Cincau Hitam: Dari Minuman Tradisional Menuju Pangan Fungsional Penjaga Kesehatan

Oleh: Prof. Dr. Ir. Tri Dewanti Widyaningsih,M.Kes

Guru Besar Gizi dan Pangan Fungsional Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem Universitas Brawijaya, Malang (Foto: Tri Dewanti Widyaningsih)

Pernahkah kita menikmati segelas es cincau hitam saat cuaca panas? Teksturnya yang lembut, sensasi dinginnya yang menyegarkan, dan rasanya yang khas membuat cincau hitam menjadi salah satu minuman tradisional yang digemari masyarakat Indonesia. Cincau hitam mudah dijumpai di pasar tradisional, penjual minuman, hingga berbagai sajian es di rumah.

Namun, di balik warna hitam dan kesederhanaan bentuknya, tersimpan potensi yang menarik perhatian dunia penelitian pangan dan kesehatan. Cincau hitam bukan sekadar bahan minuman pelepas dahaga. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa tanaman yang dikenal sebagai janggelan ini mengandung senyawa bioaktif yang berpotensi mendukung kesehatan tubuh. Pertanyaannya, apa yang sebenarnya membuat cincau hitam menarik untuk diteliti? Benarkah pangan tradisional ini berpotensi membantu menjaga keseimbangan sistem imun dan berbagai penyakit degeneratif

Mengenal cincau hitam lebih dekat

Cincau hitam ada yang menyebutnya  camcao merupakan bahan pangan berbentuk gel yang dihasilkan dari ekstrak tanaman janggelan (Mesona palustris BL) termasuk suku Labiatae. Tanaman janggelan berbentuk perdu tingginya antara 30 – 60 cm . Tanaman jangelan tumbuh baik di daerah yang mempunyai ketinggian 75 – 2300 meter di atas permukaan laut, dan dapat tumbuh baik pada musim kemarau maupun musim hujan.

Tanaman janggelan ini banyak tumbuh secara liar di hutan-hutan pinus tetapi dengan semakin meningkatnya permintaan akan janggelan kering atau biasa disebut sebagai simplisia kering janggelan maka petani sudah banyak yang membudidayakannya. Pembudidayaan tanaman janggelan sangat mudah karena tidak memerlukan pemeliharaan yang khusus.

Penanaman dapat dilakukan secara  tumpang sari– yaitu bersama-sama dengan tanaman lain, seperti jagung, kacang, cabe, kedelai, jahe, dan ketimun. Saat ini simplisia kering janggelan merupakan komoditas yang banyak permintaannya tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri saja tetapi juga diekspor ke Taiwan, Hongkong, Singapura juga beberapa negara Eropa seperti Perancis.

Masyarakat mengenal dua jenis cincau, yaitu cincau hitam dan cincau hijau. Keduanya berbeda dalam hal warna, cita-rasa, penampakan, bahan baku, dan cara pembuatan. Cincau hijau dibuat tanpa proses pemanasan, dengan meremas daun dan ditambahkan air matang dingin kemudian disaring. Ekstrak cincau hijau setelah dibiarkan akan mengental membentuk gel dengan sendirinya. Bahan baku cincau hijau berupa daun yang berasal dari tanaman cincau hijau (Cyclea barbata), cincau perdu  ( Premna serratifolia L atau Premna integritifolia L) dan cincau minyak (Stephania hermandifolia).

Sedangkan cincau hitam dibuat dari seluruh bagian tanaman janggelan (Mesona palustris BL) yaitu daun, ranting, batang bahkan akar. Proses pembuatannya dengan perebusan dengan penambahan abu Qi, tetapi kini sudah diganti dengan soda kue (baking soda). Ekstrak yang diperoleh harus ditambahkan pati dan dipanaskan lagi agar dapat membentuk gel. Tanpa penambahan pati gel tidak akan terbentuk. Cincau hijau maupun cincau hitam rasa dan aromanya spasifik, kenyal, dan hampir menyerupai agar-agar. Gel cincau hitam dapat disimpan lebih lama dibandingkan gel cincau hijau yang mudah sineresis (mencair). Hal ini menyebabkan penggunaan gel  cincau hitam lebih beragam dan mempunyai nilai ekonomi yang lebih tinggi dibandingkan dengan gel cincau hijau.

Cincau hitam  dikenal sebagai bahan pangan tradisional  masyarakat Indonesia. Hampir semua daerah di Indonesia mengenalnya sebagai bahan pangan yang penggunaannya sebagai campuran dalam berbagai variasi minuman daerah. Gel cincau hitam umumnya disajikan bersama-sama dengan potongan kecil buah-buahan, irisan kelapa muda, sirup encer, atau sebagai es campur. Cincau hitam dan es campur adalah bagian yang tidak terpisahkan, karena tanpa cincau hitam es campur akan terasa kurang lengkap dan kurang sedap. Warna hitam dari cincau menyebabkan es campur berwarna-warni menjadi menarik dan kontras. Selain itu juga untuk membantu menimbulkan sensasi rasa dan imajinasi yang mengasyikkan saat minuman  tersebut diteguk dan menggelinding di tenggorokan. 

Pengembangan Produk Cincau Hitam

Selama ini masyarakat mengenal cincau hitam dalam bentuk gel yang digunakan untuk campuran es campur atau dessert lainnya. Sifat gel yang tidak awet, mudah rusak dan tidak praktis menyebabkan pengembangan produk cincau hitam menjadi produk yang lebih awet, praktis dan menarik. Beberapa produk pengembangan hasil penelitian yaitu : serbuk instan cincau hitam, minuman kemasan cincau hitam dalam kaleng atau cup, jelly drink sudah ada dipasaran.

Produk inovatif lainnya seperti teh celup janggelan, minuman serbuk instan, serbuk effervecent, wedang uwuh janggelan, mie juga nori cincau hitam  dan suplemen herbal cincau hitam. Produk-produk inovatif cincau hitam tersebut formulanya dikombinasikan dengan beberapa rempah seperti jahe, kayu manis juga daun pandan.   Penambahan rempah maupun herbal selain akan meningkatkan daya terima flavor produk sekaligus juga dapat meningkatkan sifat fungsional terutama manfaatnya untuk kesehatan.

Potensi Cincau Hitam dalam Peningkatan Kesehatan

Sebenarnya cincau hitam sebagai pangan tradisional telah dipercaya memiliki khasiat terhadap kesehatan. Secara empiris cincau hitam dipercaya berkhasiat sebagai obat batuk, diare, mual, panas dalam atau inflamasi, tekanan darah tinggi dan diabetes. Di Korea Selatan, cincau hitam yang dibuat dengan menambahkan rempah-rempah tertentu ke dalam ramuannya, dipromosikan sebagai makanan kesehatan. Di China dan Taiwan cincau hitam digunakan sebagai obat untuk menurunkan tekanan darah dan obat diuretik. Seiring dengan trend global akan pangan fungsional, sejumlah penelitian tentang khasiat cincau hitam telah mulai banyak dilakukan.

Sejumlah penelitian melaporkan keberadaan senyawa bioaktif fenolik, flavonoid juga saponin pada ekstrak cincau hitam yang berkaitan dengan aktivitas antioksidan. Senyawa bioaktif adalah komponen pangan yang dapat berinteraksi dengan proses biologis tubuh. Kandungan senyawa bioaktif dan kandungan serat pangan pada cincau hitam ini secara fisiologis yang akan berperan dalam kesehatan tubuh dan penyakit. Keberadaan senyawa tersebut membuka peluang pemanfaatan cincau hitam tidak hanya sebagai pangan konvensional, tetapi juga sebagai bahan pengembangan pangan fungsional.

Peranan senyawa bioaktif ini dihubungkan dengan tiga sistem regulasi di dalam tubuh, yaitu sistem imun, sistem hormon (endokrin) dan sistem saraf.   Manfaat senyawa bioaktif terhadap kesehatan juga dapat dievaluasi atau ditentukan dengan melakukan pengujian-pengujian, baik secara kimia, biokimia maupun biologi. Senyawa fenolik, flavonoid dan senyawa bioaktif  lainnya pada bahan pangan dapat berkontribusi terhadap aktivitas antioksidan. Potensi tersebut juga ditemukan dalam penelitian ekstrak daun cincau hitam.

Sebagian besar pengujian komponen  bioaktif dikaitkan dengan  kemampuannya sebagai antioksidan, antikanker, anti hiperkolesterolemia, antidiabetik, antitrombosis, antiinflamasi maupun sebagai imunomodulator dan hepatoprotektor.

Cincau Hitam sebagai  Antiinflamasi

Peradangan atau inflamasi merupakan bagian dari mekanisme pertahanan tubuh. Ketika jaringan mengalami cedera atau menghadapi ancaman tertentu, tubuh mengaktifkan respons inflamasi untuk membantu mengatasi gangguan dan memulai proses pemulihan. Masalah muncul ketika respons peradangan berlangsung berlebihan atau berkepanjangan. Kondisi tersebut dapat berkontribusi terhadap kerusakan jaringan dan berhubungan dengan berbagai gangguan kesehatan.

Hasil penelitian membuktikan ekstrak air cincau hitam dapat menghambat edema kaki tikus dan dapat menurunkan sitokin proinflamasi TNF-α dan IL-1β. Mekanisme anti-inflamasi ekstrak air cincau hitam ini terkait dengan iNOS dan dengan peningkatan aktivitas enzim antioksidan (CAT, SOD dan GPx).

Pengujian anti-inflamasi pada produk suplemen berbasis cincau hitam yang diformulasi dengan jahe merah menunjukkan bahwa kelompok hewan yang mendapat perlakuan suplemen cincau hitam mengalami penghambatan pembengkakan, disertai penurunan indikator pro inflamasi yang diamati dibandingkan kelompok kontrol positif. Hasil ini mendukung adanya potensi antiinflamasi pada formulasi yang diuji

Cincau Hitam sebagai Imunomodulator dan Anti Kanker

Imunomodulator merupakan istilah untuk suatu bahan yang dapat memengaruhi aktivitas sistem imun tubuh. Penelitian menggunakan model hewan coba mencit yang diinduksi dengan benzo(a)pyrene sebagai model kanker membuktikan bahwa ekstrak air cincau hitam (Mesona palustris BL) bersifat imunomodulator dengan meningkatnya komponen immune surveillance (sel NK, sel T sitotoksik (CD 8+),  makrofag dan sitokin Interferon gamma.

Ekstrak air cincau hitam juga mempunyai potensi dapat mencegah terjadinya karsinogenesis pada mencit yang diinduksi dengan karsinogen benzo(a)pirena. Hal ini ditunjang dengan terjadinya apoptosis pada mencit yang mengalami karsinogenesis. Pengujian secara in vitro sitotoksik menggunakan sel kanker Hela (kanker serviks) juga membuktikan ekstra air, etanol dan etil asetat cincau hitam menunjukkan potensi sebagai antikanker pada  sel Hela

Cincau hitam bersifat imunomodelator juga telah dibuktikan dengan pengujian terhadap mencit yang diinduksi bakteri Salmonella typhimurium dan diberi serbuk teh instan cincau hitam dengan formulasi kayu manis dan daun pandan selama 2 minggu dapat meningkatkan sel-sel imun. Produk Suplemen herbal cincau hitam yang diformulasi dengan jahe merah juga telah diujikan secara in vivo pada mencit yang diinduksi bakteri E. coli strain O157. Hasilnya menunjukkan suplemen herbal cincau hitam meningkatkan persentase relatif sel imun dan memulihkan struktur mukosa usus halus tikus.

Cincau Hitam sebagai Antidiabetes

Jumlah penderita DM di dunia diprediksikan meningkat dari 171 juta jiwa pada tahun 2000 menjadi 366 juta jiwa pada tahun 2030.  International Diabetes Federation (IDF) memperkirakan  jumlah penyandang diabetes dewasa Indonesia akan terus meningkat. Survei Kesehatan Indonesia  (SKI) melaporkan prevalensi diabetes berdasarkan diagnosis dokter sebesar 2,2 persen pada penduduk berusia 15 tahun ke atas, sedangkan prevalensi berdasarkan pemeriksaan glukosa darah mencapai 11,7 persen. 

Pada kondisi diabetes melitus didapatkan kadar glukosa dalam darah meningkat (hiperglikemia) akibat tubuh kekurangan insulin atau fungsi insulin tidak lagi efektif (resitensi insulin). Salah satu perkembangan penanganan DM adalah pemanfaatan herbal yang bersifat antioksidan. Resistensi insulin dapat disebabkan oleh stres oksidatif, yakni ketidakseimbangan antara radikal bebas dan antioksidan.

Hasil penelitian membuktikan bahwa ekstrak cincau hitam bersifat antioksidan kuat dan bersifat hipoglikemik karena dapat menurunkan kadar gula darah tikus diabetes yang diinduksi alloxan.  Ekstrak cincau hitam juga dapat mempengaruhi histologi pulau langerhans sel b-pankreas dan memperbaiki kerusakan secara kualitatif pada tikus diabetes yang diinduksi aloksan.

Cincau Hitam sebagai Antihipertensi

Hipertensi adalah penyakit tidak menular penyebab utama kematian di seluruh dunia dan berkontribusi sekitar 57 persen terhadap semua kematian akibat stroke dan 24 persen kearah semua kematian akibat penyakit arteri koroner. Hipertensi sering kali disebut sebagai silent killer,karena termasuk penyakit yang mematikan, tanpa disertai dengan gejala-gejalanya lebih dahulu sebagai peringatan bagi korbannya.

Sejak dahulu kala secara empiris cincau hitam telah dipercaya sebagai antihipertensi. Ekstrak cincau hitam mengandung asam kafeat (cafeic acid) yang memiliki peran utama dalam penurunan tekanan darah.  Effervescent cincau hitam yang diformulasikan dengan jahe merah dan daun pandan juga terbukti dapat menurunkan tekanan darah tikus hipertensi yang diinduksi dengan NaCl 2,5% + Prednison 1,5 mg/KgBB. Begitu juga serbuk teh celup cincau hitam yang diformulasikan dengan rosela dan minuman liang teh cincau hitam juga dapat menurunkan tekanan darah.

Intervensi langsung kepada penderita hipertensi juga dilakukan dengan meminum seduhan daun cincau hitam kepada penderita hipertensi Grade 1 di Desa Meneron Kecamatan Sepulu Kabupaten Bangkalan, perlakuan diberikan selama 1 minggu pada pagi dan malam hari dengan takaran 1 gelas ( 150 ml) sekali minum. Hasilnya menunjukkan penurunan tekanan darah sistolik pada semua responden (Jayaddi, 2017).

Dari pangan tradisional menuju pangan fungsional

Pangan fungsional pada dasarnya merupakan pangan yang tidak hanya menyediakan zat gizi, tetapi juga berpotensi memberikan manfaat fisiologis tambahan ketika dikonsumsi sebagai bagian dari pola makan yang tepat. Dalam konteks cincau hitam, pengembangan pangan fungsional dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan, misalnya minuman instan, teh herbal, jelly drink, atau formulasi yang memadukan cincau hitam dengan rempah-rempah lokal.

Tantangannya bukan hanya menghasilkan produk yang praktis dan enak. Pengembangan produk juga perlu mempertimbangkan kandungan senyawa bioaktif, kestabilan selama pengolahan dan penyimpanan, keamanan pangan, mutu mikrobiologis, serta penerimaan konsumen.

Proses pengolahan perlu dirancang agar karakteristik produk tetap baik tanpa mengabaikan potensi perubahan komponen bioaktif. Selain itu, klaim manfaat kesehatan harus disesuaikan dengan bukti ilmiah yang tersedia dan ketentuan yang berlaku.

Pengembangan seperti ini penting karena Indonesia memiliki kekayaan biodiversitas dan tradisi pangan yang sangat besar. Jika didukung penelitian yang kuat, bahan pangan lokal dapat memiliki nilai tambah melalui inovasi produk, penguatan usaha masyarakat, dan pengembangan industri pangan berbasis sumber daya dalam negeri.

Menikmati cincau hitam secara bijak

Apakah masyarakat perlu menunggu seluruh penelitian selesai sebelum menikmati cincau hitam? Tentu tidak. Cincau hitam dapat tetap dinikmati sebagai bagian dari pola makan yang beragam dan seimbang. Hal yang perlu diperhatikan adalah cara penyajiannya. Cincau hitam yang ditambahkan gula dalam jumlah besar, sirup manis, atau susu kental manis tentu memiliki profil gizi yang berbeda dibandingkan sajian dengan tambahan gula lebih sedikit. Karena itu, konsumen dapat memilih penyajian yang lebih rendah gula sesuai kebutuhan masing-masing.

Cincau hitam memberikan pelajaran bahwa pangan tradisional tidak seharusnya dipandang hanya dari sisi kebiasaan konsumsi. Di balik bahan yang sederhana, terdapat peluang untuk memahami interaksi antara komponen pangan dan proses biologis tubuh melalui pendekatan ilmu pengetahuan.

Pada akhirnya, segelas cincau hitam bukan sekadar minuman tradisional yang menyegarkan– juga merupakan pengingat bahwa kekayaan pangan Indonesia menyimpan peluang untuk inovasi, penelitian, dan peningkatan nilai tambah. Tugas ilmu pengetahuan adalah mengungkap potensi tersebut secara cermat, sehingga warisan pangan lokal dan tradisional dapat terus berkembang dan memberi manfaat bagi masyarakat dengan dasar ilmiah yang kuat.

Referensi 

1. Tri Dewanti W, Sukardiman, Djoko Agus, Win Darmanto, 2012. Efek Imunomodulator Ekstrak Air Cincau Hitam (Mesona Palustris BL) terhadap Karsinogenesis Mencit. J. Teknol. dan Industri Pangan. Vol. XXIII No. 1

2. Widyaningsih TD, 2012. Cytotoxic Effect of Water, Ethanol and Ethyl Acetate Extract of Black Cincau (Mesona Palustris BL) Against HeLa Cell Culture. APCBEE Procedia 2(2):110 – 114.

3. Widyaningsih TD, Mahar J,  Wijayanti N, Rahmani, Najmuddin M, 2013,Immunomodulatory Effect of Instant Tea Powder from Black Cincau (Mesona palustris BL) in the Treatment of Salmonella typhimurium-Induced Infection in Balb Mice. Food and Public Health. 3(3): 142-146

4. Widyaningsih TD, Zumroh IZ, Rochmawati N. 2014. Effect Of Mixed Grass Jelly (Mesona Palustris Bl) And Other Ingredients Effervescent Powder In Diabetic Rats. Ijtra Volume-2, Special Issue 5.

5. Widyaningsih, TD, Wijayanti S,  Tisnaningrum N., 2018. Anti-inflammatory effect of Black cincau (Mesona palustris BL) based supplement in male carrageenan-induced mice. Medicinal Plants International Journal of Phytomedicines and Related Industries, Volume 10 Issue : 3

*Guru Besar Gizi dan Pangan Fungsional Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem Universitas Brawijaya Malang

Editor: Ries Mariana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Banner Website