Oleh: Prof. Dr. Murodi al-Batawi, MA*
Komunitas etnis Betawi atau masyarakat Betawi — merupakan penduduk asli Jakarta yang memiliki tradisi sangat identik dengan tradisi Islam. Bahkan bisa dibilang, Islam adalah lem perekat dari proses terbentuknya komunitas etnis ini. Dalam perkembangan selanjutnya, terbentuklah tradisi yang merupakan hasil dari proses akulturasi– diantaranya tradisi yang biasa diakai oleh masyarakat pengikut ormas NU.
Selain itu, orang Betawi tidak bisa dilepaskan dari dua hal; tahlilan palang pintu. Keduanya hidup berdampingan sejak puluhan tahun. Di satu sisi ada Jawara dengan silatnya. Di sisi lain ada Kyai dengan wiridnya. Itulah wajah Nahdlatul Ulama di Jakarta. NU di Betawi bukan barang impor– sudah membumi, menjadi napas, adat, dan cara orang pinggir kali memaknai Islam.
Masuknya NU ke Betawi tidak terjadi dalam semalam– melalui jalur Kyai-kyai kampung. Sejak 1926, para ulama Betawi seperti KH Noer Alie dari Bekasi, KH Sholeh Iskandar dari Depok, dan KH Muchtar dari Condet adalah penggerak NU– mereka mendirikan madrasah, majelis taklim, dan pesantren kecil di rawa-rawa dan kebun.
Secara antropologi, ini disebut inkulturasi. NU tidak memaksa orang Betawi meninggalkan budayanya. NU justru masuk lewat budaya itu. Pengajian diadakan di langgar, bukan di masjid besar. Istilah yang dipakai bahasa Betawi: ngaji, ngederesin. Hasilnya: orang Betawi merasa NU itu kita. Bukan organisasi dari luar.
Tiga Tradisi Kunci NU yang Menjadi Budaya Betawi
Ada tiga praktik NU yang hari ini sudah dianggap tradisi Betawi asli. Pertama, Tradisi, Tahlilan, dan Yasinan. Kematian orang Betawi tidak sepi. Tujuh hari, empat puluh hari, seratus hari, haul. Rumah dipenuhi orang baca tahlil, doa, dan makan berkat. Ini adalah ekspresi teologi NU: doa orang hidup bermanfaat bagi mayit. Praktik ini merawat solidaritas. Tetangga yang bertikai bisa baikan karena sama-sama mendoakan almarhum. Tahlilan menjadi ruang rekonsiliasi sosial.
Kedua, Tradisi Maulid dan Bersholawat– Setiap bulan Rabiul Awal, kampung Betawi ramai. Ada marawis, hadrah, dan pembacaan Simtud Duror. Anak-anak keliling bawa bendera. Bagi orang Betawi, Maulid bukan bid’ah— pesta rakyat. Di dalamnya ada sedekah, silaturahmi, dan pendidikan cinta Nabi. Budaya palang pintu pun sering dibuka dengan sholawat. Islam dan seni Betawi menyatu. Ketiga, Tradisi Sedekah Bumi dan Ngarot. Di kampung Condet, Cilincing, dan Marunda, masih ada tradisi ngarot– arak-arakan hasil bumi ke langgar untuk didoakan. Setelah itu dibagi rata. Ini adalah akulturasi ajaran NU tentang syukur dan sedekah dengan budaya agraris Betawi. NU memberi makna tauhid pada tradisi, dan tradisi memberi wadah sosial pada ajaran.
Peran Kyai dan Jawara: Dua Pilar Sosial Betawi
Uniknya Betawi, Kyai, dan Jawara tidak bertentangan– berkolaborasi. Kyai adalah poros spiritual– yang memimpin majelis, mengesahkan nikah, dan menengahi sengketa. Langgar Kyai menjadi pusat pendidikan anak-anak Betawi sebelum ada sekolah formal. Jawara adalah poros sosial–menjaga keamanan kampung, membuka palang pintu, dan menjadi pelindung ulama. Banyak Jawara Betawi adalah santri. Silatnya mengalir dari zikir. Kolaborasi ini membuat NU di Betawi punya wibawa ganda: wibawa ilmu dan wibawa wibawa sosial–karena itu ajakan Kyai NU didengar, karena dibelakangnya ada legitimasi Jawara.
Jakarta hari ini bukan lagi kampung. Gedung tinggi menggusur kebun. Anak muda Betawi lebih hafal TikTok daripada marawis. Ada tiga tantangan utama: Pertama, Erosi Tradisi. Anak muda Betawi malu tahlilan karena dianggap kampungan. Mereka hijrah ke pengajian yang lebih urban, lebih individualis. Jika NU tidak mengemas tradisi dengan bahasa anak muda, maka tradisi akan mati. Kedua, Urbanisasi dan Pendatang. Jakarta adalah kota komuter. Identitas Betawi tergerus. NU harus menjadi rumah baru bagi pendatang, sekaligus penjaga rumah lama bagi orang Betawi asli. Ini pekerjaan berat. Ketiga, Politik Identitas. ama Betawi dan NU– sering dipakai untuk kepentingan politik sesaat. Padahal substansi ajaran NU: tawasuth, tawazun, i’tidal alias moderat, seimbang, lurus, sering terlupakan.
Secara budaya– NU adalah payung besar bagi orang Betawi–melindungi nilai gotong royong, musyawarah, dan keberagamaan yang toleran. Orang Betawi memberi NU wajah lokal: jenaka, blak-blakan, tetapi religius. NU memberi orang Betawi kerangka Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang moderat dan membumi–karena itu, merawat tradisi NU di Betawi berarti merawat Jakarta. Selama tahlilan masih dibaca, selama marawis masih dipukul, selama Kyai dan Jawara masih duduk semeja, maka Jakarta tidak akan kehilangan jiwanya.
Tugas kita hari ini bukan nostalgia. Tugas kita adalah mentradisikan kembali. Mengajarkan anak Betawi bahwa jadi Betawi itu keren. Jadi NU itu keren–karena keduanya adalah satu cerita: cerita Islam Nusantara di tepi Ciliwung. Wallahubishawab
*Profesor Sejarah Peradaban Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Editor: Jufri Alkatiri
