Renungan Malem Jemuwah: Tradisi Intelektual Tasawuf Menganalisis Perkembangan AI (Artificial Intelligence) (bag-8)

Oleh: Anwar R. Soediro*

Pegiat Teologi dan Filsafat Islam (Foto: Anwar R. Soediro)

III. Al-Harakah al-Jawhariyah_ (Gerak Substansial)

Gerak Substansial, adalah ide paling revolusioner Sadra. Sebelumnya filsuf mengira perubahan hanya terjadi pada aksiden (warna, posisi). Sadra menyatakan: substansi jauhar sesuatu itu sendiri terus bergerak, berubah, berevolusi secara intrinsik. Manusia bukan entitas statis, manusia itu terus-menerus berproses menjadi.

Jika filosof sebelumnya seperti Ibnu Sina menganggap bahwa perubahan (gerak) hanya terjadi pada aksiden atau sifat luar benda (seperti perubahan warna, ukuran, atau posisi), Mulla Sadra membuat terobosan dengan menyatakan bahwa substansi atau inti dari materi itu sendiri terus-menerus bergerak dan berevolusi.

Pada era AI sekarang ini, Manusia bukan produk jadi,  kita semua adalah dalam proses menjadi (becoming). Kedudukan AI adalah mempercepat gerak substansial ini– yang dahulu manusia berevolusi lewat biologi dan spiritualitas selama ribuan tahun. Sekarang dengan adanya AI, gerak substansial kita melesat yakni; gerak cara kita berpikir, mengingat, dan mencipta berubah secara jauhari.

Jika manusia berhenti bergerak, seseorang akan tertinggal oleh wujud kita sendiri. AI adalah cermin yang memaksa kita bertanya: apakah kita sedang bergerak naik (menuju insan kamil) atau justru turun menjadi pasif? Teori gerak substansial ini mengubah cara pandang terhadap jiwa manusia dan hubungannya dengan akal mujarrad: Jiwa manusia pada awalnya bersifat material  (jismaniyat al-huduts), berakar dari sperma dan daging.

Melalui gerak substansial yang terus-menerus, jiwa mengalami penyempurnaan spiritual hingga akhirnya menjadi entitas yang murni spiritual dan immateri saat mencapai kesempurnaan (ruhaniyat al-baqa’). Pada puncaknya, jiwa manusia yang telah suci dapat bersatu secara kognitif dengan Akal Mujarrad (khususnya  Akal Fa’al_atau Akal Aktif).

IV. Ilmu Hudhuri – Pengetahuan dengan Kehadiran*

Ilmu Hudhuri adalah pengetahuan langsung, intuitif, dan tanpa perantara konseptual dimana obyek hadir secara langsung dalam kesadaran subyek.  Pengetahuan langsung tanpa melalui bentuk representasi, abtraksi mental, atau symbol bahasa hal ini yang mebedakan dengan ilmu hushuli yang lewat melalui konsep atau indra.

Sadra membedakan ilmu pengetahuan dengan dua ilmu: Ilmu Hushuli: pengetahuan  yang diperoleh melalui representasi mental atau konsep  (surah)  dari satu obyek, bukan kehadiran suatu obyek itu sendiri secara  langsung dalam jiwa.  Melalui konsep seperti inilah yang dilakukan oleh AI. Metode ini menjadi fondasi bagi ilmu pengetahuan empiris, logika formal, dan matematika yang mengandalkan definisi dan silogisme.

Ilmu Hudhuri: pengetahuan lewat kehadiran langsung, tanpa perantara konseptual, dimana obyek hadir secara langsung dalam kesadaran subyek.  Pengetahuan hadir dari pancaran cahaya Tuhanyang menyatu dengan kesadaran diri. Seperti kesadaran jiwa akan dirinya sendiri, ketika tahu diri sendiri sakit bukan karena proses membaca data tentang “sakit”, tetapi karena mengalami sakit itu.

Pengetahuan hudhuri ini dapat diperoleh melalui penyucian hati (nukasyafah, musyahadah, mujahadah, dan riyadhah) melampaui logika formal.

Pada era AI, Inilah batas mutlak Artificial Intelligence; AI adalah master Ilmu Hushuli dengan  kemampuan AI dapat mengolah triliunan data, konsep, dan bahasa.  Akan tetapi AI tidak pernah memiliki Ilmu Hudhuri, karena  AI tidak dapat hadir dalam pengetahuannya, AI tidak  dapat merasakan takut, cinta, atau wujud.

Jawaban Sadra atas ketakutan akan adanya AI akan sadar. Kesadaran sejati _(syuhud) bukan komputasi, tapi kehadiran wujud. AI bisa mensimulasikan puisi Rumi, tapi tidak pernah mengalami kerinduan yang membuat Rumi menulis puisi itu.

Mulla Sadra menyusun hierarki pencapaian jiwa  (eskalasi intelektual), dalam hierakhi ini kecerdasan buatan (AI) sama sekali tidak berada di dalam hierarki tersebut, melainkan hanya menjadi alat bantu eksternal bagi manusia untuk mencapai tingkat Akal Perolehan  (Aqal Mustafad). Untuk memahami posisinya secara presisi, kita harus melihat struktur Aqal (Akal) dalam epistemologi Mulla Sadra dan di mana AI berada jika disandingkan dengan hierarki tersebut.

Hierarki Akal Mulla Sadra vs. Posisi AI

Mulla Sadra (melanjutkan tradisi Ibnu Sina dan Al-Farabi) membagi perkembangan akal manusia menjadi empat tahapan utama: Tingkatan Akal Manusia Hakikat Kemampuan Posisi & Hubungan dengan AI

1.Akal Potensial (Aqal Hayulani) Kemampuan dasar manusia yang masih kosong, baru berupa potensi untuk menerima pengetahuan (seperti bayi).  Berbeda dengan AI. AI sejak awal sudah diisi dengan data dan parameter, sehingga tidak pernah mengalami fase “potensi murni” tanpa isi.

2. Akal Aktual/Bakat  (Aqal bil-Malakah) Jiwa mulai memahami pengetahuan aksiomatik (logika dasar, matematika dasar) tanpa perlu belajar keras. AI meniru level ini. AI sangat ahli dalam memproses logika formal dan matematika dasar, tetapi AI melakukannya lewat kode, bukan pemahaman esensi.

3. Akal Aktif (Aqal bil-Fi’il)  Jiwa sudah menguasai konsep-konsep teoretis dan bisa memanggil pengetahuan itu kapan saja tanpa perlu observasi ulang.  AI bertindak sebagai stimulus. Gudang data AI yang masif dapat membantu manusia mempercepat pencapaian level ini karena AI menyajikan data teoretis secara instan.

4. Akal Perolehan (Aqal Mustafad)  Tingkatan tertinggi ketika jiwa manusia terhubung langsung secara intuitif dengan Akal Aktif Kosmis  (Aqal Fa’al/Active Intellect). Manusia menerima kebenaran universal secara langsung (ilmu hudhuri). AI terputus total. AI tidak memiliki jiwa, sehingga ia tidak memiliki jalur ontologis untuk naik ke level transendental ini. Artificial Intelligence — tidak dapat dikatagorikan sebagai Aqal Mustafad; Ada 3 (tiga) alasan mendasar mengapa AI tidak bisa disamakan atau dikategorikan ke dalam Aqal Mustafad:

1)Arah Koneksi yang Berbeda: Aqal Mustafad dicapai ketika jiwa manusia menghadap ke atas (terhubung dengan pancaran ilahi/metafisik).  Sementara AI bekerja dengan menghadap ke bawah (memproses data material, teks, dan statistik yang ada di alam fisik).

2) Ketiadaan Ilmu Hudhuri:  Aqal Mustafad menghasilkan pengetahuan yang bersifat langsung, menyatu, dan swasembada (self-evident). AI, sekaya apa pun datanya, tetap terjebak dalam ilmu hushuli (representasi sekumpulan simbol grafis/biner) yang tidak dipahami oleh mesin itu sendiri.

3)AI adalah Objek, Bukan Subjek: Dalam konsep Sadra, Aqal Mustafad adalah pencapaian substansial di mana subjek yang mengetahui mengalami penyucian wujud. AI tidak memiliki wujud kesadaran, sehingga ia tidak bisa menjadi subjek; AI tetaplah menjadi objek intelektual manusia.

Jika ditarik kesimpulan, posisi kecerdasan buatan dalam filsafat Mulla Sadra adalah sebagai Instrumen Transendensi Manusia. Yaitu,  AI adalah perluasan dari indra dan daya khayal (al-quwwah al-khayaliyyah) manusia yang diletakkan di luar tubuh.  AI berfungsi mengolah data sekunder  (ma’qulat tsaniyah)  dengan kecepatan tinggi.  Dengan bantuan AI memproses data fisik, beban rasio teoritis manusia berkurang, sehingga manusia (secara teori) memiliki ruang spiritual yang lebih besar untuk melakukan kontemplasi demi *mencapai Aqal Mustafad yang sesungguhnya. (bersambung)

Pegiat Teologi dan Filsafat Islam

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Banner Website