10 Muharam: Peristiwa Karbala yang Mengguncang Sejarah Islam

Oleh: Prof. Dr. Murodi al-Batawi,MA*

Muharam– merupakan bulan pertama dalam Kalender Islam, berdasarkan perhitungan Lunar System, atau Qamariyah. Banyak peristiwa bersejarah yang terjadi pada bulan ini, di antaranya Peristiwa Karbala,  61 H/680 M. yang terjadi pada 10 Muharam.–karenanya, setiap 10 Muharam, umat Islam dunia berhenti sejenak. Ada yang berpuasa Asyura. Ada yang berziarah. Ada yang membaca sejarah– karena tanggal itu menyimpan luka terdalam umat: peristiwa Karbala, tahun 61 Hijriah. Karbala bukan sekadar kisah perang– adalah persimpangan jalan sejarah Islam. Di sanalah pertanyaan paling dasar muncul: kekuasaan untuk siapa, dan agama itu untuk apa?

Islam Pasca-Rasul

Nabi Muhammad wafat 632 M– setelah itu, kepemimpinan berada di bawah al-Khulafa al-Rasyidun dan Islam berkembang sangat cepat. Dari Jazirah Arab ke Persia, Syam, Mesir– tetapi setelah wafatnya Khalifah Ali bin Abi Thalib, kepemimpinan berpindah ke Bani Umayyah lewat Muawiyah. Pola kekuasaan mulai bergeser dari musyawarah ke monarchi heredities, dinasti Bani Umayah berkuasa.

Kemudian tahun 680 M, Yazid bin Muawiyah naik jadi khalifah. Banyak sahabat dan tabiin menolak. Mereka lihat Yazid jauh dari teladan Nabi, mabuk, sepelekan syariat. Di Kufah, Irak, orang-orang menulis surat ke al-Husain bin Ali: “Kemarilah, kami baiat”. al-Husain adalah cucu Nabi, putra Fatimah dan Ali. Bagi banyak muslim, dia simbol kemurnian Islam.

Al-Husain berangkat dari Mekah ke Kufah cuma bawa keluarga kecil, sekitar 72 orang. Termasuk adiknya Abbas, keponakan Qasim, anak Ali Akbar. Tujuannya bukan merebut tahta. Tujuannya: mengingatkan umat bahwa Islam tanpa keadilan hanyalah cangkang.

Di tengah jalan, utusan Kufah berkhianat. Yazid kirim pasukan 4.000 orang dipimpin Umar bin Saad. al-Husain dihadang di padang Karbala, dekat Sungai Eufrat. Air diputus. 9 Muharam malamnya, al-Husain bilang ke pengikutnya: “Bebas kalian pergi”–tetapi mereka pilih tetap bersama.

Kemudian pada 10 Muharam pagi, pertempuran tidak seimbang terjadi. 72 lawan ribuan. Satu per satu gugur. Ali Akbar, Qasim, Abbas pemegang bendera. Terakhir al-Husain sendiri. Kepalanya dipenggal, dibawa ke Damaskus. Perempuan dan anak-anak ditawan.

Karbala mengguncang karena dia merobek  mimpi Islam awal, umat satu, adil, dipimpin oleh pemimpin yang terbaik–tetapi apa yang terjadi, kekuasaan menang, kebenaran kalah di medan–tetapi anehnya, kekalahan itu justru menang dalam sejarah.

Setelah Karbala, muncul kesadaran baru di umat. Banyak orang mulai bertanya: “Kalau Yazid benar, kenapa cucu Nabi dibunuh?” Pemberontakan meletus: Kelompok al-Tawwabun, al-Mukhtar, lalu Abbasiah. Karbala jadi bahan bakar kritik terhadap tirani selama 14 abad.

Bagi Sunni– al-Husain adalah syahid, junjungan pemuda Surga. Bagi Syiah–dia Imam yang dizalimi. Beda tafsir, tetapi titik temunya sama, yaitu Karbala perlawanan terhadap kezaliman dan kesewenangan para penguasa.

10 Muharam bukan untuk mengungkit dendam Sunni-Syiah– justru sebaliknya. Karbala harus jadi ruang temu. Sunni puasa Asyura karena Nabi Musa selamat dari Firaun tanggal itu. Syiah berduka karena al-Husain gugur tanggal itu. Dua makna, satu tanggal. Karbala sudah 1385 tahun lalu. Pasirnya mungkin sudah hilang–tetapi guncangannya masih terasa: selama ada kezaliman, akan selalu ada yang berdiri seperti al-Husain. Meski hanya 72 orang.

*Profesor Sejarah Peradaban dan Dosen Tetap Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *