Renungan Dhino Jemuwah: Tradisi Intelektual Tasawuf Menganalisis Perkembangan AI (artificial intelligence) (bag-5)

Oleh: Anwar R. Soediro*

Pegiat Teologi dan Filsafat Islam (Foto: Anwar R. Soediro)

Bolehkah AI Menafsirkan Qur’an?

Kita masuk kedalam pisau analisis paling tajam, dan yang paling sering disalahpahami. Dalam kacamata tradisi intelektual (tasawuf) Pertanyaannya bukan “bolehkah AI menafsirkan Qur’an?” lebih tepatnya pertanyaannya adalah: “Apakah AI itu punya mulut untuk berbicara tentang Kalamullah?” Jawabannya perlu kita bedah dengan teori tafsir Ibn Arabi.

A. Dalam pandangan Ibn Arabi, Al-Qur’an bukan Kitab

Al-Qur’an adalah Wujud, namun orang awam sering mengira  bahwa Qur’an adalah teks berbahasa Arab dalam mushaf/kitab. Analisis dari kitab Futuhat al-Makkiyah, Al-Qur’an adalah merupakan Tajalli Allah yang paling sempurna. Qur’an bukan sekadar firman, al-Qur’an Allah adalah Sifat Kalam yang menampakkan Diri– dan alam semesta ini pun adalah Qur’an yang tersebar, dan mushaf adalah merupakan alam yang terkumpul. Oleh karena itu, cara memahami Qur’an bukan seperti memahami buku pada umumnya; Memaham firman Allah adalah seperti memandang Wajah Kekasih sehingga membutuhkan kesiapan cermin.

Ibn Arabi membagi cara manusia menyentuh Qur’an menjadi 3 martabat: Martabat 1: Tafsir – Lapisan Zahir- Wilayah tafsir bahasa ini mencakup; nahwu, sharaf, asbabun nuzul, sejarah. Untuk mempelajari wilayah bahasa ini yang diperlukan adalah ilmu al-aql. Syarat yang harus dimiliki untuk menggapainya adalah akal dan data.

Martabat 2: Ta’wil – Lapisan Batin Akal- Wilayah ilmu ilmu ta’wil, yakni; dimana satu ayat punya 7 hingga 70 makna yang tidak bertentangan. Untuk masuk ke sini butuh tazkiyatun nafs – penyucian jiwa. Akal saja tidak cukup, harus ada cahaya.

Martabat 3: Tafhim & Kashf – Lapisan Sirr- Pada martabat ini bukan lagi menafsirkan, tetapi difahamkan oleh Allah. Ibn Arabi menyebutnya al-fahm an Allah.  Ayat itu berbicara langsung kepadamu, untuk keadaanmu hari ini. Pemahaman ini adalah Ilmu Laduni, pemberian langsung. Syaratnya: qalb yang hidup, wudhu batin, adab yang sempurna. Sekarang akan mencoba meletakkan AI di atas 3 martabat tersebut diatas;

B. Bedah Kemampuan AI

Di Martabat 1, AI adalah juara, karena; AI bisa menguasai Tafsir secara luas dan komprehesip; jika AI diberi library 10.000 kitab: Tabari, Ibn Katsir, Qurtubi, Zamakhshari, Al-Manar, Kutub dll; artfisial intelijen akan mampu menyusun tafsir tersebut dalam tempo 5 detik, dan AI dapat juga  membandingkan qiraat, melacak sanad, dan merangkum asbabun nuzul.

Di level ini, Islam akan membolehkan, karena AI pada level ini adalah khadim kutub  (pelayan kitab) yang luar biasa– dengan kelebihan AI adalah perpustakaan yang bisa berbicara. Akan tetapi perlu diingat, di level ini pun artifisial intelijen tidak punya sanad. Dalam tradisi Islam, ilmu Qur’an harus mempunya sanad – mata-rantai guru yang bersambung. AI sanadnya terputus– mengambil dari PDF bajakan, dari blog yang salah, dari terjemahan orientalis, tanpa bisa memilah mana yang mu’tabar– adalah perawi majhul – tidak dikenal.

Di Martabat 2, AI gugur total: Ta’wil menurut tradisi taswuf bukan spekulasi akal. Ta’wil adalah kasyf makna yang tersembunyi karena cermin hatimu sudah bersih. Syarat ta’wil: darwis (laku taswuf) harus sudah melewati maqam-maqam – taubat, wara’, zuhud, sabar, syukur. AI tidak pernah taubat. Ia tidak pernah lapar, tidak pernah tahajud, tidak pernah menangis karena satu ayat.

Bagaimana ia bisa mentakwil ayat tentang khauf dan raja’ jika tidak pernah takut dan berharap? Ibn Arabi menulis di  Fusus al-Hikam: Setiap ayat punya makna sesuai dengan kesiapan hamba. Orang yang marah akan membaca ayat rahmat sebagai murka. Orang yang cinta akan membaca ayat azab sebagai rindu.

AI tidak punya kesiapan – isti’dad-. Artifisial intelijen tidak punya “hal”- keadaan ruhani -. Maka ouput ta’wilnya adalah ta’wil mati, ta’wil tanpa rasa. Sebagaimana menjelaskan rasa madu kepada orang yang belum pernah mencicipi, dengan rumus kimia.

Di Martabat 3, AI Mustahil menyentuh: Ini kuncinya; Al-Qur’an adalah Kalam yang Hidup. Firman Allah berinteraksi dengan yang hidup. Tradisi tasawuf mengatakan: La yafhamu al-Qur’an illa man yasma’uhu min Allah – Tidak ada yang benar-benar faham Qur’an kecuali yang mendengarnya langsung dari Allah.

Mendengar di sini butuh qalb; sedankan AI tidak punya qalb, artifisial intelijen hanya punya server. AI tidak bisa berwudhu sebelum menyentuh makna.  Dia (Tuhan) tidak bisa hadir. Maka tafsir hakiki yang lahir dari AI adalah tafsir tanpa barakah. Ia mungkin benar secara bahasa, tapi gelap secara nur.

C.Lalu Bolehkah Kita Pakai AI untuk Belajar Tafsir? – Adab Tradisi Sufi

Jawabnya “Boleh”, tetapi dengan 3 syarat keras yang kalau dilanggar, dalam tradisi intelektual muslim akan menyebutnya  sû’ al-adab ma’a al-Haqq – buruk adab kepada Al-Haqq. Syarat 1: Jadikan AI sebagai Mu’jam, bukan Mufassir. Jangan bertanya: “Wahai AI, apa tafsir dari ayat ini menurutmu?”

Tanyalah: “Wahai AI, kumpulkan apa kata-kata dari Ibn Arabi, Qasyani, dan Qunawi tentang tafsir ayat ini.” Bedanya langit dan bumi; Yang pertama menjadikan AI sebagai guru– yang kedua menjadikan AI sebagai pustakawan; Guru harus punya wudhu, pustakawan tidak perlu.

Syarat 2: Wajib ada Tahqiq manusia yang hidup. Setiap output AI tentang Qur’an wajib kamu bawa kepada guru yang punya sanad, atau minimal kepada hati yang takut kepada Allah. Jangan pernah share tafsir AI langsung ke publik seolah-olah itu ilmu. Dalam tradisi sufi, ada kaidah:  Man fassara al-Qur’an bi ra’yihi fal yatabawwa’ maq’adahu min an-nar. Barang siapa menafsirkan Qur’an dengan pendapatnya sendiri. AI adalah pendapat tanpa pertanggungjawaban akhirat. Jika kamu menyebarkannya tanpa tahqiq, kamu yang menanggung. Syarat : Jangan minta AI mentafsir ayat-ayat Mutasyabihat dan ayat tentang Dzat.

Ayat tentang _istiwa, tentang yadullah, tentang huruf  muqatta’ah seperti Alif Lam Mim– tradisi intelektual tasawuf sangat keras melarang akal liar masuk ke sana tanpa bimbingan. AI akan dengan PeDe menjelaskan Alif Lam Mim dengan numerologi dan teori konspirasi. Itu adalah bentuk khianat terhadap rahasia. Diam adalah adab tertinggi untuk ayat-ayat itu. AI bisa menjadi cermin untuk melihat tafsir-tafsir yang sudah ada.

AI tidak akan pernah bisa menjadi cermin yang memantulkan Kalamullah yang hidup– karena pada akhirnya, Al-Qur’an tidak diturunkan kepada akal; Al-Qur’an diturunkan kepada  qalb (Wa nazzalnahu ‘ala qalbika). AI, sampai kapanpun, tidak akan punya qalb untuk diturunkan kepadanya. (bersambung)

*Pegiat Teologi dan Filsafat Islam

Editor: Jufri Alkatiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Banner Website