Beda Masa, Bulan Puasa….

Oleh: Renville Almatsier*

Istilah menunggu beduk berbunyi mungkin tidak dikenal oleh anak-anak sekarang, terutama yang tinggal di kota besar. Kini kita menunggu saat berbuka dengan menyetel televisi sambil mendengarkan kultum. Apa itu beduk? Bagi anak-anak sekarang Bulan Puasa mungkin lebih dirasakan lewat ritual agamanya. Saya mau ungkit dari sisi lain ketika bulan suci ini kami nikmati sebagai masa liburan. Doeloe ! Ya, itu doeloe ketika kami masih anak-anak.

Di masa itu, umumnya sekolah libur Panjang — artinya anak-anak punya waktu bermain lebih lama dari biasanya. Umumnya anak-anak waktu itu sudah diajari berpuasa sejak kecil. Makanya saat berbuka merupakan suatu hal yang sangat ditunggu. Saat itulah dari masjid dan mushala terdengar suara tabuhan beduk yang khas mendahului kumandang azan.magrib. Sejak kecil kita diajari puasa, ikut bangun sahur meski mula-mula puasanya cuma setengah hari. Sejak itu kemudian kebiasaan berpuasa tumbuh dari kesadaran sendiri.

Saat berbuka adalah waktu yang sangat  ditunggu. Biasanya seperempat jam menjelang waktunya, kami sudah duduk di ruang makan menghadap kudapan yang disediakan ibu atau nenek. Waktu itu belum dikenal istilah takjil. Pokoknya ada segelas besar minuman dingin siap dihirup. Isi gelas itu macem-macem, ada kolang-kaling alias buah atep, cincau item, tape, nangka. Kadang-kadang ada selasih atau alpukat. Kalau lengkap dengan serutan es, kami kenal itu sebagai es shanghai — kini mungkin namanya es teler atau es oyen…what is in a name? Nah sambil menyeruput minuman, ada pula pisang goreng, onde-onde, lepat bugis atau agar-agar. Itu kudu ada!

Selesai tahap awal, kami break untuk melaksanakan salat Magrib. Berjamaah atau sendiri-sendiri, baru kembali ke meja makan untuk ritual makan yang sesungguhnya. Masih ada lagi yang menunggu di meja. Biasanya pulang dari masjid untuk tarawih, kudapan tahap kedua ini berbentuk  aneka kolak. Bisa kolak pisang,  kolak jagung, putu mayang, serabi, ketan, bubur sumsum, atau candil biji salak. Bayangin begitu enaknya berpuasa jaman dulu. Nah, pada malam- malam liburan puasa inilah kami, anak-anak bisa bermain sepuas hati. Main galah asin, petak umpet, petak-kadal dan macem-macem lagi seperti mengibulin pejalan kaki dengan menaruh dompet palsu di jalan dan sebagainya.

Waktu sahur lain lagi acaranya. Biasanya saya kakak beradik membantu Ibu yang sudah sibuk membuat kue untuk Lebaran. Kami ikut “membanting” campuran roti, atau mencetak potongan-potongan kaastengel, lidah-kucing, kue bawang atau meremas rebusan kacang untuk membuat kacang tojin.

Buat anak-anak, itu belum waktu tidur. Biasanya teman-teman sudah memanggil dari balik jendela. Kami pun bermain lagi di keremangan subuh. Mengayuh becak beramai-ramai. Bertemulah dengan kawanan becak-becak lain. Kadang-kadang satu becak berisi lima sampai tujuh orang. Ada yang membawa gitar segala. Bergantian kami dari kawasan Tanah Abang Dua mengayuh roda tiga ini sampai ke Harmoni, Istana atau Kwitang. Pulang…pagi. Kami biasa ketiduran sampai siang. Kalau itu dilakukan pada malam takbiran, tidak jarang Hari Raya terlewatkan dengan terkapar di tempat tidur.

Entah zaman mana yang lebih nikmat? Cucu saya sekarang bisa belajar mengaji lewat layar tv atau hape. Beduk, hah..apa itu? Mereka lebih asyik membuka laptop ketimbang berlarian di halaman. Anak-anak Gen Z tidak lagi mengenal aneka kolak.

Pilihan mereka kini pizza, crunchies, kebab, croissant dan entah apa lagi..mau menyebut namanya saja susah.. Disodori kolak ubi, mata mereka mendelik sambil mulut mencibir.  Yah, era memang sudah berbeda. Masing-masing generasi punya “masa emas” sendiri-sendiri. Tinggallah kami yang tua, oops.. yang berumur senior, mengenang masa-masa indah itu….Kemampuan terbatas, kalau tidak… ada aturan yang membatasi.

*Pengamat Sosial dan Mantan Jurnalis Majalah Berita Tempo

  Editor: Jufri Alkatiri

Beda Masa, Bulan Puasa (Foto: Renville Almatsier)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *