Oleh: Anwar R. Soediro*
III. Masyarakat Digital Muslim
Tradisi Intelektual merupakan tradisi pemikiran pada aspek dimensi batin dari ajaran Islam yang berorientasi pada penyucian jiwa (tazkiyah al-nafs) serta pembentukan akhlak mulia. Secara etimologis– dikenal dengan istilah tasawuf, yang dikaitkan dengan kata shuf_(kain wol), yang menggambarkan kesederhanaan hidup para sufi, dan juga safa (suci), yang berarti kejernihan hati dari dorongan duniawi.
Menurut Al-Ghazali, tasawuf adalah proses mendekatkan diri kepada Allah dengan cara membersihkan hati dari sifat tercela dan menghiasinya dengan sifat terpuji agar jiwa mencapai ketenangan hakiki. Dengan demikian, tasawuf bukan sekadar pengalaman mistik, tetapi sistem moral yang membimbing manusia menuju kesadaran Ilahi.
Sementara itu, digital well-being_atau kesejahteraan digital merujuk pada kondisi seimbang antara pemanfaatan teknologi dengan kesehatan psikologis, sosial, dan spiritual individu. Vanden Abeele (2021) menjelaskan bahwa digital well-being dicapai ketika seseorang dapat menggunakan teknologi secara sadar, produktif, dan tidak mengganggu fungsi mental serta hubungan sosialnya.
Dalam konteks akademis– kesejahteraan digital mencakup kemampuan mengendalikan penggunaan media sosial agar tidak menimbulkan stres, kelelahan informasi (information fatigue), maupun ketergantungan emosional. Masyarakat Digital Muslim, melalui gerakan intelektual, mereka menawarkan alternatif yang bersifat kerohanian untuk menyembuhkan berbagai penyakit manusia modern dari pengaruh derasnya informasi digital. Filosof Perennial, Frithjof Schuon merupakan salah seorang juru bicara terpenting dalam masyarakat muslim digital. Baharuddin Ahmad menyebutkan dua faktor utama dalam karya Schuon yang mem-bedakan antara “yang moderen” dan “yang tradisional”:
Pertama, soal pemisahan alam langit dan alam bumi– realitas bumi, secara prinsip-nya bagi manusia modern, dianggap sebagai realitas obyektif, sedangkan realitas langit dianggap sebagai realitas subyektif. Bagi masyarakat tradisional, justru sebaliknya: realitas langitlah yang merupakan realitas obyektif, sedangkan realitas bumi adalah realitas subyektif– karena itu, dalam konteks keilmuan, ilmu keagamaan bagi masyarakat tradisional merupakan ilmu tertinggi (karenanya paling obyektif), dan ilmu teknologi (teknos) adalah ilmu terendah– namun dalam masyarakat moderen, sebaliknya, teknos dengan logic of technic-nya merupakan ilmu tertinggi, dan agama merupakan ilmu terendah.
Kedua, dari segi asal-usul– menurut masyarakat tradisional, Tuhan adalah dasar atau asas dari segala-galanya: tetapi bagi masyarakat moderen, manusia adalah dasar realitas ini, dan Tuhan merupakan penafsiran manusia. Bagi kaum tradisional, manusia pada awalnya adalah tafsiran Tuhan. Tuhanlah yang merancang atau merencanakan kelahiran manusia dan alamnya melalui suatu “tipe induk” atau_a’yan tsabitah dalam istilah Ibn ‘Arabi. Sedangkan pada zaman moderen ini– Tuhan dianggap sebagai perencanaan atau penafsiran manusia. Manusialah yang menafsirkan keberadaan Tuhan.
Dalam Filsafat Keabadian (Perennial Philosophy)– semua agama itu mengandung kebenaran, karena semua agama dan ilmu itu pada dasarnya berasal dari Tuhan yang sama dan Esa. Kebenaran ajaran Tuhan itu — ibarat cahaya, maka cahaya itu akan didapati pada semua agama, baik Hindu, Budha, Yahudi, Nasrani, dan paham Teosofi. Bagaikan cahaya matahari, walaupun banyak benda-benda kotor yang mendapatkan cahayanya, cahayanya tetap bersih tidak berbaur dengan benda kotor yang mendapatkan sinarnya.
Begitu juga halnya cahaya kebenaran dari Tuhan akan dijumpai di berbagai kelompok agama dan masyarakat yang senantiasa mendengarkan suara nuraninya yang suci dan menggunakan akalnya secara sehat. Hanya saja, cahaya kebenaran Tuhan itu — yang paling cemerlang terdapat dalam ajaran mistik Islam– karena substansi cahaya adalah sama, maka cahaya Islam tidak akan menghilangkan cahaya yang lain, tetapi cahaya yang lain akan tersedot dan kalah terang dengan cahaya ajaran Islam.
Agama menerjemahkan pelbagai kebenaran metafisika atau kebenaran universal ke dalam bahasa dogmatis–karena itu, walaupun kebenaran intrinsik dari dogma tidak dapat dipahami semua orang, yang hanya dapat dicapai secara langsung melalui intelek– bisa dipahami lewat iman. Ini merupakan satu-satunya cara yang mungkin bagi sebagian besar manusia untuk berpartisipasi dalam kebenaran Ilahi.
Mengenai pengetahuan intelektual, yang tidak didasarkan pada keyakinan atau pada proses penalaran– mempunyai cakupan jauh lebih luas dari pada dogma yang terdalam– yaitu, kebenaran yang tidak terhingga, yang mengatasi semua bentuk tanpa sekaligus bertentangan dengan dogma itu sendiri.
Kebudayaan moderen sebagai suatu tipe pemikiran atau kultur sering diperbandingkan dengan kebudayaan tradisional– namun, orang-orang sering melupakan bahwa pemikiran modern, atau kultur yang melahirkan pemikiran itu, hanyalah sebuah fluktuasi yang tidak tetap serta tidak dapat didefinisikan secara positif karena tidak memiliki prinsip yang riil berkenaan dengan yang tidak berubah.
Secara definitif pemikiran moderen tidak dapat dianggap sebagai doktrin seperti yang lain-lainnya– adalah hasil dari suatu fase khusus dari perkembangannya sendiri dan akan diubah oleh sains eksperimental atau mesin– tidak lagi sebagai intelek manusia sebagai mesin atau fisika, kimia, atau biologi yang menetapkan siapakah manusia itu, apakah intelegensi itu, dan apakah kebenaran itu– dengan kondisi seperti itu akal pikiran manusia semakin tergantung kepada keadaan yang diakibatkan oleh kreasi kreasinya.
Manusia tidak mengetahui bagaimana ia harus menilai sebagai seorang manusia, yaitu dengan fungsi suatu kemutlakan yang merupakan substansi dari intelegensi– karena itu, hanyut dalam suatu relativisme yang tidak berarah tujuan– membiarkan dirinya yang dinilai, ditentukan dan diklasifikasikan oleh kemungkinan-kemungkinan sains dan teknologi– tidak dapat melarikan diri dari kebekuan yang diakibatkan oleh kemungkinan-kemungkinan tersebut, namun tidak mau mengakui kesala- hannya, walaupun oleh karena itu satu-satunya yang dapat dilakukannya adalah melepaskan martabat dan kemerdekaannya sebagai manusia.
Pada masa kini sains dan mesinlah yang menciptakan manusia dan bahkan apabila pernyataan ini dapat diperluas, juga yang menciptakan Tuhan, karena kekosongan setelah Tuhan diturunkan dari takhta-Nya pasti akan diisi; realitas Tuhan seperti sifat-sifat-Nya yang dimiliki manusia akan menampilkan seorang yang akan merebut kekuasaan-Nya, sang mutlak palsu yang akan mengisi kekosongan intelegensi yang telah kehilangan substansinya.
Masa sekarang ini — kita amat sering mendengarkan argumentasi-argumentasi humanisme, namun argumentasi-argumentasi ini melengahkan kenyataan bahwa begitu manusia menukar hak-hak istimewanya dengan materi, mesin, dan pengetahuan kuantitatif, maka bukan lagi seorang manusia yang sejati. (bersambung)
*Pemerhati Teologi dan Filsafat Islam tinggal di Jakarta
Editor: Jufri Alkatiri
Caption Foto: Pemerhati Teologi dan Filsafat Islam (Foto: Anwar R. Soediro)
