Renungan Malem Jemuwah: Relevansi Tradisi Intelektual bagi Masyarakat D igital  (bag-1)

Oleh,: Anwar R. Soediro*

1. Iftitah

Seperti sudah banyak diketahui bahwa proses modernisasi yang dilakukan oleh dunia Barat sejak zaman Renaissans sampai dewasa ini– disamping membawa  dampak  positif juga telah  melahirkan  ekses  negatif.   Dampak positifnya– modernisasi  telah  membawa  kemudahan-kemudahan  dalam  ke-hidupan  manusia.  Sementara  dampak negatifnya, modernisasi  telah  melahirkan  krisis  makna  hidup,  kehampaan  spiritual, dan  tersingkirnya agama  dari  kehidupan  umat  manusia.

Pada era digital saat ini  kehidupan  gaya moderen  menjadi  semakin  kompleks,  manusia  menghadapi  berbagai tantangan, seperti krisis spiritual, penurunan moral, materialisme, dan tekanan psikologis yang tinggi.  Era digital telah  membawa  perubahan  besar  dalam  cara  pandang dan gaya  hidup masyarakat, yang semakin menjauh dari nilai-nilai spiritual dan transendental.

Arus informasi yang cepat, dominasi teknologi digital, dan budaya serba instan telah mengubah fokus hidup manusia, dari pencarian makna hidup menuju pengejaran materi semata.  Menghadapi  kenyataan  tersebut para pemikir Islam berusaha keras mencari jalan keluar. Sebagian mereka mencari  jalan  keluar  dengan  menggunakan  cara-cara dan semangat  ke-moderan-an  yang  lahir  dari  Barat — sementara  sebagian  lainnya dengan berusaha memahami kenyataan dalam perspektif nilai-nilai tradisional yang ada dalam Islam.

Umat Islam dituntut untuk bersikap adaptif dan menemukan cara-cara yang relevan guna mempertahankan identitas serta prinsip-prinsip keagamaannya di tengah kemajuan teknologi. Hal ini mencakup pemahaman dalam menggunakan media sosial, e-commerce, dan berbagai platform digital sebagai sarana dakwah dan penyebaran informasi yang positif.

Umat Islam juga perlu berperan aktif dalam diskusi global yang inklusif, agar dapat berbagi nilai-nilai Islam yang universal serta memahami perspektif dari berbagai kalangan (Hidayati & Muzaiyana, 2024).  Oleh karena itu, tantangan utama agama di tengah arus modernitas adalah menjaga relevansinya di hati  manusia  moderen dengan  menawarkan  nilai-nilai spiritual yang mampu  mengarahkan mereka pada  tujuan  hidup yang sejati  (Demanik  et  al., 2023).

Krisis peradaban moderen bersumber dari penolakan terhadap  hal-hal  yang  bersifat  rohaniah  (spiritual) dan penyingkiran  maknawiyah secara gradual dalam kehidupan manusia.  Manusia Barat moderen mencoba hidup dengan roti semata. Mereka bahkan mencoba membunuh Tuhan dan  menyatakan  kebebasan  dari  kehidupan  akhirat.  Akibatnya kekuatan dan daya manusia mengalami eksternalisasi.  Selanjutnya dengan eksternalisasi ini manusia Barat menaklukkan dan mengeksploitasi dunia dengan semena-mena tanpa batas.

Manusia Barat moderen membuat hubungan baru  dengan  alam  melalui proses desakralisasi  alam._Alam dipandang tidak lebih dari sekedar objek dan sumber daya yang perlu dimanfaatkan dan dieksploitasi semaksimal mungkin. Dekade belakangan  ini,  terjadi  arus  balik  yang  mulai  meragukan keandalan  modernisme  sebagai  cara dan pandangan  hidup  (way of life). Berbagai pemikiran bermunculan, dan masing-masing mencoba menohok prinsip-prinsip modernisme seperti;  rasionalisme, materialisme, antroposentrisme, teknikalisme, dan efisiensi — yang sejak dimulainya gerakan Renaisans  di  Eropa  abad  ke-16 telah  mencengkeram  pola  pikir dan ke-budayaan masyarakat Barat.

Di antara mereka yang bersikap kritis adalah sekelompok  sarjana  yang sebagian  besar  menekuni  tradisi-tradisi  keagamaan  dunia, yang kemudian  dikenal  dengan  sebutan  kaum  tradisionalis atau neo-tradisionalis. Kaum tradisionalis ini jelas-jelas memosisikan diri mereka berseberangan dengan kaum modernis. Bagi mereka, kekacauan kerohanian manusia zaman sekarang ini merupakan tanggung jawab dari peradaban Barat modern yang telah  lama  tercerabut  dari  akar  spiritual transendental,  dan  telah  sepenuhnya bercorak antroposentris.

Dunia teknologi digital seperti sekarang di mana banyak individu yang berlomba-lomba membangun self-branding dan percaya diri tampil performatif di ruang publik, bahkan di ruang digital yang jangkauannya lebih luas lagi, apakah konsep yang dibangun tradisi intelektual yang merujuk  al-Insan al-Kamil masih kompatibel dalam dunia performatif digital?

Menjawab persoalan ini, dalam kajian ini mencoba menawarkan pembacaan dan pemaknaan  al-Insan al-Kamil di tengah arus digitalisasi.  Dalam pandangan tradisi intelektual (pemikiran taswuf), realitas digital dapat dipahami sebagai bentuk kontemporer dari mundus imaginalis, yakni alam imajinal yang berada di antara dunia fisik dan spiritual.

Dunia ini bukan sekadar ruang ilusi, melainkan sebuah alam ikonik tempat citra- citra menampakkan makna dan memungkinkan terjadinya tajallī. Dalam konteks budaya performatif digital, unggahan, dan narasi online dapat dipandang sebagai simbol-simbol imajinal yang berfungsi membuka atau menutup makna.  Di sinilah posisi  al-Insān al-Kāmil  menemukan relevansinya: manusia sempurna bukan hanya menghapus ego, melainkan menjadi medium tempat Nama-Nama Ilahi termanifestasi.  Dengan demikian, keberadaan individu di ruang digital dapat dibaca sebagai potensi tajallī, sejauh ekspresi performatifnya bersifat ikonik (yakni mengarah ke transendensi) bukan idolatrik (berhala-idola) yang berhenti pada kultus ego.

Tajalli (manifestasi)– ekspresi perfomatif sifat-sifat ilahi pada masyarakat muslim digital adalah realitas di mana sifat-sifat Ilahi terpantul melalui perilaku, budaya, dan ekosistem yang dibangun oleh umat Islam di ruang siber. (bersambung)

*Pemerhati Teologi dan Filsafat Islam

Editor: Jufri Alkatiri

Caption Foto: Pemerhati Teologi dan Filsafat Islam (Foto: Anwar R. Soediro)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *