Bernego Takdir dengan Tuhan

Oleh: Toto Izul Fatah*

Ada pertanyaan klasik yang tidak pernah mati dalam sejarah spiritual manusia. Kenapa kita harus berdoa dan berusaha, sementara setiap manusia sudah punya takdirnya masing-masing? Jawaban umum yang sering kita dengar adalah, bahwa Tuhan telah memberikan sebagian otoritasnya kepada makhluknya lewat berusaha (ikhtiar).

Dalam Islam– salah satu ayat yang menguatkan jawaban itu adalah, bahwa  “Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali mereka mau mengubah dirinya sendiri”.  Ayat ini menegaskan tentang pentingnya berusaha– dan setelah kita berusaha, para ulama dari masa klasik maupun moderen, hanya bisa menenangkan sekaligus meyakinkan, bahwa tugas kita selesai sampai usaha. Selebihnya serahkan semua ketentuan kepada sang Maha Kuasa, Allah SWT.

Dalam konteks itulah, para ahli sufi sering mengingatkan kita untuk tetap berbaik sangka kepada Sang Pencipta. Pasti, ada maksud Tuhan dibalik kegagalan itu– sama seperti pastinya ada maksud Tuhan dibalik mengabulkan seluruh usaha kita. Bahkan, lebih dari sikap itu, dalam banyak kajian Ilmu Tasawuf– berbaik sangka (husnudzon) kepada Allah itu yang sesungguhnya dapat mengubah takdir kita– karena Tuhan, menurut sebuah Hadist Qudsi yang sering dikutip kaum Sufi– bahwa Allah pernah mengatakan, “Aku itu sesuai dengan perkiraan hamba-Ku tentang Aku” (ana inda zhoni abdi bi).

Karena itulah, kembali lagi, kuncinya ada pada kebersihan pikiran kita yang selalu positif kepada Allah. Semakin positif pikiran kita kepada Allah, maka akan semakin dekat juga dengan Allah. Di kalangan kaum Sufi– zikir orang yang sudah merasa dekat dengan Allah, bukan lagi laa ilaha illallah atau laa ilaha illa hua. Tidak ada Tuhan kecuali Dia– tapi, laa ilaha illa anta. Tidak ada Tuhan kecuali engkau.

Zikir yang pertama, Tuhan disebut sebagai orang ketiga tunggal, yang dalam bahasa Arab disebut dhamir ghaib. Dalam zikir ini Tuhan digambarkan jauh dengan kita. Sedangkan zikir yang kedua, Tuhan diposisikan lebih dekat dengan kita karena menggunakan kata engkau. Dalam bahasa Arab disebut dhamir mukhatab, orang yang kita ajak bicara.

Makanya, zikir para Nabi digambarkan dalam al-Quran; laa illa ha illa anta subhanaka inni kuntu minazhalimin (QS: Al Anbiya 87). Ayat ini juga menguatkan tentang pentingnya seorang hamba untuk lebih dekat kepada Tuhannya. Semakin bersih hati kita, semakin dekat kita dengan Tuhan.  Dalam pandangan Tasawuf, kedekatan kepada Tuhan bukanlah sekadar banyaknya ritual, melainkan kejernihan batin. Hati yang kotor oleh iri, sombong, rakus, dendam, dan merasa paling berkuasa, sulit menjadi cermin bagi cahaya Ilahi– karena itu para Sufi selalu berbicara tentang tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) sebagai jalan utama. Sejumlah kajian tentang tazkiyah al-nafs menjelaskan bahwa inti laku ini adalah membersihkan dorongan-dorongan rendah dalam diri agar jiwa kembali ke keadaan yang lebih sehat, jernih, dan terarah kepada Tuhan.

Dalam konteks inilah, kalimat “mengosongkan hati” menjadi sangat penting. Mengosongkan hati bukan berarti menjadi manusia yang hampa, apalagi kehilangan akal. Mengosongkan hati berarti menurunkan ego dari singgasana batin. Termasuk, kita berhenti merasa bahwa hidup sepenuhnya berada dalam genggaman kita. Dalam istilah Sufi, ini dekat dengan fana atas keakuan yang palsu, lalu bertahan dalam kesadaran bahwa yang hakiki hanyalah Dia. Hati yang demikian bukan hati yang lemah, melainkan hati yang telah berhenti ribut dengan langit.

Di sinilah muncul gagasan yang sering dianggap berani: bahwa manusia bisa “bernegosiasi” dengan Tuhan. Dalam tradisi Islam, ide ini tidak sepenuhnya asing. Ada hadis yang sangat populer bahwa tidak ada yang dapat menolak atau mengubah ketetapan selain doa. Dengan kata lain, Allah tetap Maha menentukan, tetapi Dia sendiri membuka pintu perubahan melalui doa dan ikhtiar. Doa sebagai permintaan, tentu akan lebih didengar jika kita dekat dengan yang diminta, Allah SWT. Sebaliknya, doa kita  kecil peluangnya untuk dikabulkan, karena kita jauh dengan yang kita mintai. Sama seperti kita artikan doa sebagai nego atau menawar kepada Tuhan. Jika kita dekat dan kenal baik, maka yang akan kita tawar itu pasti lebih berpeluang untuk mengabulkannya. Begitu sebaliknya.

Tentu — yang dimaksud nego disini bukan dalam arti merendahkan dan mensejajarkan diri dengan Tuhan.  Bernego dengan Tuhan bisa lewat jalan sunyi suara hati yang tak berbunyi. Bernego dengan Tuhan juga tidak harus dengan kata dan suara.  Disitulah kebersihan hati  dibutuhkan– yaitu, kebersihan hati yang sudah tidak lagi terhijab oleh dosa iri dengki. Kebersihan hati yang sudah dilalui dengan taubat sejati. Kebersihan hati yang sudah ditebus dengan mengeluarkan hak-hak orang lewat zakat, infak dan shadaqah. Itulah kebersihan yang akan melahirkan pikiran positif (husnudzon) kepada Tuhan.

Dalam banyak kajian Psikologi, realitas itu sering ditentukan oleh isi pikiran kita. Para Psikolog menyebutnya sebagai konsep diri. Intinya, konsep diri kita akan mempengaruhi siapa diri kita. Jika Anda berpikir bahwa Anda tidak disukai banyak orang, Anda pasti akan dibenci banyak orang.

Begitu juga dalam kontek berhusnudzon kepada Tuhan. Jika kita ragu akan dikabulkan, maka bisa jadi doa kita tidak akan terkabul. Masalahnya, kenapa kita ragu atau tidak yakin atau belum bisa berpikiran positif kepada Tuhan? Jawabannya, mungkin karena hijabnya terlalu kuat oleh dosa-dosa kita.

Dalam Tasawuf, ada paham yang kita kenal dengan wahdatul wujud, bahwa kehendak seseorang bersatu dengan kehendak Tuhan– dan dalam konteks tertentu yang lebih ekstrim, karena kedekatan kita dengan Tuhan, para Sufi menempatkan kita sebagai co-creator– yaitu, manusia diberi kesempatan Tuhan untuk ikut menciptakan realitas yang kita kehendaki– tetapi, bukan dalam arti manusia menjadi pencipta sejajar dengan Tuhan. Dalam tauhid, itu jelas mustahil– yang dimaksud adalah bahwa  manusia diberi peran partisipatif dalam penciptaan jalan hidupnya. Dengan kata lain, diberi ruang untuk ikut menentukan takdirnya sendiri.  Meskipun, ujungnya, Tuhan tetap sebagai pemilik sejati semua ketentuan.

*Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA dan Ketua Umum IKA PP Ibadurrahman YLPI Tegalega Sukabumi Jawa Barat

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *