Singapura – Indonesia:  antara Suka dan Benci

Oleh: Noeh Hatumena*

Perdana Menteri Singapura, Lawrence Wong, dan rombongan pekan lalu ke Jakarta untuk bertemu Presiden Prabowo membahas sejumlah agenda kerjasama. Pertemuan itu dilabeli Sekseg RI sebagai acara rembuk pemimpin (leaders retreat).  Di kalangan militer frasa retreat itu — berarti mundur dari peperangan untuk atur ulang strategi ke depan.

Bagi PM Wong kunjungan ke Jakarta ini dilakukan   untuk kedua kalinya. Kali pertama, saat Prabowo selesai dilantik sebagai Presiden RI. Menurut Sekneg RI, pertemuan kedua kepala negara kali ini urgent dan padat. Point kesepakatan juga se-abrek, ada 26 butir. Rinciannya, 18 butir kerjasama antar pemerintah dan 8 kesepakatan bussiness to bussiness.

Dibanding negara sahabat RI lainnya– Singapura dan Indonesia  ini sangat  diuntungkan dari berbagai faktor khususnya faktor kedekatan geografis dan kesamaan sosial budaya– namun, fakta historis membuktikan selama ini kedekatan itu sering tidak mendatangkan maslahat yang berimbang (mutual-benefit) — khususnya bagi Indonesia. Sejujurnya, negara kecil seperti Singapura ini banyak menikmati  cuan yang  diperolehnya dari Indonesia dibanding apa yang diperoleh Indonesia dari Singapura. Indonesia juga disebut banyak apesnya selama berhubungan dengan Singapura.

Selain itu, Negeri- Singa ini juga terkenal angkuh dan pamer kedigdayaannya– produk  militer teranyar dari Blok- Barat manapun yang baru diluncurkan sudah di pesannya. Bahkan dibuku putih (dokumen white paper) — yang mempersepsikan ancaman bagi dirinya dinyatakan secara benderang bahwa  ancaman bagi Singapura datangnya dari Indonesia.

Pemerintah Prabowo bahkan pernah mengirim nota protes keras ke Singapura karena menggunakan wilayah udara Indonesia (airspace) tanpa izin Indonesia. Demikian sejumlah issue yang menjadi sumber ketegangan  antara lain  masalah asap ( haze), sengketa laut dan tenaga kerja Indonesia — Pokoke banyak gosip dan ceritera yang tidak lucu diantara kedua warga negara dalam  hubungan kedua negara sejauh ini.

Timbul pertanyaan– apakah  kesalahan-kesalahan  tersebut semata datang dari Singapura?  — dan apakah orang  Indonesia juga selalu benar dalam berbisnis dengan Singapura?  Sabar dulu bro …Mantan ekonom Faisal Basri pernah mengatakan, orang Indonesia itu terutama para pebisnis hitam dan koruptor  memandang Singapura sebagai tempat aman bagi diri mereka.

Pebisnis hitam merasa aman karena melarikan pajak dan disimpan disini sementara koruptor terlindung dalam kejaran KPK.  Koruptor Indonesia  aman-aman saja menyimpan uang korupsinya di Singapura — pebisnis- hitam dari Indonesia  juga merasa save kalau berbisnis dengan Singapura. Urusan dagang  dengan tauke dan taipan disini  tidak ruwet,  semua  lancar, tinggal diatur dari Singapura—komentar  sumber Kadin Indonesia. Bagi pebisnis hitam selama urusan ini menguntungkan dan tidak diuber abdi hukum dari kedua negara– tetap jalan seperti biasa saja  (bussiness as usual).

Mengenai Leaders retreat antara PM Wong dan Presiden Prabowo– konon disebutkan menyasar semua aspek kerjasama. Prabowo bahkan ”bukan- bukaan” dan  menyinggung  peran Singapura yang selama ini menjadi hubungan eksportIndonesia ke mancanegara.

*Jurnalis Senior dan Anggota Dewan Penasehat PWI Pusat 2025-2030

Editor: Jufri Alkatiri

Caption Foto: Jurnalis Senior dan Anggota Dewan Penasehat PWI Pusat 2025-2030

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *