Pesantren dan Tantangan Pendidikan di Era Digital:  Mempertahankan 400 Tahun Benteng Peradaban

Oleh: Prof. Dr. Murodi al-Batawi, MA*

Pesantren — adalah lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia– lahir jauh sebelum sekolah Belanda dan kampus negeri ada. Tercatat, Pesantren Tegalsari di Ponorogo sudah berdiri sejak 1596– dengan sistem asrama, gratis, dan 24 jam bersama kyai, pesantren menjadi model pendidikan rakyat pertama di Nusantara. Hari ini, menurut data Kemenag 2024, ada 28.194 pesantren lebih dengan 5.051.605 santri aktif. Angka itu belum termasuk jutaan alumni dan 150 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam. Selama 400 tahun, pesantren telah memainkan 3 peran besar bagi bangsa ini.

Pesantren adalah markas perlawanan– dari Pangeran Diponegoro sampai Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 KH. Hasyim Asy’ari yang memicu Pertempuran 10 November. Tanpa pesantren, peta kemerdekaan Indonesia akan berbeda. Ketika negara belum sanggup, pesantren menggratiskan pendidikan untuk anak desa. Tidak ada uang pangkal, tidak ada SPP– yang ada hanya _ngaji, ngabdi, dan nguli. Sampai hari ini pesantren masih menjadi penyelenggara pendidikan terbesar yang menjangkau pelosok– dari pesantren lahir gagasan Hubbul Wathan Minal Ima”. Dari pesantren pula lahir penolakan paling keras terhadap radikalisme dan intoleransi– karena Sanad keilmuannya jelas dan gurunya adalah kyai yang mencintai NKRI. Singkatnya, pesantren adalah pabrik akhlak, pabrik ilmu, dan pabrik perekat bangsa.

Diuji Era Digital

Namun hari ini, ketiga pilar itu sedang diuji– musuhnya bukan penjajah dengan bedil. Musuhnya adalah algoritma. Data Kemenag menyebut 68 persen  santri sudah memiliki HP tetapi hanya 12 persen pesantren yang punya kurikulum literasi digital. Kesenjangan ini berbahaya. Ujian pertama: akhlak. Judi online, pornografi, dan budaya flexing masuk ke kamar santri lewat sinyal jam 12 malam. Adab kepada kyai mulai kalah dengan jumlah followers. Ujian kedua: ilmu. Santri lebih percaya ceramah 1 menit di Reels daripada bandongan 3 jam bersama kyai. Ilmu menjadi instan, potongan, dan mudah diadu domba. Hoaks agama menyebar lebih cepat dari kitab.

Ujian ketiga: ekonomi dan sosial. Ekonomi pesantren kalah cepat dengan e-commerce. Alumni lebih memilih jadi influencer daripada membangun usaha di desa. Padahal pesantren punya 1,2 juta hektar lahan wakaf yang bisa jadi kekuatan ekonomi umat. Jika tidak segera disikapi, kita berisiko melahirkan dua tipe santri: gagap teknologi, atau hebat teknologi tapi kosong ruh. Jawabannya adalah Pimpin, Bukan Menghindar.Mengharamkan HP adalah menyerah sebelum bertempur. Jawabannya pesantren harus tegas: kuasai digital dengan ruh pesantren.

Langkah pertama: Wajibkan kurikulum Digital + Kitab Kuning. Setiap pesantren harus mengajarkan Fiqih Bermedsos, etika digital, cara melawan hoaks, dan dasar cyber security. Seimbang dengan sorogan, bandongan, dan hafalan. Aturan mainnya jelas: 1 jam untuk HP, 1 jam untuk murojaah. Langkah kedua: Negara harus membayar hutang budi 400 tahun. Selama ini pesantren menggratiskan pendidikan untuk negara. Sekarang giliran negara investasi. Beri internet gratis, bangun “1 Pesantren 1 Studio Konten Dakwah”, dan beasiswa untuk santri yang mengambil jurusan IT, desain, dan komunikasi. Ini bukan bantuan. Ini investasi keamanan nasional.

Langkah ketiga: Cetak “Ulama Digital. Dari 5 juta santri, kita butuh 100 ribu ustadz yang piawai membuat konten. Kita butuh 10 ribu santri programmer. Kita butuh 1.000 santri pendiri startup syariah. Tujuannya satu: agar narasi Islam wasathiyah, cinta damai, dan cinta NKRI yang mengisi ruang digital, bukan narasi kebencian.

400 Tahun Tidak Boleh Kalah Karena Sinyal. Belanda butuh 350 tahun dan tidak pernah berhasil menaklukkan pesantren. Masa kita mau kalah hanya karena FYP? Pesantren sudah membuktikan diri sebagai lembaga paling tangguh. Dari melawan penjajah, melawan kebodohan, sampai melawan kemiskinan. Kini saatnya pesantren memainkan peran keempat: menjadi nahkoda peradaban digital.

Jika berhasil– 10 tahun lagi Indonesia akan punya generasi yang hafal Al-Quran, jago coding, santun di medsos, dan cinta tanah air. Jika gagal, maka kita akan kehilangan benteng terakhir akhlak bangsa. Pilihannya ada di tangan kita. Menguatkan pesantren hari ini, atau menyesal 10 tahun ke depan– karena jika pesantren tumbang– maka tumbanglah peradaban 400 tahun yang telah menjaga negeri ini– dan itu, tidak boleh terjadi. Wallahu’alambishawab.

*Profesor Sejarah Peradaban Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah  Jakarta (Foto: Murodi al-Batawi)

Editor: Jufri Alkatiri

Caption Foto: Profesor Sejarah Peradaban Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah  Jakarta (Foto: Murodi al-Batawi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *