Warisan Penjajah yang Paling Nyata, yaitu Hilangnya Rasa Malu Para Ambtenaar

Praktisi Media Massa, Wadir CAJ PWI Pusat, dan Waketum SMSI Pusat (Foto: Benz Jono Hartono)

Oleh: Benz Jono Hartono*

Di antara berbagai warisan yang sering diperdebatkan sebagai peninggalan kolonial, ada satu yang menurut penulis paling berbahaya, yaitu lunturnya budaya malu dalam kehidupan publik. Rasa malu seharusnya menjadi benteng moral.

Malu berbohong,  malu mengingkari janji, malu  menyalahgunakan jabatan, malu merampas hak rakyat,  malu  mengkhianati amanah, dan malu melakukan kezaliman. Ketika rasa malu hilang, maka kejahatan dapat dilakukan tanpa beban.

Dalam pandangan penulis, inilah salah satu bentuk penjajahan mental yang lebih berbahaya daripada penjajahan fisik. Dahulu penjajah menguasai wilayah dengan senjata. Kini, yang perlu dilawan adalah mentalitas yang membiarkan kebohongan, korupsi, ketidakadilan, penyalahgunaan kekuasaan, dan berbagai pelanggaran etika dianggap sebagai sesuatu yang biasa. Budaya malu bukan sekadar nilai sosial, tetapi juga merupakan ajaran agama. Dalam Islam terdapat hadits yang masyhur,

Malu adalah bagian dari iman

Ketika rasa malu memudar, maka batas antara benar dan salah ikut kabur. Jabatan menjadi alat mencari keuntungan, hukum kehilangan wibawa, sementara kepentingan rakyat dapat dikalahkan oleh kepentingan pribadi maupun kelompok. Karena itu, kebangkitan umat dan bangsa tidak cukup hanya dengan pembangunan fisik atau pertumbuhan ekonomi.

Kebangkitan sejati harus dimulai dari menghidupkan kembali akhlak, amanah, kejujuran, tanggung jawab, dan budaya malu dalam setiap aspek kehidupan. Sebab bangsa yang kehilangan rasa  malu  akan mudah kehilangan kehormatan. Sebaliknya, bangsa yang memelihara rasa  malu akan lebih mampu menjaga keadilan, martabat, dan masa depannya.

*Praktisi Media Massa, Wadir CAJ PWI Pusat, dan Waketum SMSI Pusat

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *