Haji Perjalanan Pulang ke Diri Sejati

Oleh: Toto Izul Fatah*

Secara lahir–  haji itu perjalanan jauh menuju Baitullah di  Mekah — tetapi secara batin atau hakikat, adalah perjalanan dekat menuju Allah. Kaki memang melangkah ke Tanah Suci– tetapi ruh sesungguhnya sedang berjalan menuju diri sejati– yaitu, pulang kembali ke fitrah yang suci, sebagai rumah asal yang tidak ada kesombongan– tidak ada keserakahan, tidak ada iri dengki dan tidak ada pakaian mahal.  

Di sana, semua manusia memakai pakaian yang sama– lalu berdiri hanya dengan kain Ihram yang sederhana, seolah Allah sedang berfirman: tinggalkan segala yang membuatmu merasa besar, sebab di hadapan-Ku, yang paling agung bukan jabatanmu, bukan hartamu, bukan namamu, melainkan hatimu yang suci.

Dalam Tasawuf, manusia sering kehilangan dirinya justru ketika dia terlalu merasa memiliki dan terlalu merasa menjadi sesuatu di hadapan sesama, tetapi lupa menjadi hamba di hadapan sang Maha, Allah SWT. Maka pulang ke diri sejati, sebagai hakikat dari ibadah haji, adalah perjalanan sunyi untuk menanggalkan topeng, menaruh ego, membersihkan hati dari iri dengki, lalu duduk kembali di hadapan yang Maha Tinggi– tentu, dengan sebuah kesadaran, bahwa kita ini fana, rapuh dan sepenuhnya milik-Nya.

Dalam jalan sunyi Tasawuf juga — diri sejati itu bukan ‘aku’ yang gemar dipuji, bukan ‘aku’ yang haus posisi,  dan bukan ‘aku’ yang tak henti memburu dunia hingga menutup cermin batin. Dengan kembali ke diri sejati, berarti kita kembali membersihkan cermin yang ternodai. Disitulah diri sejati muncul perlahan, bukan sebagai teriakan, tapi sebagai kejernihan.

Dalam falsafah leluhur Sunda dan Jawa– gagasan itu hidup dalam bahasa yang lebih halus dan membumi. Orang Sunda misalnya, mengenal kelembutan laku dalam bentuk silih asah silih asih silih asuh. Manusia sejati adalah manusia yang bening pikirannya, halus rasanya, dan lurus tindakannya. Orang Jawa menyebutnya sebagai eling lan waspada– yakni, ingat kepada asal usul, sadar kepada tujuan hidup dan waspada terhadap jebakan nafsu, kuasa, serta ilusi dunia

Dalam praktik sejumlah rukun haji, misalnya, secara simbolik, sebenarnya cukup jelas memberi gambaran pesan ilahi tentang perlunya kembali ke diri sejati. Pada saat Thawaf di Ka’bah– misalnya, hakikat haji itu ingin memberi pesan kuat untuk menjadikan Allah sebagai pusat Thawaf hidup. Sebab betapa banyak manusia yang secara lahir  menghadap kiblat, tetapi batinnya mengelilingi dunia– rukuk kepada ambisi pribadi, sujud kepada gengsi, dan bertalbiyah kepada pujian manusia– karena itu, haji datang seperti panggilan yang membangunkan, bahwa hidup ini harus kembali berputar kepada Yang Esa. Bahwa pusat segala cinta, segala takut, segala rindu, dan segala harap, semestinya hanya Allah.

Begitu juga dengan Ihram–  adalah pakaian paling jujur– menelanjangi semua kebesaran palsu. Meruntuhkan jarak antara pejabat dan rakyat, antara orang kaya dan orang kecil, antara yang selama ini dielu-elukan dan yang sepanjang hidupnya nyaris tak pernah disebut. Dengan dua lembar kain itu, manusia seperti dikembalikan pada satu kenyataan yang tak bisa dibantah,  bahwa kita semua hanyalah makhluk yang rapuh– yang suatu hari akan pulang dengan kain yang hampir serupa. Maka haji, sejak awal, sesungguhnya sudah mengajarkan kematian agar manusia belajar hidup dengan benar.

Lalu wukuf di Arafah juga sama– adalah berhenti yang agung– bukan hanya berhenti dari perjalanan, tetapi berhenti dari seluruh kepalsuan. Di padang itu, langit seolah lebih dekat, dan hati yang jujur akan mendengar gemuruh dosanya sendiri.

Di sana manusia semestinya menangis, bukan karena merasa suci, tetapi karena baru sadar betapa lama hidup menjauh dari sang Maha Suci.  Wukuf adalah saat ketika seluruh kebanggaan runtuh, dan yang tersisa hanya seorang hamba yang memohon: Ya Allah, aku telah terlalu banyak lupa, terlalu banyak salah, terlalu banyak mencintai selain Engkau.

Sedangkan Sa’i antara Shafa dan Marwah — adalah kisah tentang harap yang tidak pernah padam– mengajarkan bahwa doa bukan alasan untuk berhenti berikhtiar. Hajar berlari, dan dari keikhlasan seorang ibu, Allah memancarkan Zamzam. Maka dalam hakikatnya, Sa’i adalah pelajaran bahwa rahmat sering lahir bukan ketika manusia diam menunggu, tetapi ketika setia bergerak di tengah letihnya. Ada air yang lahir dari sabar. Ada pertolongan yang keluar dari luka yang dipasrahkan sepenuhnya kepada Allah.

Sedangkan Lontar Jumrah adalah pengakuan yang pahit– bahwa setan yang paling berbahaya kadang bukan yang datang dari luar, tetapi yang tumbuh di dalam dada sendiri– menjelma rakus, iri, culas, tamak, dan mabuk kekuasaan– masuk ke dalam niat, lalu merusak amal dari akarnya.

Maka melempar jumrah sejatinya bukan sekadar melempar batu, tetapi melempar segala kecenderungan buruk dan gelap dalam diri yang membuat manusia tega mengambil hak sesama, menjual amanah, dan memperalat kesucian untuk keuntungan dunia– karena itu haji Mabrur sesungguhnya bukan soal berhasil sampai ke Makkah, tetapi berhasil kembali kepada diri sejati, diri yang suci, yang menyati dengan sang Maha Suci, Allah SWT. 

Haji mabrur bukan haji yang sekedar membawa oleh-oleh dari Tanah Suci, tetapi membawa pulang hati yang lebih jernih. Bukan soal nama yang berubah menjadi “haji”, tetapi jiwa yang berubah menjadi lebih rendah hati, lebih lembut, lebih bersih, lebih takut memakan yang haram, dan lebih gemetar ketika berhadapan dengan air mata orang kecil– namun justru di titik yang paling suci itulah ironi kerap menorehkan luka. Betapa banyak orang menabung sepanjang hidup untuk menjadi tamu Allah, tetapi jalan yang mereka tempuh dipenuhi keruwetan dunia yang tidak kunjung selesai. Kuota diperebutkan. Antrean mengular seperti jalan tak berujung. Orang-orang kecil menunggu dalam usia yang makin menua.

Mereka lupa– bahwa haji adalah undangan untuk pulang ke diri sejati. Pulang ke yang Maha Suci. Pulang dari dusta menuju jujur. Pulang dari rakus menuju qanaah. Pulang dari zalim menuju adil. Pulang dari merasa besar menuju merasa hina di hadapan Allah. Maka siapa pun yang berhaji, baik jemaah maupun penyelenggara, sesungguhnya sedang diuji oleh pertanyaan yang sama—apakah Engkau benar-benar datang kepada Allah, atau hanya datang ke Makkah? Sebab tidak sedikit orang sampai ke Ka’bah, tetapi tidak sampai kepada pemilik sejati Kabah.

*Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA dan Ketua Umum IKA PP Ibadurrahman YLPI Tegalega Sukabumi Jawa Barat

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *