Bandara Kertajati dan Militer AS

Oleh: M. Noeh Hatumena

Bandara Kertajati di Majalengka, Jawa Barat akan dijadikan sebagai tempat perawatan pesawat Hercules militer Amerika Serikat. Kalimat ini adalah penggalan berita pers yang dipublikasi akhir Mei 2026.  Ditambahkan pada berita itu bahwa sikap ini disampaikan Presiden Prabowo karena ada permintaan Presiden Trump terkait sikon geopolitik aktual di kawasan Asia Pasifik khususnya konflik antara China dengan negara-negara  ASEAN mengenai laut Cina selatan.   Menhan Syafri Samsudin di penggalan berita lain menegaskan  pemberdayaan sebagian bandara Kertajati itu hanya untuk tempat perawatan Hercules militer AS, bukan dijadikan sebagai pangkalan militer AS.

Penegasan Syafri itu benar sekali karena arti sesungguhnya pangkalan militer itu adalah basis logistik, penyimpanan amunisi dan persenjataan serta pangkalan peluncuran serangan terhadap lawan.   Adapun pusat perawatan sarana militer adalah tempat perawatan dan perbaikan sarana militer dan biaya pembangunannya ditanggung pengguna.  Apalagi, didalam konteks pemanfaatan Bandara Kertajati, AS dan RI sepakat bekerjasama untuk kepentingan militer kedua negara.

Kalangan DPR-RI berhati-hati menanggapi pemanfaatan bandara itu untuk perawatan Hercules militer AS. Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Achmad tegaskan  tidak ada masalah, kita akan awasi, selama ada efek positifnya bagi bangsa dan negara– silahkan.  Apalagi Indonesia dapat manfaatkan peluang ini juga  untuk alih- teknologi dan merawat Herculesterutama suku cadangnya.

Pengamat Penerbangan Indonesia, Alvin Lee, kepada Pers sebaliknya mengajak publik mengkritisi kerjasama militer AS-RI itu. Secara eksplisit, kata Alvin,– bukan mustahil peluang kerjasama militer AS-RI tersebut akan dimanfaatkan AS untuk menyusupkan personel militernya dengan dalih yang dicari. Meski bukan pangkalan militer tetapi kerjasama perawatan Hercules itu lambat-laun berubah  nanti menjadi zona militer dengan akses terbatas.

Kritik Alvin ini seolah menyiratkan pesan kepada pemerintahan Prabowo-Gibran agar tetap berpegang teguh pada prinsip  Non-Blok. Sikap inilah yang membuat Indonesia selama ini disegani kawan maupun lawan.

Creeping Militarization

Patut disimak juga adalah catatan sejarah dunia tentang track record AS selama ini yang menjadikan satu negara sebagai pangkalan militernya.    Menurut catatan itu, cara AS menjadikan Philipina dan Australia sebagai pangkalan militernya, pertama adalah pendekatan meminta tempat untuk pusat perawatan sarana militernya (udara dan laut), selanjutnya beranjak menjadi pusat akomodasi logistik dan endingnya berubah secara perlahan menjadi pangkalan militer dengan operasional penuh.

Ilmuwan Rocky Gerung menganalogikan contoh yang telah dilakukan AS atas kedua negara berdaulat itu sebagai bentuk creeping militarization — yakni taktik ekspansi militer kedalam ranah sipil.   Kegalauan publik atas rencana AS memberdayakan Bandara Kertajati itu membuat penulis –secara iseng bertanya kepada mesin kecerdasan buatan (AI) di komputer– ternyata jawaban AI diluar dugaan– Presiden Prabowo itu orangnya cerdas dan berkepribadian kokoh.

Prabowo sudah berulangkali meyakinkan rakyat Indonesia bahwa RI tidak akan pernah mengijinkan wilayahnya dijadikan pangkalan militer asing, karena bertentangan dengan Konstitusi Negara dan peraturan perundangan dibawahnya.  Lagian, kata AI– Indonesia bukan boneka AS yang gampang ditekan. Indonesia adalah negara besar di belahan bumi selatan (southern hamisphere) yang semakin diperhitungkan negara lain, memiliki prinsip Non Blok yang tegas.  Prabowo juga sahabat karib Rusia dan China.

*Jurnalis Senior dan Mantan Pimpinan KB ANTARA

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *