Oleh: Prof. Dr. Murodi al-Batawi, MA*
Setiap tahun, umat Muslim Betawi — berkumpul di masjid, di rumah sesepuh, makam guru, ulama, atau tokoh kampung untuk menggelar haul. Di tengah Jakarta dan sekitarnya yang terus berubah, tradisi ini tetap hidup. Haul bukan sekadar ziarah– adalah cara komunitas merawat ingatan, meneguhkan adab, dan menjaga kebersamaan yang makin langka di kota besar.
Betawi– seperti beberapa daerah,, minim naskah tertulis tentang sejarah kampungnya– yang ada adalah cerita lisan yang diwariskan turun-temurun. Haul menjadi “perpustakaan terbuka” warga. Lewat pembacaan manaqib dan sambutan sesepuh, generasi muda mengenal siapa pendiri surau, siapa yang mewakafkan tanah, siapa yang dulu mendamaikan konflik.
Tanpa haul– nama-nama berjasa itu mudah hilang ditelan Pembangunan– dengan haul, jejak mereka tetap hidup dan jadi teladan. Inilah pendidikan sejarah yang membumi. Anak muda tidak dicekoki data, tetapi diajak merasakan langsung nilai pengorbanan para leluhur. Selain itu, di beberapa kota besar, termasuk Jakarta dan sekitarnya, sering membuat warga sibuk dengan urusannya. Tetangga satu gang bisa tidak saling kenal. Haul membalikkan keadaan itu, setidaknya setahun sekali. Warga yang sudah pindah ke Bekasi, Depok, Tangerang, tetap pulang ke kampung.
Ada tahlil, salawat, doa bersama– lalu duduk lesehan berbagi besek berisi nasi uduk atau nasi putih dengan lauk khas Betawi dan kue– tidak ada sekat jabatan atau harta. Mantan lurah duduk bersebelahan dengan tukang ojek. Momen ini meneguhkan Sila Ketiga Pancasila: Persatuan Indonesia. Persatuan dibangun bukan lewat pidato, tapi lewat rasa syukur yang sama. Karenanya, inti haul adalah adab kepada orang tua, guru dan sesepuh kampung. Murid datang bukan untuk meminta, tetapi untuk berterima kasih. Pepatah “guru kencing berdiri, murid kencing berlari” — masih hidup di sini. Anak muda melihat langsung bagaimana orang tua bersalaman, mencium tangan, dan mendoakan guru yang sudah wafat.
Haul Muslim Betawi memadukan zikir, tawasul, dan doa dengan adat lokal. Pembacaan Al-Barzanji berpadu dengan pantun dan bahasa Betawi yang khas. Tidak ada klaim paling benar– yang ada kerendahan hati di hadapan Tuhan. Sikap ini selaras dengan Sila Pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa yang dipahami secara toleran– karena itu, tantangan ke depan tidak ringan. Lahan pemakaman menyempit karena urbanisasi. Waktu warga terbatas karena tuntutan kerja. Sebagian pihak juga mempertanyakan dasar syariatnya. Jika tidak dirawat, tradisi ini bisa tinggal nama.
Substansi haul harus dipisahkan dari bentuknya– zikir dan doa bisa dilakukan di musallla. Cerita sejarah bisa direkam jadi arsip digital atau podcast. Kaum muda Betawi bisa ambil peran mendokumentasikan. Pemerintah dan pemangku adat perlu menjaga kawasan makam bersejarah dan memasukkan cerita tokoh lokal ke muatan lokal sekolah– dari semua itu dapat dikatakan bahwa tradisi haul Muslim Betawi membuktikan modernitas tidak harus memutus akar. Kota boleh maju, tetapi manusia tetap butuh ingatan. Mengenang orang yang sudah wafat justru menguatkan yang hidup untuk berjalan bersama dan meneruskan kebaikan.
Selama nilai gotong royong, hormat pada orang tua, guru, dan kepedulian pada sesama masih dibacakan di setiap haul, maka jati diri Betawi tidak akan hilang. Haul bukan tentang masa lalu– adalah bekal untuk masa depan Jakarta yang lebih beradab.
*Profesor Sejarah Peradaban dan Dosen Tetap Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Editor: Jufri Alkatiri
