Lebaran Anak Yatim di Betawi: 10 Muharam 1448 H Menebar Kasih Sayang, Menjaga Tradisi Berbagi

Oleh: Prof. Dr. Murodi al-Batawi, MA*

Muharam, merupakan bulan pertama dalam perhitungan Kalender Islam yang ditetapkan berdasarkan Lunar System– peredaran bulan. Berbeda dengan Kalender Masehi yang ditetapkan berdasarkan peredaran matahari atau Solar System. Dalam bulan Muharam, banyak peristiwa sejarah dan tradisi Islam yang terjadi, seperti peristiwa yang terjadi di ranah Betawi, 10 Muharam atau ‘Asyura adalah  Lebaran Anak Yatim di Betawi– karenanya, suasana 10 Muharam, di kampung-kampung Betawi berubah. Bukan karena takbir seperti Idul Fitri. Tetapi karena ada _lebaran kecil yang hanya dipahami warga Betawi: Lebaran Anak Yatim.

Anak-anak yatim berdandan rapi. Baju baru, rambut disisir, senyum merekah. Mereka berjalan dari rumah ke rumah, dari masjid ke mushola, membawa mangkuk dan kantong plastik. Bukan untuk mengemis. Mereka datang untuk menerima kasih sayang orang sekampung. Inilah Asyura versi Betawi. Hari di mana anak yatim menjadi raja sehari. Hari di mana seluruh warga berlomba menebar sedekah dan do’a.

Asyura dalam Tradisi Betawi: Lebih dari Sekadar Puasa

Secara syariat, Asyura adalah tanggal 10 Muharam. Nabi berpuasa di hari itu untuk bersyukur atas keselamatan Nabi Musa dari Fir’aun. Nabi bersabda: Puasa Asyura menghapus dosa setahun yang lalu”. HR Muslim. Warga Betawi tidak hanya berpuasa. Mereka menambah satu amalan khas: memuliakan anak yatim– tradisi ini sudah berjalan turun-temurun sejak zaman orang tua kita.

Kenapa anak yatim? Karena Asyura bertepatan dengan peristiwa besar: Nabi Adam bertobat, Nabi Nuh selamat dari banjir, Nabi Yunus keluar dari perut ikan. Semua peristiwa itu tentang kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Maka warga Betawi membalas kasih Allah dengan menyayangi anak yatim. Di Betawi ada istilah ngasuh anak yatim. Ngasuh artinya mengasuh, memberi makan, memberi hadiah. Tidak harus uang besar. Bisa kue, baju, atau sekadar usapan kepala– yang penting anak yatim merasa tidak sendiri.

Mengapa Disebut “Lebaran Anak Yatim”?

Lebaran artinya hari raya, hari kemenangan– bagi anak yatim Betawi, tanggal 10 Muharam memang terasa seperti lebaran. Setahun penuh mereka mungkin merasa kurang perhatian. Ayah atau ibu sudah tiada. Hidup Sederhana– tetapi di hari Asyura, semua berubah. Toko kue ramai. Ibu-ibu masak bubur Asyura berkuah santan. Bapak-bapak membagi amplop. Anak yatim jadi pusat perhatian. Mereka disalami, dipeluk, dido’akan. Untuk sesaat, luka kehilangan mereka terobati oleh hangatnya kepedulian warga.

Data BPS 2023 mencatat lebih dari 4 juta anak yatim dan yatim piatu di Indonesia. Jakarta sebagai kota urban punya tantangan besar, banyak anak yatim hidup di tengah hiruk pikuk, tetapi luput dari perhatian. Tradisi Betawi ini menjadi jawaban. Di tengah modernisasi, warga Betawi tetap menjaga nilai, anak yatim adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya tanggung jawab keluarga.

Nilai Islam di Balik Bubur Asyura

Bubur Asyura bukan sekadar makanan. Bubur itu simbol kebersamaan. Satu kuali besar dimasak gotong royong. Kacang, beras, santan, gula merah – semua dicampur jadi satu. Sama seperti warga: berbeda latar, tetapi satu rasa peduli. Islam mengajarkan: _Bukankah dia yang mendustakan agama? Yaitu orang yang menghardik anak yatim.  QS Al-Ma’un:2-3. Ayat ini keras. Allah menempatkan sikap pada anak yatim sejajar dengan iman. Rasulullah juga bersabda: Aku dan orang yang menanggung anak yatim seperti dua jari ini di Surga  sambil merapatkan jari telunjuk dan jari tengah HR Bukhari. Itulah ajaran Islam Islam yang tidak hanya rajin ibadah ritual, tetapi juga rajin menebar manfaat. Puasa Asyura di siang hari, sedekah ke anak yatim di sore hari. Sempurna.

Tantangan Merawat Tradisi di Zaman Kini

Sekarang tantangan Asyura di Betawi makin berat– Anak-anak lebih sibuk dengan gawai. Warga makin individualis. Kampung urban makin padat, rasa kekeluargaan menipis. Ada juga yang salah kaprah. Mengira Asyura hanya pesta bubur. Padahal inti Asyura adalah empati. Jika bubur dibagikan tetapi anak yatim tetap diabaikan 11 Muharam, maka maknanya hilang. Merawat tradisi Asyura berarti merawat hati. Ajak anak kita ikut membagi bubur. Ajak mereka menyalami anak yatim. Jelaskan, “Nak, ini adik kamu. Dia tidak punya ayah. Tugas kita menyayanginya.”

Pemerintah dan lembaga zakat juga bisa memperkuat tradisi ini. Data, pendampingan, beasiswa untuk anak yatim harus jalan setahun penuh. Jangan hanya ramai 10 Muharam, lalu lupa 11 Muharam. Selain itu, perhatikan dan bantu urusan keseharian mereka, agar mereka tidak merasa sendirian lagi.

Asyura di Betawi mengajarkan pelajaran sederhana: merayakan kemenangan paling indah adalah ketika kita membuat orang lain tersenyum. Bagi anak yatim, senyum mereka di tanggal 10 Muharam adalah doa terbaik untuk kita. Doa anak yatim tidak ada penghalangnya menuju langit.

Mari kita jaga tradisi ini. Jangan biarkan Lebaran Anak Yatim  hanya jadi nostalgia orang tua. Wariskan ke anak cucu kita– 10 Muharam 1448 H– mari kita puasa. Mari kita masak bubur. Mari kita rangkul anak yatim– karena bisa jadi, satu usapan kepala kita hari ini, adalah tiket kita ke Surga bersama Rasulullah kelak. Selamat Asyura. Selamat Lebaran Anak Yatim Betawi. Wallahu a’lam bishawab.

*Profesor Sejarah Peradaban dan Dosen Tetap Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Editor: Jufri Alkatiri

Caption Foto: Profesor Sejarah Peradaban dan Dosen Tetap Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Foto: Murodi al-Batawi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *