Daar el-Qolam dan La Tansa: Dua Wajah Pesantren Moderen dari Satu Kyai untuk Banten

Daar el-Qolam dan La Tansa: Dua Wajah Pesantren Moderen dari Satu Kyai untuk Banten (Foto: goriau.com)

Oleh: Prof.Dr. Murodi al-Batawi,MA*

Banten— Sebutan itu selalu membangkitkan ingatan tentang sejarah panjang perjuangan, kesalehan ulama, dan semangat keislaman yang mengakar kuat. Julukan “Bumi Seribu Kyai, Sejuta Santri” bukanlah sekadar slogan. Di provinsi ini, ribuan pesantren tumbuh dan berkembang. Di antara yang paling menonjol dan menjadi ikon pendidikan Islam moderen adalah dua pesantren besar: Pondok Pesantren Daar el-Qolam di Tangerang dan Pondok Pesantren La Tansa di Lebak. Keduanya adalah “dua wajah” dari cita-cita mulia yang dirintis oleh satu orang kyai. KH. Ahmad Rifa’i Arief. Kisah mereka adalah tentang bagaimana mimpi besar dapat diwujudkan melalui kerja keras dan komitmen pada pendidikan yang memadukan iman dan pengetahuan.

Dari Dapur Tua ke Megahnya Daar el-Qolam

Cerita ini dimulai pada 20 Januari 1968– saat itu, pesantren moderen di Banten belum secanggih sekarang. KH. Ahmad Rifa’i Arief– seorang alumni Pondok Modeern Gontor angkatan 1966, kembali ke kampung halamannya di Pasir Gintung, Tangerang. Atas perintah ayahnya, H. Qasad Mansyur, dan dengan modal tanah pemberian serta dapur tua, dia memulai perjuangan mendirikan lembaga pendidikan menengah. Sebanyak 22 murid yang berasal dari keluarga dan masyarakat sekitar, berdirilah cikal bakal Pondok Pesantren Daar el-Qolam, yang secara harfiah berarti “rumah atau kampung pengetahuan”– dari awal yang sangat sederhana inilah, perjalanan panjang dimulai.

Daar el-Qolam kemudian menjelma menjadi  “kota di tengah desa”. Kini, pesantren ini merupakan salah satu yang terbesar di Banten dan Indonesia. Di bawah kepemimpinan generasi penerus, luas lahannya berkembang dari 15 hektar menjadi 29 hektar, dihuni oleh ribuan santri, diajar oleh ratusan guru, dan dilengkapi dengan fasilitas moderen seperti laboratorium, pusat internet, hingga lapangan olahraga yang lengkap. Pada tahun 2008, semangat modernisasi ini mencapai puncaknya dengan didirikannya Program Excellent Class yang diproyeksikan sebagai Sekolah Bertaraf Internasional berbasis pesantren. Ini adalah bukti nyata bagaimana Daar el-Qolam berhasil mengintegrasikan sistem pondok dengan madrasah dan sekolah umum– melahirkan generasi yang menguasai ilmu agama dan ilmu pengetahuan secara seimbang.

La Tansa: Pesantren Terindah di Banten

Jika Daar el-Qolam — simbol kemegahan dan kapasitas, maka La Tansa adalah simbol harmoni antara pendidikan dan keindahan alam. Nama “La Tansa” yang diambil dari bahasa Arab berarti “Jangan Lupa” — pengingat akan pentingnya menjaga nilai-nilai luhur di tengah kesibukan menuntut ilmu. Pesantren ini didirikan oleh KH. Ahmad Rifa’i Arief yang sama sebagai “pengembangan wawasan dan daya tampung” dari Daar el-Qolam, dengan sistem pendidikan yang lebih variatif.

La Tansa yang berlokasi di Parakansantri, Lebakgedong, Kabupaten Lebak– menawarkan nuansa yang berbeda. Berada di lembah seluas 13 hektar, diapit dua pegunungan, dan dikelilingi sungai Ciberang, menjadikannya lokasi yang sejuk, damai, dan jauh dari kebisingan kota. Lingkungan yang asri ini tidak hanya membuatnya dijuluki sebagai “pesantren terindah di Banten”, tetapi juga menciptakan suasana ideal untuk tafaqquh fiddien (mendalami agama). Semua ini menunjukkan bahwa pesantren ini hadir untuk menjawab kebutuhan umat akan tempat pendidikan yang nyaman dan kondusif, yang terhindar dari “polusi budaya”. Seperti saudara tuanya, La Tansa juga menerapkan konsep pesantren modern atau Islamic Boarding School yang memadukan ilmu agama dan ilmu umum .

Warisan untuk Umat dan Generasi

Kedua pesantren ini saat ini dipimpin oleh generasi penerus— termasuk KH. Adrian Mafatihullah Karim, MA, putra dari pendiri. Warisan yang ditinggalkan bukan hanya bangunan fisik, melainkan filosofi pendidikan yang mendalam. KH. Ahmad Rifa’i Arief menanamkan pesan bahwa “ijazahmu adalah memberikan sebaik-baik manfaat untuk masyarakat”. Hal ini diwujudkan dalam kurikulum kehidupan yang menekankan “Panca Jiwa” (keikhlasan, kesederharian, berdikari, ukhuwah islamiyah, dan kebebasan) serta motto “berbudi luhur, berbadan sehat, berpengetahuan luas, dan berpikir bebas”. Dengan visi ini, Daar el-Qolam dan La Tansa tidak sekadar “pabrik ijazah”, tetapi tempat yang melahirkan insan yang mukmin dan bermanfaat bagi umat.

Daar el-Qolam dan La Tansa adalah dua institusi yang dari satu akar yang sama, telah tumbuh menjadi pilar penting dalam pendidikan nasional. Keduanya adalah bukti bahwa mimpi untuk mencerdaskan bangsa dapat diwujudkan, baik di tengah hamparan sawah yang luas maupun di lembah yang indah. Keduanya adalah “dua pesantren terbesar” di Banten yang, dari satu Kyai, menerangi jalan bagi ribuan santri untuk menjadi generasi penerus yang berilmu, beriman, dan beramal saleh. Wallahua’lambishawab.

*Profesor Sejarah Peradaban UIN Syarif Hidaytatullah Jakarta

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *