “Tadi pagi ada orang pakai kemeja rapi nanya-nanya di sini. Katanya dari kelurahan. Nanya siapa yang paling sering ngomong di posko.”
Aku berhenti. “Ibu jawab apa?” “Saya bilang saya cuma jual gorengan.” Ia tidak tersenyum, dan aku tidak berterima kasih. Kami berdua tahu ada hal-hal yang rusak kalau diucapkan. Telepon itu masuk pukul sebelas malam.
Nomor tak dikenal. Aku membiarkannya berdering empat kali, menimbang pesan Rangga, lalu mengangkatnya juga. “Ini aku,” kata Kinanti. Suaranya pelan, dan ada gema di belakangnya, seperti ia berbicara dari kamar mandi atau dari balik pintu tertutup. “Aku nggak tahu kamu masih mau bicara atau nggak.” “Aku di sini.”
Dia diam agak lama. Aku mendengar napasnya, dan di belakangnya sesuatu yang berdenting halus, mungkin sendok perak, mungkin hanya imajinasiku. “Tadi makan malam di rumah,” katanya. “Papa tahu aku ke sana. Dia nggak marah. Dia cuma tanya apa aku mau ikut program pemberdayaan warga terdampak. Posisi koordinator. Katanya, kalau aku peduli, lebih baik aku peduli dari dalam.”
Aku menutup mata. “Dia bilang itu sambil tersenyum,” lanjutnya. “Dan aku hampir percaya. Itu yang bikin aku takut. Aku hampir percaya, Damar.” Di posko, di dalam kepalaku, suara Rangga berkata: lapor ke aku. “Kinan,” kataku. “Teman-temanku juga curiga sama kamu.” “Aku tahu.” Ia tertawa kecil, tapi tawa itu pecah di tengah. “Di rumah mereka bilang kamu mencuci otakku. Di tempatmu mereka bilang aku memanfaatkanmu. Dua-duanya yakin banget.” “Mungkin dua-duanya benar sedikit.” Hening. “Mungkin,” katanya akhirnya. Lalu, jauh lebih pelan, seperti ucapan yang tidak dimaksudkan untuk sampai: “Aku nggak tahu harus percaya siapa.”
Aku ingin menjawab bahwa ia bisa percaya padaku. Kalimat itu sudah di ujung lidah, rapi dan hangat dan sangat mudah diucapkan. Tapi aku baru saja mengakui di depan seratus mata bahwa pernah ada satu malam ketika aku berpikir sebaliknya. Jadi aku hanya berkata, “Aku juga nggak tahu harus percaya siapa, Kinan. Termasuk diriku sendiri.”
Sambungan diputus tanpa salam. Aku duduk lama di kontrakan, memikirkan ember kosong di posko yang menunggu hujan yang tidak datang, sampai lampu tetangga padam satu per satu. (bersambung)
*Anggota Perkumpulan Penulis SATUPENA sejak Agustus 2021
Editor: Jufri Alkatiri
