Oleh: Toto Izul Fatah*
Lagu berjudul Urang Sunda yang populer dinyanyikan Doel Sumbang beberapa tahun lalu, terasa makin relevan untuk memberikan gambaran nasib orang Sunda hari ini. Pada bagian pembukanya, lirik lagu itu seperti melontarkan pertanyaan yang pahit: Kamarana urang Sunda (pada kemana urang Sunda). Disebut aya, da euweuh (disebut ada, tetapi tidak ada). Disebut euweuh, da aya (disebut tak ada, tetapi ada). Itulah potret Sunda hari ini.
Secara jumlah– memang masih besar. Secara demografis–juga tetap nyata. Begitu juga secara budaya, namanya masih disebu– tetapi dalam kehidupan sehari-hari, dalam etika, dalam watak, dalam laku sosial, Sunda terasa seperti hadir setengah badan– ada lebih sebagai angka, tetapi makin samar sebagai jiwa.
Di situlah ironi terbesar orang Sunda. Di atas kertas, Sunda masih kokoh. Data Sensus Penduduk 2010 menempatkan Suku Sunda sebagai kelompok etnis terbesar kedua di Indonesia, sekitar 36,7 juta jiwa atau 15,5 persen dari total penduduk nasional.
Di Jawa Barat — jumlah orang yang teridentifikasi sebagai Sunda mencapai sekitar 30,8 juta jiwa. Sementara, penduduk Jawa Barat sebagai ruang utama kebudayaan Sunda terus bertambah dan kini telah menembus puluhan juta jiwa. Artinya, secara angka, Sunda bukan kelompok kecil. Sunda bukan suku yang tersisih ke pinggir sejarah. Sunda tetap besar, tetap padat, tetap hidup dalam statistik–tetapi justru di situlah persoalannya: mengapa ketika tubuh demografinya membesar, ruh etik dan budayanya justru terasa menipis?
Padahal, Sunda itu sebenarnya tata rasa. Sunda adalah cara bertutur. Sunda adalah cara menghormati orang tua, memperlakukan sesama, menjaga batas, merawat harmoni, dan menempatkan manusia sebagai bagian dari alam, bukan penguasa yang rakus atas alam. Bila semua itu melemah, maka Sunda bisa saja tetap besar di sensus, tetapi mengecil dalam makna.
Di sinilah lirik Doel Sumbang itu terasa seperti diagnosis kultural. Orang Sunda hari ini memang seperti sedang berada dalam wilayah antara, yaitu antara ada dan tiada, antara bangga dan lupa, antara simbol dan isi. Kita masih menemukan nama Sunda di sekolah, di panggung seni, di spanduk kebudayaan, di seremoni pemerintahan, bahkan dalam kebanggaan identitas regional– tetapi, pada saat yang sama, kita juga menyaksikan bahwa sebagian inti kesundaan justru makin terdesak dari kehidupan nyata. Bahasa Sunda makin jarang dipakai dengan utuh dalam keluarga.
Sementara, kekuatan utama budaya Sunda itu bukan pertama-tama terletak pada pakaian adat, alat musik, atau pesta budaya, melainkan pada etika sosial yang halus dan mendalam. Kita mengenal ajaran silih asih, silih asah, silih asuh. Dalam masyarakat yang makin dikepung budaya serba cepat, nilai silih asih kalah oleh ego. Silih asah kalah oleh pamer pengetahuan, dan silih asuh kalah oleh sikap saling tinggal. Penipisan itu juga tampak pada bahasa. Dalam kebudayaan Sunda, bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Bahasa adalah rumah etika. Di dalam bahasa Sunda ada tata hormat, ada ukuran kesopanan, ada kehalusan rasa.
Orang belajar menjadi halus bukan hanya dari nasihat, tetapi dari pilihan kata. Ketika seseorang membiasakan diri bertutur dengan hormat– sedang mendidik dirinya untuk tahu posisi, tahu rasa, tahu adab– karena itu, memudarnya bahasa Sunda sesungguhnya bukan cuma soal hilangnya alat bicara, tetapi juga hilangnya salah satu perangkat pembentuk akhlak sosial. Celakangnya, bukan hanya bahasa yang mengalami pengikisan. Budaya agraris Sunda pun demikian. Padahal salah satu sumber kebesaran Sunda terletak pada kedekatannya dengan alam.
Orang Sunda lama tidak hanya hidup di atas tanah, tetapi hidup bersama tanah. Ada hubungan yang hormat dengan sawah, air, padi, musim, dan hutan. Begitu pula lumbung padi tradisional seperti leuit– bukan hanya tempat menyimpan hasil bumi, melainkan simbol etika pangan. Kini, modernitas telah menggeser orientasi hidup dari keharmonisan dengan alam menuju dominasi atas alam.
Ritme alam kalah oleh ritme pasar. Orang masih bangga mengaku anak Sunda, tetapi tidak lagi akrab dengan filsafat hidup yang tumbuh dari tanah Sunda. Ini tentu bukan vonis bahwa Sunda telah hilang. Justru ini peringatan bahwa Sunda masih bisa diselamatkan– sesungguhnya masih ada, baik dalam bahasa yang tersisa maupun dalam kampung yang menjaga tata krama. Termasuk, ada dalam tradisi dan seni– tetapi, yang ada itu memerlukan kerja besar untuk dijaga agar tidak benar-benar tinggal nama.
Salah satu caranya, bahasa Sunda harus hidup lagi di rumah. Tata krama harus kembali menjadi kebiasaan, bukan slogan. Nilai silih asih, silih asah, silih asuh harus diterjemahkan ke dalam pendidikan, kepemimpinan, dan pergaulan sosial. Kearifan agraris Sunda harus dibaca ulang sebagai dasar etika ekologis di tengah krisis lingkungan hari ini– dengan cara itulah Sunda tidak hanya akan tetap besar dalam angka, tetapi juga tetap tegak dalam budaya.
*Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA danKetua Umum IKA PP Ibadurrahman YLPI Tegalega Sukabumi Jawa Barat
Editor: Jufri Alkatiri
